Prof Dr Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

NEGARA Israel dideklarasikan tahun 1948. Meski pembentukan negara Israel ditentang keras negara-negara Arab tetangganya. Setelah pemerintahan Israel beroperasi pada tahun 1948, komunitas Arab yang tinggal di negara Yahudi itu (yang dikenal sebagai Arab-Israel) merupakan keturunan dari 160.000 warga Palestina, jumlah mereka mencapai 20% dari seluruh penduduk Israel. Sekitar80% penduduk Arab-Israel adalah muslim, sisanya merupakan warga Kristen dan Druze.

Hidup di bawah pendudukan, tekanan dan kekuasaan Israel, rakyat Arab-Palestina sering mengalami perlakuan keras, diskriminasi dan kezaliman tentara Israel. Perseteruan Arab-Israel mencapai klimaksnya dengan Perang Arab-Israel tahun 1967 yang berakhir dengankekalahan negara-negara Arab. Baru-baru ini Parlemen Israel (Knesset) menyetujui undang-undang yang melegalkan pembangunan pemukiman baru Yahudi di Tepi Barat dan 6.000 unit rumah akan dibagun di permukiman baru itu. Rakyat Palestina bereaksi dan menolak politik ekspansif Israel, tetapi mereka sama sekali tidak berdaya menentang ambisi politik Israel.

RUU Muazin
Selain politik ekspansionis yang ambisius, Israel juga menerapkan politik rasis terhadap rakyat Palestina terutama terkait kumandang azan yang menggunakan pengeras suara. Komite Menteri Legislasi Israel memberikan persetujuan rancangan baru RUU Muazin. RUU itu akan melarang masjid menggunakan pengeras suara karena dinilai menimbulkan polusi suara. Dibahas di Knesset, RUU itu tinggal tiga tahapan lagi untuk disahkan. Media Israel menyebut, larangan penggunaan pengeras suara itu akan diberlakukan di Yerusalem antara pukul 11.00-07.00. Mordhay Yogev dari Knesset Israel dan Koalisi MK David Bitan, adalah salah seorang yang mengajukan RUU tersebut. Mereka mengklaim, panggilan azan terutama pada pagi hari mengganggu tidur ratusan ribu orang Yahudi.

PM Israel Benjamin Netanyahu ikut menyetujui RUU tersebut seraya mengatakan bahwa ia telah berkali-kali mendengar keluhan tentang kebisingan suara muazin. Sidang parlemen Israel diwarnai keributan saat sejumlah anggota memberikan persetujuan awal terhadap RUU tersebut. Beberapa anggota parlemen keturunan Arab secara demonstratif merobek salinan RUU itu. Ayman Odeh, pemimpin Partai Joint List, keluar dari ruangan sesaat setelah merobek salinan RUU. RUU masih akan dibahas lebih lanjut sebelum diputuskan secara final di parlemen.
Dalam RUU tersebut, penggunaan pengeras suara yang ‘suaranya terlalu keras dan tidak masuk akal serta cenderung mengganggu’ setiap saat di sepanjang hari dilarang.

RUU itu mempunyai dua versi dan disetujui kabinet PM Benjamin Netanyahu pada bulan November 2016. Salah seorang pendukung RUU ini, Motti Yogev dari Partai Jewish Home, mengatakan RUU itu bagian penting dari legislasi sosial yang memungkinkan orang Arab dan Yahudi untuk bersantai selama jam istirahat. Para pengritik menilai, RUU ini merupakan ancaman terhadap kebebasan beragama.

“Suara muazin tidak pernah menyebabkan kebisingan lingkungan. Ini adalah soal ritual agama Islam, dan kami tidak pernah campur tangan dalam setiap upacara keagamaan Yahudi di parlemen ini. Anda telah melakukan tindakan rasis,” kata Ahmed Tibi dari partai yang didominasi keturunan Arab dalam perdebatan di parlemen. “Intervensi Anda sangat menyerang Muslim,” tambahnya.

Selanjutnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menilai RUU ini akan membawa bencana bagi Yerusalem. Wasekjen Liga Arab, Ahmed Ben Helli, menilai RUU itu merupakan provokasi Israel yang sangat berbahaya, dapat disebut sebagai ancaman terhadap kebebasan beragama. Sementara itu, Lembaga Pendidikan dan Badan Pemerintahan Mesir, Darul Ifta, mengutukí RUU itu. Menteri Wakaf dan Urusan Agama Palestina, Yousif Idais, menilai RUU itu merupakan upaya untuk memanaskan lagi konflik Israel-Palestina.

Baru Sekarang
Menjadi pertanyaan, mengapa baru sekarang ini pemerintah Israel menggulirkan RUU tentang azan itu. Jauh sebelum negara Israel didirikan pada tahun 1948 dan sejak didirikannya negara Israel tahun 1948 sampai sekarang,muslim Palestina sudah terbiasa mengumandangkan azan di masjid-masjid. Dalam kurun waktu yang panjang itu, kumandang azan lewat pengeras suara tidak diutak atik. Mengapa baru sekarang Israel mempersoalkannya. Politik rasis Israel semakin mengental.q- e

Dimuat Kedaulatan Rakyat, Jumat, 17 Maret 2017

Related Post

 

Tags: