img-20170810-wa0112-660x330

 

      Kegiatan panels session dengan tema “Globalization and Transnational Movements: Southeast Asian Islam and ISIS” dilangsungkan di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Kamis (10/8/2017). Dalam kegiatan tersebut, Bayu Mitra Adhyatma Kusuma dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengemukakan bahwa kelompok teroris seperti Abu Sayyaf kerap beroperasi dengan melintasi wilayah perairan negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia, dan Indonesia sehingga masalah ini kemudian bertransformasi menjadi isu terorisme regional.

      Menurut dosen pengampu mata kuliah Manajemen Konflik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Yogyakarta tersebut, untuk mengatasi permasalahan terorisme pemerintah Filipina pada tahun 2017 ini mencoba sebuah pendekatan alternatif dengan membentuk sebuah unit khusus Muslim dalam tubuh militer mereka. Di satu sisi, hal tersebut memiliki peluang yang positif diantaranya: pendekatan agama dan budaya akan membuka ruang dialog yang lebih besar dibandingkan dengan pendekatan militer konvensional. Selanjutnya melalui unit khusus ini militer Filipina akan lebih mudah beradaptasi untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan masyarakat setempat. Unit khusus ini juga akan lebih memudahkan koordinasi dan kerjasama dengan militer lndonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam sebagai negara dengan populasi mayoritas Muslim. Akan tetapi di sisi lain hal ini juga memiliki tantangan negatif diantaranya memicu potensi munculnya faksi-faksi di dalam militer atau adanya gap antara unit Muslim dengan tentara lainnya. Selain itu munculnya unit khusus Muslim bila tidak dikelola dengan baik juga dapat memperkuat stigma bahwa Muslim adalah teroris dan harus dilawan dengan Muslim garis keras dengan balutan seragam militer.

      Hadir juga dalam panel session ini Debbie Affianty Lubis dari FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta yang mendeskripsikan bahwa kelompok teror Maute melancarkan serangan pada tanggal 23 Mei 2017 di Kota Marawi, Filipina, dan menyita bangunan pemerintah seperti rumah sakit dan sekolah kemudian mengibarkan bendera ISIS. Begitupun dengan Mohamad Peculan dari Institut de Recherches Asiatiques, Prancis menjelaskan bahwa Indonesia sebagai jantung Asia Tenggara dimana 87% dari 240 juta penduduk adalah Muslim sebenarnya adalah target utama ISIS. Panelis lainnya Mustafa Selcuk dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani menambahkan bahwa sebenarnya radikalisasi bukanlah fenomena baru di Asia Tenggara. Radikalisasi lslam meningkat dan menjadi isu penting di Asia Tenggara sejak tahun 2001.

      Dari hasil pantauan media tercatat bahwa kegiatan panels session ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan The 2nd Studia Islamika International Conference on Southeast Asian Islam 2017, yang diselenggarkaan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tema besar “Religious Radicalism, Democracy, and Global Trends”. Peserta yang terlibat selain berasal dari 13 negara meliputi negara-negara Asia Tenggara, Jepang, Prancis, Turki, Yunani, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.

Diadaptasikan dari http://bidiktangsel.com/berita-tangsel/2017/kegiatan-panels-session-di-uin-jakarta.html

 

Tags: ,