RESENSI BUKU: MENDOBRAK ORTODOKSI DAKWAH DAN IJTIHAD AKADEMIK GUNA MENJAWAB PROBLEMATIKA SOSIAL

Oleh: Ihsan Rahmat

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu

email: ihsanrrahmat@gmail.com

Judul Buku

:

Dakwah Milenial: Dari Kajian Doktrinal Menuju Transformasi Sosial

Editor

:

Ahmad Izudin dan Bayu Mitra A. Kusuma

Penerbit

:

Samudra Biru dan PSDT UIN Sunan Kalijaga

Tebal

:

xiv + 241 halaman

Cetakan pertama

:

November, 2017

Kota terbit

:

Yogyakarta

Sudah dikenal sejak dahulu bahwa tradisi dakwah Islam sangat lekat dengan metode ceramah dari mimbar ke mimbar. Terlalu banyak fakta sejarah yang dapat menjelaskan bukti keberhasilan metode ‘koar-koar’ ini. Sebab Islam dapat berkembang dan diterima oleh masyarakat dari semua golongan, berada di kota besar hingga pelosok desa, penyampaiannya menjadi tradisi dari guru ke murid, semuanya karena metode tersebut. Hanya saja, kompleksitas kehidupan umat dahulu, berbeda dengan sekarang. Zaman yang terus bergerak cenderung mengarah pada kemajuan, sedangkan metode dakwah dinilai cenderung statis. Buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah ijtihad akademik yang berusaha mencari, kemudian menawarkan gagasan guna mendukung perubahan sosial. Karena itu, tesis utama buku ini adalah kompleksitas kehidupan yang tengah dialami oleh umat Islam harus direspon dengan strategi dakwah yang aplikatif, inklusif, dan humanis.

Buku ini dibagi ke dalam empat klaster tema yang menjadi ciri khas dakwah kontemporer. Klaster pertama diisi oleh dua artikel yang memuat tema perspektif dakwah milenial. Sangat berkesan ketika Profesor Amin Abdullah membuka diskusi dengan menyodorkan pemikiran kalam modern. Pemikiran tersebut menjelaskan beberapa komponen atau tema-tema apa saja yang harus dibicarakan dalam fikih sosial, kalam sosial, dan dakwah sosial. Setidaknya ada sembilan topik besar yang perlu mendapat perhatian, tiga diantaranya adalah dialog antar budaya dan agama, ijtihad keilmuan kontemporer, serta fikih dan dakwah kewargaan. ‘Angkat topi’ pantas diberikan kepada penulis karena berhasil merumuskan skema kalam sosial modern. Skema tersebut berguna untuk akademisi dalam menemukan tema yang fresh dan menekankan pada usul mazhab dan usul al-Din. Lebih fokus lagi, Abdur Rozaki menumpahkan empat level tentang ruang lingkup studi ilmu dakwah, yakni mikro, mezzo, makro, dan global. Misalnya pada level mezzo disebutkan pentingnya mengkaji kemudian mempertemukan dinamika komunitas, budaya, dan institusi sosial di dalam masyarakat dengan nilai ke-Islaman.

Klaster kedua mengangkat tema dakwah, pembangunan sosial, dan kebijakan publik. Secara garis besar, isu yang diangkat adalah seputar pembangunan sosial masyarakat. Penulis pertama mengkaji tentang dialektika dakwah dengan civil society dan pembangunan. Tulisan tersebut melakukan reaktualisasi pemikiran Islam, juga menjelaskan kekuatan civil society, serta meninjau kembali metode dakwah ummatan wasathon dalam menghadapi hegemoni globalisasi yang tengah merasuki umat. Penulis kedua membicarakan dialektika dakwah dengan pekerjaan sosial. Menekankan integrasi-interkoneksi spirit keagamaan dengan pekerjaan sosial karena dinilai mampu membela kelompok tertindas. Disambung dengan tulisan tentang dakwah dan kesejahteraan sosial. Artikel tersebut mengatakan bahwa walau ilmu kesejahteraan sosial berakar dari pemikiran Barat, tetap dapat bersinergi dengan kajian dakwah. Tulisan terakhir mendialektis dakwah dengan kebijakan publik. Bayu Mitra A. Kusuma mengkristalkan terma baru yakni “kebijakan publik pro dakwah”, dengan mengajukan tesis bahwa kebijakan publik dapat sejalan dengan nilai-nilai ke-Islaman. Dalam tulisannya, Bayu juga memperkenalkan konsep dakwah yang bridging diversity, enriching humanity atau menjembatani keragaman, memperkaya kemanusiaan.

Klaster ketiga adalah dakwah, komunikasi, dan kepemimpinan Islam. Artikel pertama membahas tentang sensitifitas gender dan hubungannya dengan pola komunikasi. Tulisan ini penting bagi para da’i untuk berdakwah dengan cara asertif dan tidak bias gender. Penulis kedua mengkaji tentang paradigma dakwah perspektif ilmu komunikasi yang menyoal tentang komunikasi linear dan sirkuler. Rekomendasi menarik dari artikel ini adalah dalam dakwah, yang selalu menjadi pusat perhatian adalah komunikator (da’i), sedangkan perilaku dan tindakan komunikan (mad’u) kurang mendapat perhatian. Sehingga proses transaksi pesan menjadi tidak seimbang dan berdampak pada keakuratan materi dakwah. Tulisan ketiga mengangkat dakwah ala Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Setelah melakukan analisa mendalam melalui kerangka proses komunikasi, penulis tegas menyimpulkan bahwa komunikasi HTI cenderung mengarah pada politik ketimbang da’wah islamiyah. Artikel keempat berusaha mem-framing pencegahan gerakan ekstrimisme bagi pemuda Indonesia. Titik tekan pembahasan ada pada pencarian sebab munculnya radikalisme agama. Tulisan terakhir membicarakan tentang kepemimpinan dalam lingkup studi manajemen dakwah. Penulis banyak menganalisa perbedaan antara kepemimpinan di luar Islam dengan kepemimpinan Islam.

Ditutup oleh klaster dakwah, budaya organisasi, dan konseling kontemporer. Artikel pertama menyoal dakwah melalui konseling. Tulisan ini mencoba menawarkan metode dakwah konseling, yakni da’i dapat bertemu langsung dengan mad’u secara face to face. Penulis kedua berusaha menemukenali model bimbingan dan konseling Islam. Artikel ini berusaha melampaui model konseling Barat yang hanya berhenti sampai proses penyembuhan atau ganguang psikis. Kemudian mencoba menawarkan konseling Islam yang menyatakan seseorang sembuh apabila telah mengalami peningkatan kualitas diri. Artikel ketiga membahas tentang karakter budaya organisasi dalam lembaga dakwah. Salah satu karakter yang menjadi perhatian penulis adalah pemimpin sebagai sumber lahirnya budaya organisasi yang sesuai dengan nilai Islam. Terakhir adalah tulisan tentang dakwah melalui konseling ekologi. Tulisan ini merupakan pembacaan atas fenomena digital yang tengah mendera, dengan menawarkan model konseling face to face menggunakan media digital seperti YouTube, Instagram, atau juga Facebook.

Sebuah konsep pemikiran tidak akan berkembang tanpa adanya kritik yang membangun dari pihak luar. Layaknya kajian Islamic Studies pada umumnya, kajian ini masih mengedepankan konsep sebagai ranah pembahasan. Dapat dikatakan buku ini berada pada level pemikiran kritis-selektif. Belum masuk ke tahap pengukuran (sains) dan tahap akhir yakni pengaplikasian (sistem). Ada dugaan bahwa peramu buku sengaja menahan pilihan tersebut untuk edisi kedua. Karena itu publik menunggu gebrakan baru dari civitas dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sembari membaca dan mendiskusikan buku ini.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler