Anton Prasetyo S Sos I, Pemerhati Sosial dan Agama, Studi Magister KPI UIN Yogyakarta.

NYADRAN merupakan budaya turun-temurun yang dilakukan oleh sebagian besar umat muslim Nusantara. Ritual tahunan ini dilaksanakan pada setiap bulan Syaban (Ruwah). Beberapa nilai positif yang terdapat di dalam ritual nyadran antara lain adalah menjalin keharmonisan antara orang hidup dan mati. Di samping itu, ritual nyadran juga menjadi sarana mendekatkan diri pada Tuhan Semesta Alam.

Dalam ritual nyadran, secara individu, seorang anak datang ke pekuburan orangtua guna membersihkan dan merapikan makam orangtua sekaligus munajat kepada Tuhan agar segala amal baik diterima di sisi-Nya sekaligus mengampuni segala kesalahan. Sementara, secara kolektif, masyarakat melakukan beragam kegiatan keagamaan dengan tema besar birrul walidain (berbuat baik/berbakti kepada kedua orangtua). Di antara kegiatan yang jamak dilakukan adalah mengadakan pembacaan Alquran,  bersedekah, serta pengajian.

Meskipun ritual nyadran merupakan hasil dari akulturasi budaya, namun nilai-nilai positif yang ada tetap sesuai dengan tuntunan agama Islam. Bahkan, Nabi Muhammad SAW saja bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, maka terputus amalnya, kecuali tiga perkara, salah satuya adalah anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya. Sementara, seluruh rangkain nyadran yang dilakukan (baik individu maupun kolektif) maksud utamanya adalah mendoakan kebaikan kepada kedua orangtua.

Antara Iman dan Syirik
Bagi masyarakat umum, ritual nyadran merupakan ibadah yang memerlukan sikap kehati-hatian yang besar. Pasalnya, ritual nyadran memiliki dua sisi yang salah satu dari keduanya akan mudah melekat pada diri pelaku.
Sisi pertama adalah iman dan sisi kedua adalah syirik. Pertama, kegiatan nyadran yang dilakukan akan dapat meningkatkan kualitas iman kepada Allah. Hal ini bisa terjadi lantaran pelaku akan dapat mengingat kuasa Tuhan dengan cara mengingat bahwa orangtuanya yang dahulu gagah perkasa kini telah diambil-Nya. Ketika Allah telah menetapkan hari kematian, tidak ada seorang pun yang dapat memajukan ataupun mengundurkannya. Semua takluk di bawah kuasa-Nya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan umatnya untuk berziarah makam dalam rangka mengingat mati.

Kedua, ritual nyadran mampu menyebabkan pelaku berbuat syirik. Dengan melakukan kunjungan ke pekuburan orangtua, bisa saja seseorang tidak memanjatkan doa kepada Tuhan dalam rangka memintakan ampunan atas dosa orangtua yang telah meninggal dunia. Justru, mereka berada di pekuburan untuk melakukan ritual meminta sesuatu kepada orang yang telah meninggal dunia, karena diyakini mampu memberikan segala sesuatu.

Ketika seseorang yang melakukan nyadran justru berbuat syirik (menyekutukan Tuhan) dengan orang yang telah mati, maka perbuatan tersebut dilarang dalam agama. Allah SWT pun telah memberikan peringatan akan bahaya berbuat syirik. Allah SWT mau mengampuni segala dosa umat manusia selain dosa syirik. Syirik merupakan salah satu perbuatan yang dihukumi dosa besar dan sangat dilarang dalam agama Islam.

Akhir Zaman
Kini, ritual nyadran lebih banyak dilakukan oleh masyarakat berusia tua. Sementara, para pemuda lebih banyak menggunakan waktu untuk memburu gemerlap dunia daripada duduk di samping pekuburan orangtua dalam rangka birrul walidain. Lebih-lebih bagi mereka yang hidup di perantauan, banyak di antara mereka tidak ingat bahwa sebelum Ramadan datang ada bulan Syaban yang di dalamnya ada tradisi nyadran. Mereka lebih mengingat bahwa tak lama  lagi akan ada perayaan Hari Raya Idul Fitri sehingga mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk berfoya-foya di hari raya.

Realita betapa budaya nyadran semakin asing bagi generasi muda muslim Nusantara adalah hal yang perlu diperhatikan secara serius. Karena, praktik birrul walidain akan semakin jauh dilakukan anak-anak manakala tradisi yang telah diwariskan para pendahulu saja tidak pernah diingat. Padahal, inilah tradisi yang perlu diingat dan dilakukan. Sepanjang tidak bertumpu pada hal yang menjurus kepada perilaku syirik. q- c

Opini Kedaulatan Rakyat, Selasa, 16 Mei 2017

Related Post

 

Tags: