Khoiro Ummatin Senang Dampingi Ibu-ibu Belajar Alquran

Sopan santun, ramah dan senang menyambung silaturahim. Itulah sedikit gambaran dari sosok dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Khoiro Ummatin MSi. Perempuan yang biasa disapa Atin itu adalah anak ketiga dari enam bersaudara pasangan suami istri KH Ahmad Damanhuri Ya'qub dan Hj S Rohmah.
Atin yang lahir di Batang, 28 Maret 1971 itu awalnya tidak pernah bercita-cita menjadi dosen. Aslinya, saya terinspirasi orangtua. "Ibu saya itu buka warung kelontong dan membimbing tetangga untuk mengaji belajar Alquran," ujar alumnus MI Darunnajah Kemiri, Subah danMTsN Subah, Batang. Lulusan MAN 1 Yogyakarta itu masih tetap terinspirasi ibunya untuk bisa mengajar Alquran hingga lulus kulian dari Jurusan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI/sekarang KPI) Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga.
"Tidak ada cita-cita menjadi dosen bahkan ketika dua kali menjadi wisudawan dengan nilai tertinggi," kata tamatan S2 Fisipol Sosiologi UGM itu. Dorongan menjadi dosen justru muncul dari suaminya, Imam Ghozali SAg MA. Akhirnya mendaftar dan diterima di IAIN Suka. "Saya diterima bukan karena pinter. Setiap kali ada ujian, saya pulang minta do'a kepada orangtua. Selain itu, saya sowan Pak Kyai di Munawwir. Almarhum Kyai Haji Warson PP Almunawwir. Doa-doa ayah ibu dan guru-guru yang mengiringi yang membuat saya diterima menjadi dosen,"papar perempuan yang pernah mengaji di PP Almunawwir Krapyak itu.
Sejak tahun 2002 tinggal di Piyungan Bantul, ibunda Muhammad Wildan Hilmi, Silvi Nadiyatul Hasanah dan Asya Aisyal Mardliyah itu aktif membimbing ibu-ibu belajar mengaji. "Saya rasanya senang bisa mendampingi ibu-ibu belajar Alquran. Di antara mereka ada yang belajar dari Iqro jilid satu," imbuh wanita yang pernah dipercaya sebagai Koordinator Pengendali Sistem Mutu di Fakultas Dakwah tahun 2009-2013 itu. Kajur Kaprodi periode 2013-2016 itu menuturkan ingin berusaha mewujudkan cita-cita ayah bundanya. Dia menjelaskan orangtuanya memberikan nama Khoiro Ummatin dengan harapan anaknya menjadi orang yang baik dan bermanfaat.
"Kalau dilihat nahwu shorofnya nama Khoiro Ummatin secara tata bahasa tidak pas. Seharusnya Khoiru. Tetapi itu ittiba' Alquran dari ayat kuntum khoiro ummatin. Saya tetap berusaha agar bisa menjadi orang baik. Saya belum jadi siapa-siapa dan tetap harus terus berusaha," terangnya.