ardi-sahami-membagikan-pengalamannya-di-depan-calon-alumni-fdk-uin-suka-jogja-feb-2017

Ardi Sahami, owner Sempe Arum Manis, yang juga merupakan alumni FDK, membagikan pengalamannya kepada calon wisudawan periode II tahun akademik 2016/2017, Senin (20/2), di ruang teatrikal FDK.

Ardi Sahami, alumni FDK UIN Sunan Kalijaga, menggeluti usaha sempe arum manis hingga beromzet 300 juta per bulan berawal dari nol. Ardi menceritakan pengalamannya dari awal merintis usaha  sampai saat ini, kepada calon alumni FDK dalam kegiatan ‘serah terima mahasiswa wisuda periode II tahun akademik 2016/2017’, pagi tadi (20/2), di ruang teatrikal FDK.

Sempe arum manis yang dipasarkannya melalui supermarket-supermarket adalah makanan ringan tempo dulu, berkemasan plastik atau mika bening, dengan cap warna merah, menggunakan merek Haji Ardi. Memulai dari nol, menjadi sales, hingga bisa memproduksi sendiri makanan bernuansa jadul tersebut.

Pengalaman berusaha, cerita Ardi, dimulai dari saat kuliah. Ia kuliah sambil bekerja menjual mie rebus di malam hari. Sedangkan siangnya bekerja pula di tata usaha pondok Wahid Hasyim.

Perbedaan peran tersebut memberikan tekanan batin tersendiri baginya. “Rasanya sedih, tapi tetap harus dilakukan,” tekadnya.

Hingga lulus kuliah PPAI –nama prodi KPI jaman itu–, melamar PNS pun dijalani. Namun tidak berhasil.

Setelah itu, Ardi sempat menjalani pekerjaan sosial dengan gaji seadanya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, masuklah ia ke dunia sales.

“Muhsin Kalida bilang, ‘nek mengharapkan gaji, ra cukup’ lalu dia menawari saya untuk menjual kacang atom,” katanya.

Mulailah ia menyambi menitip ke warung-warung. Tentu dengan pekerjaan sales bagi seorang lulusan sarjana menjadi tekanan tersendiri. Muncullah pemberontakan egonya.

Meski demikian, tetap dijalaninya. Hingga setelah masuk lebih dalam dunia sales, ternyata banyak sales adalah orang yang telah di-PHK berpendidikan insinyur, mantan konsultan, dll.

Tekadnya pun mantap ketika berbarengan dengan salah satu dosennya yang juga memasok barang ke suatu toko. “Saya semakin mantap, setelah bertemu pak Abdullah,” ungkapnya.

Akhirnya bertemulah ia dengan seorang sales sempe, dan Ardi pun turut memasarkan sempe, sampai bisa membangun tempat produksinya sendiri.

“Jangan grogi, jangan malu,… apalagi sekarang jualan apa-apa mudah, ada media online,” tambahnya.

Biasanya, lanjut Ardi, orang mau memulai usaha itu, ada niat, ada ide, namun actionnya kurang.

Kunci keberhasilan lainnya yang ia percayai adalah kekuatan untuk fokus pada satu hal. Dengan fokus, laser bisa melubangi apapun. “Kegagalan biasanya terjadi karena tidak maksimalnya potensi kita,” kata Ardi.

Perbincangan semakin menarik, ketika Ardi memotivasi para calon alumni untuk berani menikah tanpa menunggu harus mapan.

“Anda menikah jangan menunggu pekerjaan, saya nikah saat kuliah, belum bekerja,” ungkapnya.

Dalam slide presentasinya dijelaskan, jika standar mapan itu punya rumah (350 juta), mobil (150 juta), resepsi (100 juta), maka setidaknya musti ada uang 600 juta.

Dengan perkiraan gaji 3 juta per bulan, maka baru bisa nikah dalam waktu 200 bulan (600 juta/3 juta= 200). Alias butuh waktu 16 tahun 8 bulan. Itu ditambah tidak boleh makan.

Di akhir perbincangannya, Ardi memberi tantangan untuk para calon wisudawan berani menjadi reseller di kotanya masing-masing. “Silahkan lihat di website sempearumanis.com,” ujarnya. (ahmd)

rame-rame-menikmati-sempe-sambil-mendengarkan-haji-ardi

Rame-rame mencicipi Sempe Arum Manis sambil menyimak penyampaian Ardi Sahami, Senin (20/2), di teatrial FDK UIN Suka Jogja.

produk-sempe-arum-manis-haji-ardi

Produk Sempe Arum Manis, dibagikan kepada calon alumni wisuda periode II tahun akademik 2016/2017, Senin (20/2), di teatrikal FDK UIN Suka Jogja.

Slide Presentasi Nikah Nunggu Mapan, Ardi Sahami, Senin (20/2), di teatrikal FDK UIN Suka Jogja.

Slide Presentasi Nikah Nunggu Mapan, Ardi Sahami, Senin (20/2), di teatrikal FDK UIN Suka Jogja.