Gerakan dakwah perlu terus dimodifikasi seiring dengan dinamika
perkembangan budaya masyarakat. Terlebih bagi kaum millenial yang dinamis dan
menginginkan perubahan kontemporer. Ada banyak kejenuhan bagi kaum milenial
dengan model dakwah tradisional seperti ceramah (komunikasi satu arah). Apalagi
kalau materi ceramah fokus membahas tentang halal dan haram, sorga dan neraka.
Model dakwah tradisional tersebut kurang disukai kaum milenial. Model dakwah
kontemporer yang disukai kaum milenial saat ini cenderung pada aspek hiburan (dakwahtainment),
mudah dicerna, ringkas, sederhana dan terkait dengan kehidupan sehari-hari
(kekinian).
Dewasa ini muncul banyak model gerakan
dakwah di kalangan kaum milenial yang tidak bersumber dari pesantren atau lembaga keagamaan resmi
seperti MUI, NU dan Muhammadiyah. Seiring dengan tumbuhnya semangat keagamaan
(fanatisme) berlebihan kaum millenial di tengah pesatnya arus media informasi,
perlu ada kewaspadaan pada berbagai model gerakan dakwah. Terkadang ada gerakan dakwah yang fokus pada amar
ma’ruf nahi munkar serta menguatkan semangat kebangsaan. Namun di sisi lain
ada juga gerakan dakwah yang perlu diwaspadai karena menyebarkan paham ekstrim
(aliran keras) bagi kaum milenial yang masih dangkal wawasan keagamaannya.
Upaya mempelajari Islam dalam konteks kehidupan masa kini tidak serta berfokus di dalam masjid, majelis taklim, ataupun pondok pesantren. Seiring berjalannya waktu, semangat kebangkitan Islam di era reformasi kian terbuka lebar, sehingga ini membuka peluang munculnya gerakan-gerakan dakwah kontemporer memadukan Islam ramah dan budaya populer di kalangan anak muda perkotaan. Gerakan dakwah populer seolah menguatkan otoritas keagamaan tradisional yang telah terbangun secara mapan, sehingga memiliki identitas keagamaan, segmentasi pasar dakwah hybrid, dan karakteristik melalui gaya berpakaian Islami modern, materi keislaman kontemporer, serta menyesuaikan kebutuhan umat khususnya generasi muda yang haus terhadap pengetahuan keagamaan.
Gerakan
Dakwah
Kemunculan gerakan dakwah kontemporer secara bersamaan berdampingan dengan
pesatnya perkembangan teknologi informasi, tetap menampilkan Islam yang ramah
dan santun telah mewarnai wajah Islam Indonesia. Tanpa disadari, gerakan Islam
ini mengisi ruang spiritualitas umat di tengah masifnya ajaran-ajaran keislaman
memfasilitasi ruang dialektika generasi milenial perkotaan. Namun di sisi lain,
gerakan dakwah kontemporer juga perlu diwaspadai, karena terkadang ada
diantaranya yang menyebarkan paham ekstrim dan anti nasionalisme (Pancasila). Mereka
memanfaatkan kaum milenial yang fanatisme berlebihan dan dangkal wawasan agama.
Penelitian gerakan dakwah kontemporer turut diserukan Hofizal Wadi dan
Roy Bagaskara (2021) pada komunitas Muslim United Yogyakarta sebagian tren
Gerakan Islam menjawab kegelisahan anak muda terhadap kegersangan spiritual, krisis identitas, dan persoalan
masa depan. Wajah baru gerakan Islam mengajak anak muda perkotaan hijrah menuju
perilaku lebih baik dan berusaha meninggalkan kebiasaan negatif, sehingga
kegiatan dakwah yang ditawarkan relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
Seiring berjalannya waktu, agama hadir di ruang-ruang publik diprakarsai
sekumpulan anak muda mengkampanyekan hijrah, mempelajari Islam secara
menyenangkan, gaul tetapi Islami, berbuat kebaikan serta menjauhi kemungkaran.
Di sinilah agama menemukan momentumnya dalam mengakomodir pemuda muslim
perkotaan mengekspresikan keberagamaannya di tengah kehidupan modernitas dan
tantangan globalisasi yang kian menguat. Agama melalui representasi kajian
dakwah Islam yang santun menjawab kebutuhan anak muda perkotaan yang suka
perubahan, ngaji asyik, Islam fun konsep kekinian, sehingga aktivitas dakwah
cenderung dipadukan dengan budaya populer seperti budaya ngopi, nongkrong,
outbound, traveling, dan camping. Agama memainkan peranan penting dalam
percaturan dakwah di era modern memadukan Islam lemah lembut dan budaya populer
bahkan turut melahirkan sikap religiusitas di kalangan anak muda perkotaan.
Melalui Gerakan dakwah Islam kontemporer, anak muda kian melek terhadap
agama. Usaha ini sebagai keberlanjutan manusia menjalin komunikasi dengan
tuhannya dalam bentuk aktivitas keislaman di ruang publik. Aktivitas
dakwah di ruang publik diprakarsai
segolongan kaum muda menjadi magnet dan daya tarik memperoleh wawasan keislaman
secara mudah. Partisipasi kaum muda perkotaan dalam kegiatan keagamaan sebagai
pemenuhan kebutuhan agama, meningkatkan religiusitas dan rujukan keilmuan Islam
di ruang publik. Pembentukan identitas kaum muda Islam dipengaruhi berbagai
faktor, hadirnya era globalisasi, transisi budaya populer, efek modernisme, dan
menguatnya kecerdasan buatan yang berdampak serius terhadap gaya hidup.
Tokoh agama di lingkungan majelis
ilmu yang mengajarkan doktrin agama secara menarik kerapkali dianggap sebagai
figur populer. Gerakan dakwah kontemporer dapat mendesiminasi pengetahuan agama
yang moderat dan terjadinya pergeseran otoritas keagamaan dari lembaga
keagamaan seperti pondok pesantren atau madrasah, kiai maupun habaib. Fenomena
gerakan dakwah kontemporer memunculkan gairah agama menciptakan literasi keagamaan,
dan memupuk spirit keagamaan di kalangan anak muda perkotaan. Walaupun di sisi
lain perlu ada kewaspadaan pada kehadiran Gerakan dakwah kontemporer yang cukup
menjamur dewasa ini. Jangan sampai kaum milenial yang dangkal wawasan agama
terjebak dengan paham-paham ektrim yang mengikis nilai nasionalisme.
(Dr. Hamdan Daulay, Dosen Magister KPI UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, Artikel ini telah terbit di Kedaulatan Rakyat Jum'at 28 November 2025)