Anton Prasetyo SSos I, Pemerhati Sosial, Studi S2 KPI UIN Yogyakarta.

BAHAGIA itu sederhana. Itulah kira-kira kesimpulan sederhana atas fenomena demam ‘telolet’ yang merambah hingga tingkat internasional. Tak disangka, kegemaran anak-anak menghadang bus antarprovinsi dalam rangka ‘meminta’ sopir agar membunyikan klakson dengan kalimat: ‘om telolet om’ menjadi media peregang penat paling populer sejak Rabu (21/12). Bukan hanya anak-anak Indonesia khususnya Jawa, melainkan para tokoh internasional pun ikut merasa girang atas ‘buah karya’ anak-anak bangsa ini.

Siapa tak kenal dengan William Grigahcine yang akrab disapa DJ Snake (seorang DJ dan produser rekaman berkebangsaan Perancis) dan Donald Trump (Presiden Terpilih Amerika Serikat)? Dalam akun twitter Trump, DJ Snake memberikan komentar ‘om telolet om’. Komentar ini pun mampu membuat netizen lain penasaran akan makna ‘om telolet om’. Masyarakat internasional pun mulai akrab dengan kata ‘om telolet om’ dan kalimat ini menduduki peringkat pertama di trending topic dunia.

Kreativitas
Fenomena telolet go international patut menjadi perhatian bagi seluruh anak bangsa. Telolet menjadi satu fakta bagaimana sesuatu yang dipoles dengan kreativitas mampu menjadikan hal negatif menjadi positif dan diterima mayoritas masyarakat. Selama ini, klakson merupakan suara yang cukup dibenci masyarakat. Bahkan, klakson yang berfungsi sebagai alat keselamatan berkendaraan ini dianggap (dan dirasakan) sebagai salah satu polusi suara bagi masyarakat awam. Bunyi klakson hanya menjadi penting bagi pengguna jalan raya.

Namun klakson telolet mampu mengubah citra negatif alat keselamatan berlalu lintas menjadi suatu media hiburan masyarakat yang merakyat. Tentu, kehadirannya tak cukup hanya dengan mengucapkan mantra bim salabim. Konon, kisaran tahun 2002-2004, salah satu owner Perusahaan Otobus (PO) Indonesia tertarik dengan suara klakson bus atau truk kendaraan besar yang ada di negeri Arab Saudi. Ia pun membeli klakson tiga lubang tersebut untuk dibawa ke Indonesia dan dipasang di busnya. Seiring dengan berjalannya waktu, suara klakson nyleneh itu pun menjadi ciri khas bus bersangkutan. Tentu ada sebagian masyarakat yang menyambut gembira, dan merasa nyaman dengan kehadiran suara khas klakson tersebut. Sebagian yang lain, ada masyarakat yang menolak karena suaranya dinilai mampu membuat bising. Bahkan, pihak perusahaan pun memberikan imbauan kepada para sopir bus agar tidak membunyikan klakson nylenehnya di sembarang tempat.

Selanjutnya banyak perusahaan otobus lain yang turut mengganti suara klakson armadanya dengan merujuk suara khas bus dengan klakson khas tersebut. Meski tetap merujuk pada suara klakson yang dibeli dari Arab Saudi, para perusahaan otobus lain tentunya juga tetap harus berkreasi. Mereka memberi inovasi baru sehingga tidak seratus persen menjiplak yang telah ada. Beragam suara klakson bus pun bermunculan hingga menarik perhatian masyarakat. Anak-anak SD pun berhasil menjadi pelopor promosi kreativitas para perusahaan otobus dalam negeri hingga go international.Mereka memanfaatkan sosial media (sosmed) untuk mengunggah aktivitas ceria menghadang bus dalam rangka meminta para sopir bus mem-bunyikan klakson unik hasil kreasinya.

Nilai-nilai Positif
Kini, kreativitas anak bangsa tersebut telah menjadi trending topic unggulan kelas dunia. Fenomena ini tentu memiliki nilai positif yang tak ditemukan pada peristiwa-peristiwa lain. Setidaknya ada dua hal positif yang dapat dipetik. Pertama, fenomena om telolet ommampu membuka mata masyarakat internasional bahwa kebahagiaan dapat diraih (bahkan) dengan cara sederhana. Kedua, om telolet om menjadi bukti bahwa kreativitas harus diciptakan seluruh komponen bangsa.

Kita mesti bersyukur dengan adanya fenomena yang mampu membahagiakan masyarakat dunia. Lebih-lebih, karya sederhana yang cukup diminati dunia. Sehingga, tak berlebihan ketika kita mengamini komentar akun twitter B ?@theinternetbae yang berbunyi: “Jangan sampai om telolet om diklaim oleh negara tetangga maka dari itu om tolong om @jokowi jadikan tanggal 21/12 sbg libur hari telolet nas”. Tentu bukan hari libur nasional yang menjadi titik tekan, namun perhatian atas kreativitas positif anak bangsa yang penuh nilai positif dan diterima oleh masyarakat internasional. q- o

Kedaulatan Rakyat, Sabtu Pon, 24 Desember 2016

Related Post

 

Tags: