Alumni KPI, Dede Ariyanto hadir sebagai pembicara Kuliah Umum yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di Teatrikal Fakultas Dakwah, Senin (13/3).

Alumni KPI, Dede Ariyanto hadir sebagai pembicara kuliah umum Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Senin (13/3).

Sekitar 200 mahasiswa mengikuti Kuliah Umum yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga di Teatrikal FDK, Senin (13/3).

Kuliah umum yang bertemakan Optimalisasi Media Baru sebagai Media Dakwah dan Kemandirian Sosial-Religius ini diikuti oleh dua angkatan prodi KPI yaitu angkatan 2015 dan 2016. Panitia menghadirkan alumni KPI, Dede Aryanto, yang telah berpengalaman memaksimalkan sosial media untuk meraup keuntungan.

Acara tersebut dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dr. H.M. Kholili. Dilanjutkan sambutan oleh Kaprodi KPI, Drs. Abdul Rozak, M.Pd.

Ketika memberi sambutan, Abdul Rozak mengatakan bahwa saat ini terdapat 160 juta jiwa menggunakan media baru seperti sosial media seperti instagram, facebook, setiap harinya. “Sebagai mahasiswa KPI, harus mampu mengoptimalkan media baru ini sebagai ladang dakwah,” imbuh Rozak.

Hal yang menarik, kuliah umum kali ini ‘dibanjiri’ hadiah berupa powerbank dan flashdisk yang disiapkan pembicara. Hadiah tersebut dibagikan kepada peserta yang berani maju dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemateri. Sehingga, hal ini mengundang antusias peserta dalam mengikuti kuliah umum yang dipandu salah satu dosen KPI, Dra. Hj. Evi Septiani TH, MSi. Kuliah umum pun berjalan sangat interaktif.

Dede bercerita, selain sebagai freelancer, ia juga menjadi owner sebuah konveksi di Jakarta. Ia pun menceritakan pengalamannya menjadi seorang youtuber. Dalam kesempatan tersebut, Dede menampilkan berbagai karyanya berupa video yang pernah diunggah di televisi nasional dan video promosi lainnya.

Dede mengaku dengan menjadi seorang freelancer, dia mendapat keuntungan jutaan rupiah. Selain itu, profesi ini juga menyenangkan sehingga mudah dijalani. “Kita harus mencari passion yang kita miliki dan tekuni passion tersebut,” ujar Dede di sesi akhir kuliah umum. (Ahyan Putra/*)