euthanasia – 123rf.com

Prof Dr Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Program Magister Studi Islam UII Yogyakarta.

TSUNAMI dengan kekuatan sangat dahsyat mengoyak Aceh pada 26 Desember 2004. Akibat guncangan amat keras ini, Aceh rusak amat parah dan porak poranda, banyak rumah, fasilitas umum dan harta benda yang hilang terhanyut gelombang tsunami. Tsunami Aceh telah mengakibatkan tidak kurang dari 130.736 orang tewas, sejumlah orang cedera (luka-luka), 37.063 orang hilang dan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Tsunami Aceh meninggalkan duka nestapa lain bagi Berlin Silalahi (46 tahun). Berlin adalah seorang korban yang sampai sekarang ini masih sakit-sakitan, lumpuh dan belum juga sembuh dari penyakitnya walaupun sudah dirawat secara medis dan diberikan pengobatan alternatif. Lama ia tinggal di hunian sementara Barak Bakoy Aceh Besar, dan hidupnya mengandalkan bantuan dari sesama korban tsunami yang tinggal di barak itu. Kondisi Berlin menjadi lebih menyedihkan lagi karena barak hunian sementara itu sudah dibongkar dan penghuninya digusur oleh Pemerintah Aceh Besar. Dalam kondisi sakit kronis dan lumpuh parah, Berlin tidak berdaya dan tidak mampu menafkahi keluarganya.

Kondisi tragis Berlin Silalahi mendorong dirinya mengajukan permohonan suntik mati (euthanasia) ke Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh. Safaruddin (kuasa hukum Berlin yang juga Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh/-YARA) mengatakan, permohonan euthanasia dari Berlin itu sudah didaftarkan di PN Banda Aceh pada Rabu (3/5) lalu, atas dasar kemauan dan kesadaran Berlin sendiri. Ratna Wati (istri Berlin) menuturkan, suaminya atas kemauan sendiri mengajukan euthanasia ke PN Banda Aceh sejak mereka diusir dari Barak Bakoy dan mereka tidak tahu akan bertempat tinggal di mana lagi.

Di Belanda dan beberapa negara Eropa, UU Euthanasia sudah diberlakukan. Pasien yang penyakitnya sudah kronis, parah dan tidak ada harapan lagi untuk disembuhkan diperbolehkan mengajukan permohonan euthanasia. Melalui sistem yang sudah diprogram di komputer, dokter dalam hitungan menit melaksanakan euthanasia terhadap diri pasien dan pasien itu pun mati tanpa merasa sakit atau nyeri. Sang pasien pun meninggal dunia dan lepaslah dia dari rasa sakit akibat penyakit yang dideritanya selama ini. Di Barat, euthanasia disebut pula assisted murder (pembunuhan yang dibantu) atau mercy killing (pembunuhan yang nyaman). Tidak semua negara Barat menyetujui euthanasia. Praktik euthanasia menimbulkan isu etis dan legal di negara-negara Barat. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Di Indonesia
Bagaimana di Indonesia? Di Indonesia belum ada UU Euthanasia yang menjadi dasar acuan dan payung hukum bagi dokter untuk melaksanakan suntik mati bagi pasien yang memintanya atas dasar kemauan sang pasien. Dalam kasus Berlin Silalahi, Eddy (Humas PN Banda Aceh) mengatakan, pengadilan tidak boleh menolak permohonan euthanasia yang diajukan oleh masyarakat, termasuk permohonan suntik mati yang diajukan oleh Berlin yang menjadi korban tsunami Aceh. Permohonan Berlin, kata Humas PN Banda Aceh itu, akan disampaikan ke pengadilan dan nantinya majelis hakim yang akan memutuskan apakah permohonan tersebut diterima atau tidak. Ini berarti, permohonan euthanasia yang diajukan oleh Berlin itu masih teka-teki, belum jelas betul apakah dikabulkan atau ditolak. Dalam konteks ini, saya teringat kepada sikap dokter yang tidak mau mengebiri predator seksual terhadap anak walaupun hukum kebiri sudah diberlakukan dan diperbolehkan oleh undang-undang.

Dalam perspektif Islam (juga agama-agama lain yang saya pahami), otoritas mutlak dan takdir kematian manusia adalah hak prerogatif Tuhan. Tuhanlah yang secara mutlak menentukan kematian itu dan apabila saatnya sudah sampai, ajal kematian tidak bisa ditunda atau diajukan. Euthanasia berarti mempercepat kematian seorang pasien. Seandainya euthanasia tidak dilaksanakan, pasien tersebut masih hidup dan belum saatnya untuk meninggal dunia.

Dengan melakukan euthanasia, manusia (dokter) sudah mengambil alih hak prerogatif dan otoritas mutlak Tuhan dalam menakdirkan kematian manusia (pasien)? Ini pertanyaan teologis saya. Harap Anda berbagi pemikiran dan jawaban. q- e

Kedaulatan Rakyat, Jumat Pahing, 12 Mei 2017, 15 Ruwah 1950, 15 Sya’ban 1438

Related Post

 

Tags: