Hamdan Daulay: Ulet dan Tak Mudah Putus Asa

Sosok dosen Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi FDK) UIN Sunan Kalijaga ini sudah tak asing lagi. Khususnya, di dunia tulisan opini koran. Wajahnya kerap muncul baik di koran lokal maupun nasional. Dia adalah Hamdan Daulay. Bagaimana perjalanan Hamdan hingga sukses di dunia tulis menulis. Apa saja tips dan triknya? Mari mengenal lebih dekat dengan alumnus Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI/sekarang KPI).

Saat masih duduk di semester IV-V, dia puluhan kali menulis opini dan dikirim ke KR. Namun tak satupun yang keluar. "Waktu itu, untuk mengirim opini saya harus jalan kaki dari Asput sampai KR. Biasanya sore hari karena tidak panas. Sudah lebih dari sepuluh kali mengirim tapi belum pernah dimuat," terang lelaki kelahiran Tapanuli Selatan, 9 Desember 1966. Kemudian, atas saran dosennya, Prof Faisal Ismail, Hamdan diminta mengirim tulisan opini ke Yogya Pos. Pertimbangannya, mengirim tulisan lebih baik tahap demi tahap dan tidak langsung ke koran yang sudah berat saingannya.

Anak dari pasangan suami istri H Pakih Sutan Daulay dan Hj Siti Rayana Hasibuan itu pun mengikuti saran dosennya dan akhirnya gagasannya pun dimuat di Yogya Pos. setelah beberapa kali muncul, ia kemudian memberanikan diri mengirim ke KR. Akhirnya, tulisannya pun dimuat di KR. "Saya tambah semangat dan percaya diri. Apalagi mendapat honor. Saya pun bersyukur ketika opini saya dimuat di Kompas," imbuh alumnus S2 Ilmu Politik dan Kajian Media dan Budaya UGM itu.

Menurut suami Halima Hotna Lubis, lewat tulisan juga sudah termasuk berdakwah. Dia
menegaskan ketika akan membuat tulisan opini, supaya jujur dan jangan ada kebohongan, tidak menyebarkan hoax. "Harus konsisten dengan kejujuran dan itu bagiand dari dakwah," tambah ayah dari M Haidar Daulay, Rahman Daulay dan Meilani Salsabila Daulay.

Lulusan S3 Ilmu Politik UGM itu menuturkan, dalam menulis opini tidak perlu takut karena itu ruang untuk bebas berpendapat dan boleh beda pendapat. Hal yang harus dihindari yaitu plagiat. Saat ditanya soal cita-cita, Hamdan menyatakan seseorang harus dinamis dalam bercita-cita. "Waktu di kampung, cita-cita saya ingin bisa rampung S1. Begitu selesai S1 ingin S2 dan seterusnya. Bukan berarti serakah. Dalam hal kebaikan-kebaikan kita mesti dinamis," terangnya.

Selain Hamdan, tiga saudaranya juga berhasil menempuh pendidikan tinggi. Ketiganya yaitu Dr HM Zainuddin Daulay, Dr Lannihati Daulay dan Mulhim Daulay MA. Selama di FDK, beberapa jabatan yang pernah diemban Hamdan yaitu Sekjur KPI 1999-2001, Kajur KPI 2001-2005 dan Pemred Jurnal Dakwah 2001-2007. Selain itu, dia pernah menjadi Penyunting Ahli Jurnal Penelitian Agama UIN Sunan Kalijaga 2005-2010 dan Direktur Lentera Kerukunan Umat Beragama (Lekugama) 2010-2016. Kini, ia dipercaya menjadi Wakil Dekan Fakultas Saintek 2016-2020.

Sebagai penulis, pada tahun 2004 dan 2005 mendapat penghargaan dari Rektor sebagai dosen terkemuka UIN suka dalam bidang produktifitas menulis artikel di media massa.

Liputan Terpopuler