FAISAL ISMAIL
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Serangan teror mengguncang beberapa negara Eropa dan negara kita akhir-akhir ini. Sebelum mengulas kasus serangan teror ini, perlu dikemukakan pengertian terorisme itu sendiri.

Dalam kamus otoritatif berjudul The Random House Dictionary of the English Language (New York, 1987, hlm. 1960) terorisme didefinisikan sebagai (1) the use of violence and threats to intimidate or coerce, especially for political purpose; (2) the state of fear and submission produced by terrorism or terrorization. Jadi menurut kamus ini, terorisme adalah (1) menggunakan kekerasan dan ancaman untuk mengintimidasi atau memaksakan kehendak, khususnya untuk tujuan politik; (2) perasaan takut, tunduk dan takluk yang ditimbulkan oleh terorisme atau tindakan teror.

Pelaku teror disebut teroris, yaitu orang atau sekelompok orang yang menganut terorisme. Dapat dikatakan, seorang teroris adalah sekaligus radikalis dan ekstremis. Radikalisme, ekstremisme, dan terorisme adalah paham yang saling terkait satu sama lain dan saling berkelindan. Dalam melakukan gerakan dan serangan, teroris tidak jarang memakai simbol dan misi suci agama atau mengatasnamakan agama dan ada pula yang dimotivasi oleh kepentingan dan tujuan politik yang diperjuangkannya.

Cekaman Xenophobia
Perasaan teroris sering dibayangi oleh “xenophobia,” yaitu “deep-rooted fear towards foreigners” (rasa takut yang mendalam terhadap orang-orang asing atau segala sesuatu yang asing) dan “fear of the unfamiliar“ (rasa takut terhadap orang asing atau sesuatu yang asing). Dalam kamus lain, “xenophobia” diartikan sebagai “fear and contempt of strangers or foreign peoples…. An unreasonable fear, distrust, or hatred of strangers, foreigners, or anything perceived as foreign or different” (perasaan takut dan mencela orang-orang asing ….Perasaan takut, tidak percaya, atau benci yang tidak beralasan terhadap orang-orang asing, atau segala sesuatu yang dipandang sebagai sesuatu yang asing atau berbeda).

Xenophobia tampak pada diri Amrozi, dkk. yang secara mengerikan melakukan peledakan bom di Bali (dikenal sebagai Bom Bali I) pada 12 Oktober 2002. Amrozi, dkk. meledakkan bom di PaddysPub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali, yang menewaskan 202 orang dan melukai/mencederai 209 orang. Kebanyakan korban adalah wisatawan Australia yang sedang menikmati liburan mereka di lokasi wisata tersebut. Amrozi, dkk. juga melakukan peledakan bom juga di dekat Konsulat Amerika yang ada di kawasan tersebut.

Ketiga pelaku Bom Bali I (Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas) sudah dieksekusi mati sesuai vonis pengadilan yang dijatuhkan kepada mereka. Xenophobia juga tampak pada diri teroris yang secara brutal melakukan peledakan bom di di Plaza Sarinah, Jln MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016. Sebanyak 33 orang menjadi korban (25 orang luka-luka dan delapan orang tewas).

Di antara delapan orang yang tewas, empat orang adalah teroris bernama Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, Afif atau Sunakin, dan Ahmad Muhazan (yang terakhir ini merupakan pelaku bom bunuh diri di dalam kedai kopi Starbucks). Empat korban luka merupakan warga asing yang berasal dari Austria, Belanda, Jerman, dan Aljazair. Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror ini.

Jaringan teroris Santoso (pimpinan Mujahidin Indonesia Timur) di Poso lebih mengedepankan motif ideologis-politis. Gerakan Santoso dan gerakan-gerakan terkait di beberapa daerah di Tanah Air atau yang terinspirasi oleh gerakan Santoso lebih menonjolkan motif ideologis-politis karena bertujuan untuk menegakkan syariat Islam (lebih luas lagi: hendak mendirikan khilafah/kekhalifahan Islam). Disinyalir gerakan-gerakan ini mendapat inspirasi dari gerakan kelompok Islamic State of Iraq dan Suriah (ISIS).

Satuan tugas gabungan Polri dan tentara berhasil “menewaskan” Santoso pada Juli 2016 dalam Operasi Tinombala di Poso. Walaupun motif ideologis-politis lebih menonjol, gerakan ini masih juga dibayangi oleh xenophobia, yaitu mencela dan menolak “taghut” (segala sesuatu yang tidak syari , tidak islami, dan tidak ilahiah). Dalam perkembangan terakhir, Densus 88 menembak mati satu terduga teroris di Cilegon (Banten) dan polisi menembak mati enam diduga teroris di Tuban (Jawa Timur).

Teror di Eropa
Akhir-akhir ini serangan teror juga mengguncang beberapa negara di Eropa. Serangan teror yang terbaru terjadi pada 7 April 2017 di pusat perbelanjaan Drottninggatan, Stockholm, Swedia. Teroris menabrakkan truk kepada pejalan kaki yang mengakibatkan empat orang tewas dan 16 orang terluka dalam serangan itu. Dua orang yang diduga teroris ditangkap pihak kepolisian setempat. Pria yang ditahan oleh polisi berusia 39 tahun dan berasal dari Uzbekistan. Truk yang digunakan tersangka adalah hasil curian.

Perdana Menteri Swedia Stefan Lfven mengonfirmasi bahwa insiden itu adalah serangan teroris. Sebelumnya, serangan teror serupa terjadi pada 22 Maret 2017 di London, Inggris, yang menewaskan empat orang dan melukai lebih dari 20 orang. Seorang penyerang menabrakkan mobil ke pejalan kaki di Westminster Bridge, London.

Seorang polisi yang menjaga Gedung Parlemen tewas setelah ditikam oleh seorang tersangka pelaku serangan. Pelaku serangan juga tewas setelah ditembak oleh polisi. Perdana Menteri Inggris Theresa May menggambarkan pelaku serangan itu sebagai “sakit dan bejat” dan PM Inggris tersebut memuji keberanian para polisi dalam menghadapi serangan tersebut. Pada 14 Juli 2016, serangan teror serupa juga terjadi di Nice, Prancis, yang menewaskan 86 orang dan melukai puluhan orang lainnya (18 orang di antaranya dalam kondisi kritis).

Sebuah truk dengan kecepatan tinggi ditabrakkan ke kerumunan orang yang sedang menonton pertunjukan kembang api dalam upacara perayaan Hari Nasional Prancis (Hari Bastille). Pengemudi truk ditembak mati oleh polisi setelah melajukan truknya sejauh sekitar dua kilometer di Jalan Promenade des Anglais.

Aparat keamanan Prancis menemukan kartu identitas seorang pria Prancis keturunan Tunisia yang berusia 31 tahun di dalam truk yang ditabrakkan itu. Pemimpin sejumlah negara, termasuk Presiden RI Joko Widodo, mengutuk keras serangan teroris itu dan menyatakan solidaritas dengan Prancis. Indonesia sudah lebih maju dalam memberantas terorisme.

Pemerintah Indonesia pada tahun 2003 mengesahkan Undang- Undang Nomor 15/2003 tentang Terorisme. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebuah badan yang khusus memberantas terorisme, dibentuk pada 2010 dan dibentuk pula Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Walaupun riak-riak aksi terorisme masih juga terjadi, upaya pemerintah tampak membuahkan hasil. Bangsa Indonesia bersama masyarakat internasional harus bekerja sama untuk terus mencegah, melawan, dan memberantas terorisme.

Koran Sindo, 23 April 2017

http://koran-sindo.com/news.php?r=1&n=4&date=2017-04-13

sumber gambar: https://daily.jstor.org/defining-terrorism/

Related Post

 

Tags: