Anton Prasetyo S.Sos.I., Studi S2 KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Yogyakarta

DAKWAH sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW mestinya menggunakan  qoulan kariman (perkataan mulia) serta sifat hikmah (bijaksana). Selain itu, satu hal yang mesti diingat adalah bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Setiap manusia berhak untuk menentukan agamanya masing-masing. Sehingga, toleransi beragama menjadi salah satu pintu menggapai kerukunan antar-umat beragama.

Menjadi kebutuhan bagi seorang dai mengajak orang lain untuk memeluk Agama Islam serta mengajarkan ajaran yang ada di dalamnya. Seorang muslim yang mampu mengajak orang lain melakukan kebaikan, maka dirinya akan mendapatkan pahala sebagaimana orang lain mengerjakan kebaikan.

Raja Jawa
Sekaten adalah salah satu model dakwah yang digunakan oleh Raja Jawa di Solo dan Yogyakarta dalam rangka mengajak masyarakat memeluk Agama Islam. Konon, sekaten berasal dari Bahasa Arab, yakni sahadatain (perkataan la ilaha ilallah muhammadur rasulullah yang berarti  tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya). Sahadatain adalah dua kalimat sahadat (kesaksian) yakni sahadat tauhid (mengesakan Tuhan) dan sahadat rasul (meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah). Kedua kalimat sahadat ini adalah gerbang pertama bagi setiap orang yang ingin memeluk agama Islam.

Konon, sahadatain menjadi tiket memasuki kawasan sekaten (alun-alun lor Kraton Solo dan Yogyakarta). Di dalam sekaten, warga bisa menonton wayang kulit yang saat itu masih menjadi salah satu hiburan utama masyarakat. Dan, tontonan wayang kulit tersebut juga menjadi media dakwah untuk mengajak warga memeluk Islam serta memberi pemahaman mengenai ajaran-ajaran di dalamnya. Masyarakat yang saat itu masih awam dengan ajaran Agama Islam pun pelan-pelan mulai paham dengan ajaran agama baru  dan sedikit demi sedikit mulai tertarik untuk benar-benar memeluknya.

Kala itu, warga tidak merasa tertekan ataupun terpaksa untuk memeluknya.  Mereka  memeluk Agama Islam atas dasar kesadaran diri, betapa dirinya perlu untuk memeluk Agama Islam demi kenyamanan hidup di dunia hingga akhirat. Ajaran dakwah yang disampaikan para dai dengan media seni dan segala macam kebutuhan masyarakat saat itu benar-benar menjadi bahan renungan warga. Sehingga akhirnya bisa menentukan pilihan untuk memeluk agama Islam.

Kenyataan betapa dakwah bil hikmah sebagaimana yang telah dilakukan oleh para dai pada masa awal Kerajaan Mataram  lambat laun mulai pudar. Kini, banyak orang  Muslim (yang mengaku) sebagai dai namun tidak pernah mencerminkan sifat hikmah sedikit pun. Bahkan dalam berdakwah justru menyebarkan permusuhan. Mereka mudah mengafirkan muslim lain karena berbeda pandangan. Mereka kadang melakukan aksi kekerasan dengan dalih ‘dakwah’.  Kondisi ini sangat jauh dari sifat hikmah yang mesti dimiliki oleh setiap dai.

Maulid
Meski demikian sifat hikmah yang harus dimiliki seorang dai jangan sampai mengendorkan semangat memperjuangkan agama. Jangan sampai hanya karena adanya kata-kata ‘hikmah’, maka seorang dai terlalu lentur. Akibatnya, dakwahnya sekadar hiburan bahkan mungkin sarat kemaksiatan. Dalam sekaten yang awalnya menjadi media dakwah para raja pun harus mendapat perhatian penuh. Pertanyaannya, masihkah sekaten saat ini menjadi media dakwah oleh para dai?

Sekaten yang penuh dengan gegap gempita tentu menjadi syiar tersendiri bagi Agama Islam. Betapa tidak, dalam rangka memperingati maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW, seluruh warga Yogyakarta dan Solo selalu disuguhi pasar malam selama sebulan penuh. Begitu menariknya kegiatan ini hingga menyedot perhatian warga lain, termasuk para wisatawan asing. Lebih-lebih, dalam sekaten juga terdapat peragaan berbagai macam hiburan masyarakat. Semua ini mampu menarik minat masyarakat dunia untuk ikut meramaikan keberadaan sekaten.

Harapannya, semoga sekaten tetap menjadi media dakwah yang santun. Jangan sampai media dakwah ini justru menjadi lahan berbuat maksiat masyarakat, dengan berbagai macam bentuk perbuatan tercela. q- k

Kedaulatan Rakyat, 2 Desember 2016 (2 MULUD 1950)

Related Post

 

Tags: