KETIKA membaca buku karya Annemarie Schimmel yang berjudul Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, tergambar dengan jelas betapa indah teladan moral yang ditunjukkan nabi, baik dalam ucapan maupun dalam tindakan. Nabi adalah pemimpin yang egaliter, bahkan sangat dekat dengan orang-orang miskin dan anak yatim. Nabi juga sangat tegas dalam menegakkan keadilan, kepada setiap orang tanpa membedakan pangkat dan jabatan. Bahkan nabi pernah mengatakan: ”seandainya putriku Fatimah melakukan kesalahan, niscaya akan kuberi hukuman yang sama kepadanya”.

Nilai-nilai kejujuran, moralitas, kesederhanaan, keegaliteran, keadilan, semangat juang, optimisme, hingga teladan kepemimpinan, menyatu dalam diri nabi. Itulah yang membuat tokoh legendaris Islam, Shalahuddin al Ayyubi menggagas pertama kali peringatan Maulid Nabi. Moralitas umat Islam yang terpuruk waktu itu dalam perang melawan musuh, bisa bangkit kembali dengan mengenang kembali sejarah perjuangan nabi. ”Moralitas umat yang sudah terpuruk sampai ke titik nadir terendah karena kegersangan spiritual, ternyata bisa bangkit kembali dengan semangat baru dan optimisme. Sungguh luar biasa keindahan moral nabi dan seolah ada misteri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata”. Itulah pengakuan jujur dari Annemarie Schimmel seorang orientalis Jerman yang dengan jujur mengakui kekuatan dan keteladanan moral Nabi.

Tetap Relevan

Kini setelah lebih 14 abad Nabi Muhammad SAW meninggalkan umat, tentu teladan moral, kepemimpinan, kejujuran, keadilan, keegaliteran dan optimisme, tetap relevan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tragisnya, apa yang terjadi dewasa ini dengan moralitas pemimpin yang diberi amanah oleh rakyat di negeri ini? Ternyata di negeri yang mayoritas muslim ini bisa dikatakan semakin jauh dari teladan yang ditunjukkan oleh nabi. Nilai-nilai kejujuran, keadilan dan keegaliteran seolah tercerabut dari perilaku para pemimpin bangsa saat ini. Kebohongan, sandiwara, ketidakadilan, janji palsu, hingga korupsi menjadi potret pejabat yang sudah dianggap biasa saat ini. Rasa malu pun seolah sudah terkikis habis. Antara ucapan dengan tindakan tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi.

Barangkali inilah yang disebut Ronggo Warsito sebagai zaman edan, ketika rakyat menjadi korban. Pemimpin begitu lihai bermain retorika namun tidak jujur pada rakyat. Mereka mengenakan topeng kepalsuan dan kepura-puraan. Mereka seolah pemimpin yang merakyat dan jujur, namun dalam realitanya melakukan korupsi berjamaah untuk memperkaya diri dan keluarganya.

Wajah pemimpin penuh dengan topeng kepalsuan dan ketidakjujuran, tentu sangat bertolak belakang dengan teladan moral yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW. Nabi justru menunjukkan teladan kejujuran dan kesederhanaan dalam memimpin umat. Bahkan nabi rela menderita kelaparan asal orangorang miskin bisa terhindar dari kemiskinan. Nabi mewujudkan satunya kata dengan tindakan, baik menyangkut keadilan, kejujuran, kepemimpinan dan semangat juang.

Peringatan

Kini peringatan Maulid Nabi dilakukan begitu semarak di tengah masyarakat, mulai dari tingkat desa sampai istana negara. Sejatinya peringatan Maulid Nabi tersebut tidaklah sekedar serimonial tak mengandung makna. Justru yang lebih penting esensi Maulid Nabi harus bisa diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Teladan moralitas yang ditunjukkan nabi diharapkan bisa menjadi spirit dan motivasi bagi setiap pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

Kalau teladan moralitas yang ditunjukkan nabi bisa diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, berarti kita sudah bisa mengambil esensi Maulid Nabi tersebut. Namun kalau Maulid Nabi hanya sekadar seremonial yang meriah, itu artinya baru pada tataran kulit. Padahal sejatinya kita harus bisa mengambil isi atau esensi dari Maulid Nabi tersebut. Karena sesungguhnya betapa banyak keteladanan yang ditunjukkan nabi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata kunci dari keteladanan nabi adalah pada kekuatan moral, kejujuran, keegaliteran, dan kesederhanaan hidup di tengah umat.

(Dr Hamdan Daulay MA. Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 30 November 2017)