Bramma Aji Putra, Staf Humas Kanwil Kemenag DIY

MENDADAK sekelompok orang mendatangi Kiai yang dikenal alim. “Kiai, di tempat kami musim paceklik begitu panjangnya, apa yang harus kami lakukan?” Kiai menjawab singkat, “Perbanyak istighfar.” Kelompok ini langsung pulang.

Berganti pasangan suami-istri datang. “Kiai, sudah lama kami menikah tapi belum juga dikaruniai momongan, apa yang harus kami lakukan?” Kiai menjawab ringkas “Perbanyak istighfar.”

Tak selang lama setelah pasutri undur diri, datanglah kelompok ketiga. “Kiai, kami sungguh miskin sekali, apa yang harus kami lakukan?” Sang Kiai, lagi-lagi menjawab, “Perbanyak istighfar.”

Terakhir, datanglah kelompok keempat yang mengadukan tentang hujan yang tak kunjung datang. Kiai pun menasihati, “Perbanyak istighfar.”

Tak diduga, keempat penanya tadi berpapasan di jalan. Semua heran kenapa persoalan berbeda, jawabannya sama: perbanyak istighfar. “Kita semua harus kembali ke Kiai, kita tanyakan apakah ini memang benar atau sekenanya saja,” seru seorang di antara mereka.

Begitu sampai, mereka langsung protes. Sang Kiai tetap dengan pandangan teduh berujar, “Apakah kalian kira aku sendiri yang mengatakan itu semua? Tidak. Allah yang mem-beri garansi kepada kita semua,” jawab Kiai seraya menyitir QS Nuh [71]: 10-12 “maka aku katakan kepada mereka “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia senantiasa Maha Pengampun”. Niscaya Dia akan mengirimkan langit (berupa hujan) kepada kamu dengan lebat, dan melapangkan harta serta anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai”.

Membaca kisah di atas membuat kita semakin sadar, bahwa Allah pasti mencukupkan keperluan hamba-Nya. Boleh jadi, Allah memberikan kepada kita ujian berupa paceklik, belum dikaruniai anak, miskin dan kemarau berkepanjangan karena Dia merindukan kita. Rindu dengan rintihan doa dan pengakuan dosa yang pernah kita lakukan. Kita mungkin kerap melakukan dosa yang itu tak disengaja. Dalam tutur kata yang mungkin menyakiti tetangga, tulisan yang begitu tajam dan memicu kemarahan, belum lagi tindak-tanduk keseharian yang kurang berkenan di hati orangtua kita.

Kesediaan kita untuk terus senantiasa beristighfar, melanggengkan permohonan ampun kepada Allah adalah salah satu cara paling tepat memohon pertolongan kepada-Nya. Tanpa perlu kita bersuara memerlukan apa. Wallahu a’lam bishshowab. q- o

MUTIARA JUMAT, “KEDAULATAN RAKYAT” HALAMAN 10, JUMAT WAGE,  25 NOVEMBER 2016
( 24 SAPAR 1950 )

 

Related Post

 

Tags: