foto-kuliah-umum-md-gasal-2017

            Di tengah upaya meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia yang relatif tertinggal bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, kini Indonesia juga dihadapkan pada kehadiran tenaga kerja asing yang jumlahnya semakin lama semakin membeludak. Meski sebenarnya fenomena ini bukan hanya dihadapi oleh Indonesia, namun permasalahan ini tidak bisa dipandang remeh karena menyangkut sumber penghidupan orang banyak. Menyikapi fenomena tersebut, pada hari Rabu (18/10) bertempat di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Manajemen Dakwah (MD) menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Dilema SDM Lokal: Antara Daya Saing dan Serbuan Tenaga Kerja Asing”.

          Narasumber yang dihadirkan dalam agenda kuliah umum ini adalah Hangga Fathana, S.IP, B.Int.St, MA, Dosen Prodi Hubungan Internasional, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia dan dipandu oleh moderator Bayu Mitra A. Kusuma, S.AP, M.AP, M.Pol.Sc, Dosen pengampu mata kuliah Manajemen SDM di Prodi MD FDK UIN Sunan Kalijaga. Dalam pemaparannya, Hangga Fathana menjelaskan bahwa selama ini negara maju selalu diidentikkan dengan Amerika Serikat dan Eropa. Akan tetapi pada 2008 negara-negara tersebut kolaps dan pertumbuhan pesat justru terjadi di belahan bumi selatan atau global south yang disebut dengan the Asian century. Perkembangan pesat tersebut selanjutnya diikuti oleh membeludaknya tenaga kerja asing di berbagai negara, termasuk Indonesia.

         Ada dua perspektif yang berkembang dalam menyikapi kehadiran ribuan tenaga kerja asing ini. Pertama, perspektif yang dikemukakan oleh pemerintah bahwa kehadiran tenaga kerja asing ini masih terkendali dan dalam tahap wajar, sehingga kita tidak perlu khawatir dengan kehadiran mereka. Apalagi jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri juga cukup besar. Sedangkan menurut perspektif yang kedua, kita layak khawatir dengan kehadiran mereka dan ini merupakan ancaman yang nyata. Menurut perspektif yang kedua ini pendapat pemerintah tidak apple to apple, karena rata-rata mereka yang datang adalah skill labour atau tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan pendidikan cukup sehingga mampu bersaing pada pekjerjaan formal, sedangkan TKI kebanyakan hanya bekerja di sektor non formal.

          Perlu strategi komprehensif dan melibatkan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi permasalahan ini. Salah satu strategi yang perlu dikedepankan adalah melalui jalur pendidikan. Baik itu pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi, terutama pendidikan vokasi atau kejuruan. Apalagi mengingat fakta bahwa Indonesia adalah negara besar di ASEAN yang memiliki peringkat jumlah lulusan pendidikan tinggi tergolong rendah. Kabar baiknya adalah saat ini Indonesia tengah mengalami bonus demografi atau melimpahnya jumlah angkatan kerja. Dengan memperbaiki kualitas pendidikan dan peningkatan skill, maka bonus demografi tersebut akan mampu dioptimalkan dan angka pengangguran dapat ditekan.

 

Tags: