Bramma Aji Putra, Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY.

SALAH satu untaian hikmah dari Syaikh Ibn Atha’illah al-Iskandary dalam magnum opusnya Kitab Al-Hikam adalah ihalatuka al-a’mala ‘ala wujud al-faraghi min ru’unat al-nafs (menunda amal karena menunggu datangnya waktu luang adalah tanda kebodohan jiwa).

Ulama legendaris asal Mesir itu seolah mengingatkan, ketika di antara kita ada niat ingin berbuat baik atau beramal, maka segera lakukan. Tak perlu menunda, tak perlu menunggu waktu luang tiba.

Mengerjakan salat misalnya. Saat Adzan berkumandang, pilihan untuk menghentikan segala bentuk aktivitas kesibukan dunia adalah yang paling utama. Sebab kesibukan di dunia -disadari atau tidak- akan terus disusul aneka kesibukan lainnya yang seolah tiada habisnya. Karena rumus dunia berlaku: kesibukan hidup akan selalu menyusul satu sama lain. Dan salat adalah sebuah jeda kehidupan. Ia adalah rehat pelepas lelah setelah berkejaran dengan urusan dunia.

Begitu juga dengan shodaqoh. Tatkala ada keinginan yang berbisik dalam hati bahwa kita ingin mengeluarkan shodaqoh, segera lakukan. Jangan tunggu nanti, esok atau lusa. Segera lakukan saat ini juga. Karena kita yakini, uang yang digunakan untuk shodaqohjustru akan abadi, takkan hilang ditelan zaman.

Pula dalam hal menulis sebagai salah satu strategi berdakwah. Ada satu cerita menarik yang dikisahkan KH Mustofa Bisri dari Rembang. Gus Mus, begitu sapaan akrabnya, bercerita bahwa dulu ayahnya yakni KH Bisri Mustofa pernah ditanya rahasia sukses menulis banyak kitab. Kiai Bisri memang dikenal sangat produktif untuk urusan yang satu ini. KH Ali Maksum, karib Kiai Bisri, sampai terheran. “Kalau soal kealiman, saya mungkin tak kalah, tapi soal menulisĀ  mengapa sampeyan begitu produktif sementara saya selalu gagal di tengah jalan?” canda Kiai Ali.

“Soalnya sampeyan nulis niatnya lillahi ta’ala sih,” tukas Kiai Bisri. Tentu saja jawaban ini mengejutkan Kiai Ali yang langsung protes, “Lho kiai menulis kok tidak lillahi ta’ala, lalu dengan niat apa?”

“Kalau saya nulis niatnya ya nyambut gawe. Sama seperti penjahit, walaupun ada tamu ia tidak akan berhenti menjahit, sebab kalau berhenti periuk nasi bisa ngguling. Saya juga begitu, lha kalau belum-belum sudah diniatin mulia maka setan akan mengganggu dan pekerjaan nulis tidak akan selesai,” Kiai Bisri menjelaskan panjang lebar.
“Pokoknya tulis dulu, segera, tak perlu ditunda-tunda, nanti kalau sudah jadi baru diniati mulia, linasyril ‘ilmi atau apa karena dalam menulis setan pun perlu kita tipu,” lanjut Kiai Bisri sambil terkekeh.

Ya, antara niat segera beramal dan godaan setan akan selalu beriringan. Kini pilihan ada di tangan kita: terbuai untuk menunda amal, dan ini artinya setan mampu mengalahkan kita, atau justru memilih mengelabui setan dengan cara segera mengerjakan apapun rintangan di depan. Yakin masih mau menunda amal?(*) -o

KR, JUMAT PAHING, 12 MEI 2017 ( 15RUWAH 1950 )

Related Post

 

Tags: