Rhetor Adakan Diskusi Publik Bertajuk “Intoleransi Merajalela, Media dan Negara ke Mana?”

Senin (29/4), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor mengadakan diskusi publik bertajuk “Intoleransi Merajalela, Media dan Negara ke Mana?” di Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Diskusi tersebut diadakan dengan melihat realitas isu intoleransi yang semakin marak terjadi di Indoensia.

“Kita coba naikkan isu intoleransi yang ada di sekitar kita dan sebenarnya dekat sekali dengan kita,” ujar Ikhlas Alfaridzi, Pimpinan Umum LPM Rhetor.

Diskusi tersebut mendatangkan tiga pembicara yang masing-masing memaparkan materinya. Mereka adalah Alimatul Qibtiyah, salah satu Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam sekaligus pemerhati media dan gender, kemudian Shinta Maharani, koresponden Majalah Tempo dan penulis lepas VICE, dan yang ketiga adalah Olivia Lewi Pramesti, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya sekaligus peneliti media dan demokrasi. Melalui tiga pembicara yang kesemuanya perempuan tersebut kemudian dikupas pembahasan mengenai peran media dan negara dalam menanggapi isu-isu intoleransi yang terjadi di Indonesia, salah satunya intoleransi berbasis gender.

AlimatulQibtiyah, salah satu pembicara dalam diskusi ini mengatakan bahwa pelaku intoleransi berbasis gender bukan hanya dari kalangan laki-laki saja, tetapi perempuan juga turut berperan sebagai pelaku intoleransi.

“Dalam wacana gerakan ekstremis Islam, wanita muslim tidak lagi dipandang sebagai pendukung, tetapi juga aktor intoleransi aktif di Indonesia,” ungkap Alimatul.

Dari bebera papenelitian di dunia keterlibatan perempuan dalam kasus intoleransi mencapai 30-40%. Di Indonesia, kasus intoleransi yang melibatkan perempuan semakin bertambah. Contohnya dalam kasus ISIS, padatahun 2017 tercatat setidaknya 671 warganegara Indonesia tergabung dalam ISIS, dan 147 diantaranya adalah perempuan. Salah satu penyebab keterlibatan perempuan dalam kasus intoleransi adalah adanya beberapa kelompok intoleran yang menggunakan perempuan sebagai strategi dalam menjalankan misi kekerasan.

Untuk menghadapi hal itu, perlu adanya pengetahuan untuk memverifikasi informasi yang diperoleh, apalagi jika informasi yang diperoleh melalui media. Hal ini selaras dengan yang dikatakanoleh Olivia Lewi yang juga menjadi narasumber, menurutnya masyarakat sebagai citizen journalist harus cerdas dalam bermedia sosial, jangan mudah terbawa arus, dan tertipu oleh berita hoax.

“Jadilah netizen yang cerdas media, jangan terlalu mengumbar masalah pribadi di medsos, Jangan mengkritik personal, tapi kritiklah kebijakan yang di buat,” ungkap Olivia Lewi.

Reporter: Fiqh Rahmawati

Berita Terkait