Faisal Ismail
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Program Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

DALAM memperingati momentum sejarah lahirnya Pancasila dan lebih mengukuhkan serta menguatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, pemerintahan Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari libur nasional dan serentak dengan itu diselenggarakan Pekan Pancasila yang dimulai dari 29 Mei – 4 Juni 2017 dengan mengambil tema “Saya Indonesia, Saya Pancasila.”

Dalam tayangan di televisi yang disiarkan secara nasional, Presiden, para menteri, dan para pejabat negara secara beramai-ramai mengucapkan “Saya Indonesia, Saya Pancasila” sebagai pernyataan kebulatan tekad dan komitmen sangat kuat bahwa Pancasila adalah satu-satunya dasar dan ideologi negara Indonesia yang sudah final dan merupakan harga mati.

Selain itu, pemerintah juga membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP Pancasila) yang diketuai Yudi Latief. Tujuan pembentukan UKP Pancasila ini tidak lain adalah agar lebih memantapkan pembinaan dan penguatan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sebagai pandangan hidup bangsa melawan ideologi dan paham lain yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Dengan begitu, Pancasila tetap selalu survive dan bertahan hidup dalam menghadapi berbagai tantangan paham dan ancaman ideologi lain, seperti ideologi transnasionalisme (khilafah) yang diusung kelompok tertentu. Sebagai bangsa Indonesia, kita sudah pasti mendukung sepenuhnya tekad dan komitmen pemerintah serta kita ikut berperan aktif dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.

Keberagaman: Takdir Tuhan?
Di sela-sela semaraknya rangkaian upacara dan acara Pekan Pancasila, terdengar ide, pernyataan, dan pendapat yang santer dikemukakan oleh petinggi negara yang mengatakan bahwa keragaman, kemajemukan, dan kebinekaan (pluralitas) yang terdapat dalam kehidupan bangsa Indonesia adalah takdir Tuhan. Menurut pengusung ide ini, keragaman suku, agama, ras, golongan, tradisi, bahasa lokal, seni, dan budaya di Indonesia adalah takdir Tuhan.

Menurut jalan pikiran ini, Tuhanlah yang menakdirkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pluralistik, yakni bangsa yang terdiri atas berbagai etnis, suku, agama, bahasa lokal, tradisi, seni, dan budaya. Etnis Minang, misalnya, mempunyai bahasa lokal, tradisi, seni, dan budaya tersendiri yang berbeda dengan bahasa lokal, tradisi, seni, dan budaya etnis Sunda, Betawi, Papua, dan Madura.

Walaupun memiliki bahasa lokal, tradisi, agama, seni, dan budaya sendiri-sendiri, semua etnis yang hidup di Indonesia merasa sebagai satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Mosaik keragaman bangsa Indonesia dibingkai dalam ikatan kesatuan sangat menarik, indah, dan memesona. Sangat tepat para founding fathers atau para pendiri republik ini yang merumuskan moto nasional negara kita dengan ungkapan formula “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, Unity in Diversity).

Realitas kultural dan sosial ini merefleksikan pluralitas, keberagaman, dan kemajemukan bangsa Indonesia serta realitas ini sudah diterima bangsa Indonesia sebagai realitas historis-demografis yang saling melengkapi dan memperkaya elemen-elemen budaya bangsa Indonesia.

Pertanyaan obsesif saya: apakah benar keberagaman itu merupakan takdir Tuhan? Dalam hal ini, saya mempunyai cara pandang lain yang berbeda dari cara pandang mengatakan keberagaman itu merupakan takdir Tuhan.

Takdir Tuhan, menurut pemahaman saya, adalah ketentuan dan ketetapan Tuhan setelah manusia (sekelompok manusia) melakukan proses usaha, upaya, ikhtiar, kerja keras, dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan atau menghasilkan sesuatu. Misalnya, dalam menghadapi ujian akhir, seorang mahasiswa belajar keras, rajin, tekun, dan serius agar dia bisa lulus ujian.

Akan tetapi, kenyataan berbicara lain. Mahasiswa tadi tidak lulus ujian. Itu namanya takdir. Tuhan menakdirkan dia tidak lulus ujian. Dalam hal keberagaman etnis, agama, tradisi, bahasa lokal, seni, dan budaya, siapakah yang melakukan, mengupayakan, dan membuat keberagaman itu? Manusia (dalam hal ini manusia-manusia Indonesia) tidak melakukan proses usaha, upaya, dan ikhtiar untuk menciptakan keberagaman itu.

Keberagaman terjadi dan muncul secara alami bersamaan dengan proses terbentuknya masyarakat Indonesia. Keberagaman terjadi dan terbentuk oleh kondisi lingkungan geografis, demografis, tradisi, sosial, dan budaya masyarakat (etnis) setempat yang mendiami wilayah dan daerah berbeda-beda.

Keberagaman: Sunnatullah
Menurut saya, keberagaman etnis, suku, agama, bahasa lokal, tradisi, adat, seni, dan budaya dalam spektrum kehidupan masyarakat manusia (termasuk masyarakat Indonesia) merupakan “sunnatullah”, bukan merupakan takdir Tuhan. Saya membedakan antara sunnatullah dan takdir Allah. Tentang takdir Tuhan (Allah) sudah saya jelaskan di atas dengan mengangkat contoh mahasiswa yang belajar keras, rajin, tekun, dan serius, tetapi dia gagal atau tidak lulus ujian.

Sunnatullah (ketetapan atau hukum Allah) adalah ketetapan hukum Tuhan berlaku pada makhluknya. Misalnya, matahari terbit di Timur adalah sunnatullah. Pergantian siang dan malam adalah sunnatullah. Matahari dan bumi beredar secara pas dan teratur sesuai ketentuan dan ketetapan hukum Tuhan sehingga tidak terjadi tabrakan antara keduanya.

Menurut pemahaman saya, dalam hal takdir Tuhan, ada proses usaha, upaya, ikhtiar, dan kerja keras manusia dengan diiringi doa kepada Tuhan untuk meraih serta menghasilkan sesuatu yang direncanakan, ditargetkan, diinginkan, diharapkan, didambakan, dan dicita-citakan. Takdirnya bisa berhasil, bisa juga tidak. Terserah kepada Tuhan untuk menentukan berhasil tidaknya usaha, upaya, kerja, dan ikhtiar manusia itu.

Jika Tuhan berkenan, manusia tentu berhasil. Jika Tuhan tidak berkenan, manusia tentu gagal atau tidak berhasil. Dalam hal sunnatullah , ketentuan dan ketetapan Tuhan itu sudah berlaku.
Matahari terbit di Timur tidak diusahakan, tidak diupayakan, dan tidak diikhtiarkan oleh manusia. Sunnatullah sudah berlaku bagi matahari untuk terbit di Timur dan terbenam di Barat.

Begitu pula keberagaman etnis, suku, agama, bahasa, tradisi, seni, dan budaya merupakan sunnatullah yang terbentuk dan tumbuh bersamaan dengan proses terbentuknya masyarakat atau bangsa. Saya lebih suka mengatakan keberagaman itu merupakan sunah Tuhan, bukan takdir Tuhan. Sama-sama ketentuan dan ketetapan Tuhan, tetapi proses dan cara berlaku ketetapan-Nya berbeda.

 

Koran Sindo,

Related Post

 

Tags: