Resiliensi Keluarga Dan Pencarian Kebahagiaan Masyarakat Jawa Di Era Global

Hari ini kita melihat bahwa globalisasi dan perluasan imajinasi sosial menggeser fungsi psikologis keluarga secara tradisional. Jika dulu kita menyerahkan semua urusan diselesaikan secara “kekeluargaan,” maka sekarang kita percaya ada bentuk ikatan baru yang seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah bernama “demokrasi” atau “neoliberalisme.” Maka saya tergugah untuk melihat bagaimana manusia dan masyarakat memikirkan, mempercayai dan mendayagunakan kekuatan sosial tradisional bernama keluarga. Apalagi kita berada di tengah-tengah krisis kesehatan global dengan kemunculan coronavirus bernama Covid-19. Sepintas kita melihat, peran-peran institusi sosial modern tidak selalu relevan menggantikan peran tradisional yang dimiliki keluarga. Apakah kemunculan tantangan-tantangan besar pada peradaban kita hari ini mengurangi arti penting keluarga? Begitulah saya memasuki suatu studi tentang resiliensi keluarga yang hendak saya bagikan pada hadirin sekalian.

Resiliensi keluarga adalah integrasi pola tingkah laku positif dan kompetensi fungsional yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam keluarga dan unit keluarga secara keseluruhan (McCubbin, McCubbin & Thompson, 1993) dan berada dalam proses dinamis untuk beradaptasi positif (Luthar & Cicchetti, 2000). Ketahanan keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh strategi adaptasi terhadap lingkungan sosial, tetapi juga kapasitas lingkungan untuk berubah dan merespon secara lebih baik terhadap kebutuhan keluarga (Ungar, 2015). Dukungan sosial (teman, sahabat, komunitas sosial) akan memudahkan cara beradaptasi terhadap peristiwa kehidupan yang menekan. Keluarga yang mampu beradaptasi dengan sukses akan mencapai keseimbangan dalam keluarga (Neo, Chang & Fung, 2016).

Keluarga merupakan unit sosial fundamental, terdiri atas para anggota dan proses pengalaman hidup intersubjektif. Sebuah keluarga merupakan ikatan psikologis yang bertumbuh dan berkembang. Dalam sistem kekeluargaan normatif, ada anggota yang berperan sebagai ayah, ibu dan anak. Peran-peran ini merupakan perwujudan simbolis kekuatan psikologis dalam struktur keluarga. “Ayah” adalah simbol bagi perlindungan. “Ibu” simbol perawatan, dan “anak” sebagai simbol kerekatan. Setiap anggota keluarga idealnya adalah representasi proses perkembangan menuju kebahagiaan sejati (Willis, 2011).

Dalam proses formasi resiliensi, kebahagiaan adalah kualitas-kualitas hasil belajar bersama antar anggota keluarga. Lebih luas lagi, pengalaman mencari, mengejar dan meramu kebahagiaan tersebut merupakan pijakan psikologis masyarakat kita. Apakah kondisi masyarakat kita berdaya tahan atau repas? Sangat bergantung pada proses kehidupan di tingkat keluarga. Sekarang, ketika masalah-masalah sosial kian mendalam berpengaruh pada keluarga, kita harus melihat relasi tak tererelakkan antara kualitas kehidupan keluarga dan kualitas kehidupan masyarakat kita.

Titik paling tinggi dari kualitas kehidupan manusia adalah kebahagiaan. Sebab, motivasi terdalam mempertahankan kehidupan bagi manusia adalah menghindari penderitaan. Kita mengenal dua bentuk ekspresi yang membentuk kebahagiaan, yakni material dan immaterial (Landiyanto et al., 2011; Sohn, 2010). Ekspresi kebahagiaan material adalah kepemilikan harta benda dan barang. Dalam Islam, ekspresi material ini berada pada ranah duniawiyah yang tidak kekal dan berubah-ubah hakikatnya. Ekspresi kebahagiaan immaterial merupakan keadaan emosi, kognisi dan perilaku yang bersifat adiluhung. Ekspresi kebahagiaan ini tidak bergantung pada kepemilikan material, melainkan pada kepuasan spiritual (Casmini, 2020).

Kebahagiaan material berasal dari dorongan objektifikasi kesejahteraan. Wujud objektifikasi ini adalah kepemilikan harta benda yang menciptakan sensasi nyaman, tenang, damai, percaya diri, serta lepas dari kecemasan masa depan. Konsep kebahagiaan material punya ambiguisitas. Dalam kajian psikologis kita melihat bahwa inti dekspriptif kebahagiaan adalah ketenangan dan kedamaian. Seseorang cenderung ini mencapai posisi aman dan nyaman dalam hidup. Persoalannya, rasa aman, tenteram, dan damai tidak selalu dapat terobjektivikasi melalui konsep kepemilikan harta benda.

Meskipun saya menyatakan ada dikotomi antara kebahagiaan material dan immaterial, tetapi pencapaian kebahagiaan manusia sangat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani mencakup pemenuhan faktor-faktor kesejahteraan fisik berupa harta benda. Kebutuhan rohani merupakan pemenuhan faktor-faktor kesejahteraan batiniah.

Dalam realitas kemajemukan masyarakat Indonesia, tak pelak lagi betapa sulitnya kita merumuskan satu formula mengenai psikologi resiliensi dan kebahagiaan. Kemajemukan masyarakat Indonesia mengemuka dalam lapisan identitas, kesejarahan dan keagamaan. Kenyataan demikian mengingatkan kita bahwa tidak ada kesejatian mutlak pada konsep masyarakat Indonesia. Maka, saya sangat sadar, ketika kita berupaya menyajikan suatu gambaran mengenai proses-proses resiliensi di tingkat keluarga dan masyarakat, atau cara mereka memaknai dan mengekspresikan kebahagiaan, kita harus memilih pada suatu bentuk ciri masyarakat tempat kita mencurahkan waktu untuk memahaminya sedikit demi sedikit.

Ada tiga kualitas kematangan kepribadian yang menopang kebahagiaan orang Jawa yakni, sepuh, wutuh dan tangguh. Ketiga indikator kepribadian bahagia dan sehat yaitu sepuh, wutuh dan tangguh secara sinergis berproses pada diri orang Jawa untuk menemukan kabahagiaan sejati. Mana yang lebih untuk orang Jawa dalam menemukan bahagia dari pribadi sepuh, wutuh dan tangguh berjalan beriringan dan terkadang bersamaan dalam kehidupannya. Misalnya orang Jawa saat dirinya menebar kebaikan kepada orang (pribadi sepuh), dia pula ada rasa empati (pribadi wutuh) yang senyatanya dirinya masih dalam kesusahan karena kehilangan, namun tangguh menghadapinya (pribadi tangguh).

Saya perlu menegaskan bahwa konsep kebahagiaan pada masyarakat Jawa bukan tanpa konflik. Pencarian makna hidup suatu masyarakat tidak berlangsung secara serasi dan bebas dinamika. Bahkan sebagaimana telah saya sampaikan pada pembukaan pidato ini, perubahan-perubahan fundamental sudah, telah dan akan terus berlangsung. Memang klise untuk menyatakan ada suatu bentuk kesejatian pada konsep-konsep kebudayaan, termasuk identitas dan pemaknaan psiko-kultural atas suatu orientasi hidup. Tapi ada satu hal yang jelas, bahwa kita perlu memoderasi kekuatan psiko-kultural dan tujuan-tujuan adiluhung yang eksis dalam masyarakat kita guna mendorong kehidupan menjadi lebih baik. Dalam konteks semacam itu, konsep-konsep psikologis yang berangkat dari persinggungan-persinggungan kemasyarakatan sangatlah penting.

Di era globalisasi, fenomena kontak budaya antar negara begitu mudah dilakukan. Agak mustahil untuk membedakan antara mana nilai-nilai baru dan nilai-nilai lama. Baik nilai-nilai lama dan baru saling mengalami persilangan dalam tataran permukaan (surface structure) seperti perubahan pada ranah nalar pengetahuan, sikap dan pola-pola perilaku dan tataran-dalam (deep structure) seperti perubahan sistem nilai, pandangan hidup, filsafat, dan keyakinan.

Intinya, gelombang modernisasi dan globalisasi mendorong perjumpaan kebudayaan antara orang Jawa dan masyarakat global. Kebebasan ambang komunikasi antar wilayah dan antar negara yang disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemutakhiran media informasi dan teknologi komunikasi (information and communication technology) menjadikan dunia seakan menyatu menjadi kampung global (global village) dan bergumulnya budaya lokal yang berasas pada nilai-nilai spiritualistik-sosialistik menjadi liberalistik-kapitalistik.

Tidak dapat disangkal homogenisasi (penyeragaman budaya) dan neoliberalisasi dapat melunturkan nilai budaya Jawa seperti juga terjadi pada nilai-nilai sepuh, wutuh dan tangguh sebagai indikator kepribadian sehat Jawa menuju kebahagiaan.

Sebuah kenyataan yang dihadapi orang Jawa dalam fenomena paradoks pijakan budaya. Satu sisi masih terikat dengan kekuatan budaya dan tradisi, namun pada sisi lain kekuatan arus modernisasi dan globalisasi berdinamisasi seiring kehidupan manusia. Ketidakseimbangan pribadi diakibatkan oleh sentuhan budaya luar menjadikan orang Jawa mengalami disorientasi dan dislokasi pada hampir setiap aspek kehidupan.

Konsekuensi yang didapatkan oleh orang Jawa adalah kesulitan dalam mempertahankan kemurnian adat dan nilai-nilai budaya. Dalam konteks ini adalah nilai-nilai dari ajaran sepuh, wutuh dan tangguh. Saya pernah mengkaji masalah ini pada dinamika masyarakat pesisir Jawa (Casmini & Sandiah, 2019). Masyarakat pesisir Yogyakarta mempratikkan nilai urip mung mampir ngombe untuk mencapai kebahagiaan hidup, sebagai bentuk dari pribadi tangguh jika ditarik pada konsep kepribadian sehat Jawa. Hanya saja nilai-nilai tersebut dipraktikkan oleh orang Jawa yang berusia dewasa akhir dalam kisaran usia 45 tahun ke atas yang pada generasi muda perlu dikaji lebih lanjut.

Keyakinan adanya interpretasi dan pemberian makna baru yang dilakukan oleh orang Jawa atas dinamika era memang akan menimbulkan fenomena kepribadian baru. Akan tetapi corak kolektif, komunal dan ritulaistik yang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa cukup memberikan rasa optimisme bahwa orang Jawa akan mengintegrasikan kebaikan dari nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru dalam kepribadiannya, sehingga capaian bahagia tetap dapat diraih.

Bagaimana individu atau masyarakat dalam mempertahankan praktik resiliensi dan konsep kebahagiaan tradisional di era globalisasi? Andalas (2018) membagi globalisasi dalam dua tahap perkembangan. Pertama, tahap lama yang terjadi pada kurun waktu 1820-an. Tahap lama ditandai dengan Divergensi Besar (great divergence) yakni sentralisasi pendapatan dunia di negara-negara kaya. Tahap kedua terjadi pada kurun waktu 1990-an, ditandai oleh Konvergensi Besar (great convergence) yaitu adanya pemerataan pendapatan pada setiap negara karena perkembangan teknologi informasi yang sangat massif.

Dalam konteks Jawa, proses Divergensi Besar adalah asimilasi dan akulturasi budaya pada abad ke-5 hingga ke-13 melalui introdusir kebudayaan Hindu dan Muslim. Dan untuk Konvergensi Besar berlangsung pada masa kolonialisme Belanda di abad ke-16. Namun demikian, budaya Jawa masih tetap bertahan yang dikenal dengan istilah “ngeli tanpa ngeli” (hanyut tetapi tidak benar-benar hanyut) (Suryanti, 2007).

Pertahanan kepribadian orang Jawa “ngeli tanpa ngeli” dalam kondisi global saat ini masih harus diuji. Sebab, situasi sekarang mungkin berbeda dengan peristiwa persilangan budaya pada masa masuknya Hindu, Islam dan bahkan negara-negara kolonial. Revolusi teknologi, telekomunikasi, transportasi dan turisme yang datang ke Indonesia khususnya Jawa berdampak langsung pada praktik resiliensi dan konsep kebahagiaan. Ciri lawas pada kepribadian ideal Jawa berupa sepuh, wutuh dan tangguh mengalami tantangan besar. Masalah utama tantangan ini adalah seberapa mampu nilai-nilai psiko-kultural yang baru menjadi banteng pertahanan bagi harkat dan martabat kita sebagai manusia.

Dalam konteks skala lebih luas, maka integrasi nilai-nilai Jawa dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan pada pendidikan kepemimpinan, kelembagaan, pendidikan, psikoterapi, bahkan rekayasa sosial di masyarakat. Sebuah harapan meski gempuran arus akulturasi budaya Jawa dengan budaya lain yang terjadi secara masif. Namun sebagaimana sejarah masa lalu budaya Jawa tetap menjadi benteng keselamatan manusia sehat lahir dan bathin. Keniscayaan budaya Jawa tetap menjadi ruh dan relevan dengan dinamisasi jaman global tetap optimis dapat diimplementasikan oleh orang Jawa. Bekal pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai budaya Jawa untuk mencapai pribadi sehat sangat diperlukan dalam konteks globalisasi. Komitmen dan motivasi untuk melaksanakan nilai-nilai Jawa dalam kehidupan, menjalani olah lahir dan olah bathin untuk menjaga kesehatan lahir dan kebersihan batin, serta mengambil tindakan yang tepat atas kesadaran dan pemahaman nilai-nilai kepribadian Jawa dan fenomena globalisasi menjadi kunci keberhasilan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Jawa di era globalisasi. Ketika hal itu dilakukan, maka kebahagiaan tetap dapat dicapai dalam kehidupan di era globalisasi.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi satu pokok gagasan. Problem sosial kita hari ini bergerak di lintasan yang nyaris bersifat global dan lokal sekaligus. Masalah pada daya resiliensi di tingkat keluarga dan individu adalah representasi dari suatu masalah di tingkat masyarakat regional, nasional hingga internasional. Kita, sebagai manusia kehilangan pijakan yang cukup kuat untuk melalui masa-masa transisi peradaban yang besar. Kita patut waspada, sebab nilai-nilai psiko-kultural adiluhung hasil bentukan kolektifitas dipaksa berganti tempat dengan nilai-nilai yang agresif dan dekstruktif. Kita seolah-olah dipaksa menerima peralihan ini sebagai model ideal. Jadi suatu solusi atas masalah ini perlu dipikirkan oleh setiap ilmuwan psikologi hari ini.

*Oleh : Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si

(Disampaikan pada pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Psikologi Umum)