Bramma Aji Putra, Staf Subbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY

SYAHDAN, beberapa hari pascawafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq mendatangi istri Nabi. Siti Aisyah yang tak lain adalah putri Abu Bakar mendapat pertanyaan dari sang ayah.
“Wahai putriku, istri Nabi, perbuatan apa yang selalu dilakukan kekasih Allah itu tiap pagi seperti ini?” tanya Abu Bakar.

Hal ini dilontarkan Abu Bakar saking cintanya kepada sosok Rasul penutup risalah kenabian itu. Siti Aisyah yang ditanya ayahandanya menjawab, “Wahai ayahku, tiap pagi Rasul selalu membawa semangkuk kurma dan diberikan kepada perempuan buta tua di belakang Pasar Madinah.”

Tanpa berpikir panjang, Abu Bakar melakukan hal yang sama. Segera ia membawa kurma dan mendatangi perempuan yang dimaksud. Tiba di rumah yang dituju, hardikan langsung diterima Abu Bakar. “Kemana saja engkau, sudah beberapa hari ini tidak mengunjungiku? Rupanya kamu telah melupakan aku?!” bentak perempuan tersebut. Abu Bakar hanya diam membisu, seraya memberikan kurma kepada si nenek.

“Apa-apaan ini?! Biasanya kau mengunyahkan terlebih dahulu baru memberikan kepadaku. Apa kamu lupa bahwa gigiku telah tanggal semua?!” bentak nenek kali kedua.

Abu Bakar masih diam seribu bahasa. Tapi tanpa terasa, bulir-bulir kristal bening mulai terlihat di sudut kelopak matanya. Abu Bakar lantas mengunyah kurma, usai dirasa sudah lembut, ia memberikan kepada nenek.

Si nenek mulai mengunyah dan lagi-lagi membentak, “Apa-apaan ini, kenapa kunyahanmu beda dengan biasanya, kunyahanmu hari ini sangat kasar.” Si nenek pun terus meracau, “Oh ya, apa kamu ingat dengan ceritaku tentang Muhammad yang gila itu?! Yang berdakwah kepada umat untuk meninggalkan agama leluhur moyang kita? Dasar Muhammad gila!!!”

Abu Bakar tak kuasa, pecah tangisnya. Sambil terisak, Abu Bakar berbisik lembut, “Nenek, engkau memang benar bahwa aku bukan orang yang biasa datang kepadamu, mengunyahkan kurma dengan lembut seperti kesukaanmu. Aku temannya, dan orang yang biasa mendatangimu adalah Muhammad, orang yang kau tuduh gila dan tiga hari lalu meninggal dunia.”

Si nenek tercekat, membisu dan langsung menangis. Seolah tak percaya ada sosok insan yang memiliki akhlak lembut luar biasa seperti Muhammad. Di hadapan Abu Bakar, si nenek lantas mengucap dua kalimat syahadat, meninggalkan ajaran paganisme leluhurnya. Maka sungguh benar sosok Nabi memiliki misi untuk innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq (aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq).

Berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita tentu hal yang wajar dan memang demikian adanya. Pertanyaannya, bersediakah kita untuk berbuat baik kepada orang yang acap menyakiti kita? Tentu jawabannya ada di relung hati terdalam. Dan Kanjeng Nabi telah memberikan teladan nyata kepada kita umatnya. Wallahu a’lam bishshowab.(*) – o

Mutiara Jumat KR, JUMAT LEGI,  6 JANUARI 2017 ( 7 BAKDAMULUD 1950 )

Related Post

 

Tags: