Esensi Idul Fitri

GEMA takbir, tahmid, tasbih dan tahlil berkumandang dari masjid, musala dan surau, menyambut datangnya Idul Fitri. Suasana haru dan bahagia menyelimuti setiap muslim mengiring datangnya 1 Syawal sebagai hari kemenangan dan hari penuh maaf. Setiap anak di perantauan akan merasa rindu kampung halaman ingin bersujud dan mohon maaf pada orang tuanya. Setiap muslim di desa dan di kota, yang kaya dan yang miskin larut dalam suasana bahagia karena ketulusan dan keikhlasan saling memaafkan atas segala salah dan dosa. Ketulusan memohon maaf dan memberi maaf antara sesama muslim menjadi esensi utama Idul Fitri.

Demikian pula dengan semangat berbagi, menyantuni dan mengayomi, secara sosiologis memiliki makna luar biasa. Kaum miskin, kaum lemah dan kelompok terpinggirkan lainnya bisa larut dalam suasana bahagia dalam kesyahduan Idul Fitri. Gema takbir Allahu akbar, Allahu akbar menjadi tali perekat ukhuwah islamiyah yang luar biasa. Aktualisasi zakat, infak dan sedekah yang disalurkan dari kaum aghniya’ (kaya) kepada kaum miskin menjadi embun penyejuk dan cahaya penerang bagi kaum miskin yang selama ini berada dalam belenggu penderitaan. Seolah pada hari yang fitri ini tidak ada lagi kesenjangan antara kaya dan miskin, tidak ada lagi kesombongan dan keangkuhan.

Esensi Idul Fitri sesungguhnya adalah untuk melebur dosa saat lebaran tiba. Sehingga sesama muslim diharapkan bisa memiliki ketulusan dan keikhlasan untuk saling memaafkan. Idul Fitri berarti mengandung makna sebagai hari yang fitroh (suci) dan penuh dengan maghfiroh (ampunan). Setiap orang dengan penuh keikhlasan saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Jadi bukan diukur pada banyaknya kue lebaran yang disiapkan, banyaknya baju baru yang dimiliki hingga mewahnya kendaraan yang dipakai. Justru esensi Idul Fitri itu ada pada keikhlasan untuk saling memaafkan, dan semangat berbagai antara sesama.

Setiap orang tentu banyak melakukan salah dan dosa, mulai dari kesalahan anak kepada orang tuanya, kesalahan murid kepada gurunya, hingga kesalahan penguasa kepada rakyatnya. Kalau kesalahan anak kepada orangtua biasanya begitu mudah prosesnya dengan ketulusan anak untuk memohon maaf kepada orang tuanya. Anak yang jauh dari perantauan pun ingin datang menemui orang tuanya, mencium tangannya, bersujud di hadapannya untuk memohon maaf atas segala kesalahan. Demikian pula dengan kesalahan murid kepada guru, tidak begitu sulit proses maaf memaafkannya. Ketika murid datang menemui gurunya, mengulurkan tangan sambil mengucapkan permohonan maaf, guru dengan tulus akan memaafkannya.

Lalu bagaimana penguasa memohon maaf kepada rakyatnya? Ketika rakyat begitu banyak yang menderita, tergusur, dan diperlakukan tidak adil. Rakyat dibelenggu kemiskinan dan penderitaan ketika semakin banyak penguasa yang melakukan korupsi. Penguasa bergelimang dengan kemewahan dan kesombongan di tengah penderitaan rakyat. Penguasa begitu banyak melakukan kebohongan, begitu banyak merampas hak rakyat, sehingga membuat rakyat terpuruk dalam penderitaan.
Anehnya lagi penguasa tidak pernah merasa bersalah pada rakyat dan bahkan masih bisa tertawa walaupun mereka sudah ditangkap KPK. Bagaimana rakyat bisa memberi maaf yang tulus kalau penguasa memposisikan dirinya sangat angkuh dan sombong. Kalau pun penguasa menyampaikan “mohon maaf lahir batin” itu dinilai sekedar retorika. Mengingat sesungguhnya esensi maaf memaafkan dalam Idul Fitri adalah pada ketulusan memohon dan memberi maaf.
Dan bagaimana rakyat memaafkan kesalahan penguasa yang terus menerus melakukan korupsi di negara ini sehingga membuat rakyat terbelenggu dalam kemiskinan dan penderitaan.

(Dr Hamdan Daulay MSi MA. Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 24 Juni 2017)