YOGYAKARTA  — Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Doktor Waryono, menyatakan korupsi sebagai salah satu perbuatan yang masuk kategori dosa besar. “Karena termasuk dosa besar, orang yang meninggal dalam keadaan korupsi jangan disalati,” kata Waryono saat membuka seminar nasional bertajuk “Membangun  Generasi Baru yang Berintegritas dan Antikorupsi” di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kemarin.

Tindakan tersebut, menurut Waryono, merupakan bentuk sanksi sosial terhadap koruptor. Sanksi sosial, kata dia, bisa memberikan efek jera lebih besar ketimbang sanksi berupa hukuman penjara. “Terutama jangan disalati oleh ulama atau pun orang-orang yang mempunyai nama besar,” katanya.

Waryono mengatakan ihwal korupsi sebagai dosa besar tercantum dalam kitab kuning Al-Kabair karya Imam Az Zahabi tentang 70 dosa besar. Waryono mengaku prihatin lantaran banyak koruptor yang mempunyai latar pendidikan tinggi. “Banyak koruptor yang gelarnya doktor, profesor,” ujarnya.

Karena itu, kata dia, selain pemberian sanksi sosial, perlu dilakukan upaya pencegahan korupsi yang dipelopori warga, terutama di lingkungan perguruan tinggi. Sebab, korupsi bisa muncul dari proses belajar.

Dalam seminar tersebut, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Basaria Panjaitan berharap mahasiswa bisa menjadi kepanjangan tangan KPK untuk mengatakan “tidak pada korupsi” di tengah masyarakat. Mahasiswa, kata dia, merupakan generasi muda yang mempunyai pemikiran maju dan cerdas. “Ingat, KPK lahir juga dimotori oleh mahasiswa. KPK itu anak reformasi,” katanya.

KPK, Basaria melanjutkan, menaruh harapan besar pada mahasiswa, dosen, dan warga kampus lainnya untuk memberikan contoh sikap antikorupsi. Sebab, hampir semua lembaga pendidikan di Indonesia telah dihinggapi perilaku korupsi. “Dosen harus jadi contoh mahasiswanya. Jangan beri nilai lebih karena menerima sesuatu dari mahasiswanya,” ucapnya.

Pembicara lainnya, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki, mengatakan diperlukan terobosan untuk meng giat-kan semangat gerakan antikorupsi di Indonesia.
“Apalagi koruptor kini meneror para aktivis gerakan antikorupsi dan melakukan pelemahan terhadap KPK,” katanya.

Selain melalui dukungan masyarakat sipil dan perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Rozaki mengusulkan terobosan diambil lewat “demokrasi  digital”, yaitu dengan mengunggah foto atau video tindak korupsi di lingkungan masing-masing ke media sosial. “Jadikan 10 persen telepon pintar Anda untuk berperan mengontrol pemerintah,” kata Rozaki.

Dia mengatakan terobosan dan semangat pencegah-an itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai integritas. “Tegakkan integritas (diri sendiri dan komunitas) dulu, baru jadi pejuang antikorupsi.” ● PITO AGUSTIN RUDIANA

Koran Tempo, Kamis, 13 April 2017