HARI PERTAMA iDACON 2020 BERJALAN MULUS

Bersamaan dengan Hari Pahlawan 10 November 2020, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar 4thInternational Da’wah Conference (iDACON) 2020 dengan tema Da’wah Innovation for Prosperous Society: From Indonesia to the World. Konferensi internasional ini akan berlangsung selama dua hari.

Hari pertama gelaran iDACON 2020 diawali dengan sambutan Dekan FDK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Hj. Marhumah, M.Pd. Dekan menyampaikan bahwa pada era media baru ini muncul da’i populer konservatif dengan memanfaatkan media sosial yang memantik reaksi kelompok moderat untuk memberikan wacana tandingan, sehingga terjadi perebutan otoritas keagamaan.

Agenda berlanjut dengan keynote speechdari Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr.phil. Al Makin, M.A. Dalam pidatonya Rektor mengutip Habermas yang menyatakan bahwa ruang publik berperan penting dalam demokrasi, sebagai wahana warga negara menyampaikan aspirasi secara diskursif. Hal ini terjadi di Indonesia seiring tumbangnya orde baru dan lahirnya reformasi.

Rektor juga sangat mengapresiasi atas terselenggaranya iDACON 2020 serta berharap para partisipan dapat mendapatkan manfaat dari gelaran ini. Berikutnya pada plenary sessionyang dipandu oleh moderator Dr. Siti Syamsiatun, dihadirkan lima narasumber terkemuka dari berbagai negara dan benua.

Dr. Rosalia Scortino (Mahidol University, Thailand) melalui presentasi berjudul Social Movement in the Digital Contextmenyampaikan bahwa di satu sisi era digital dapat melemahkan gerakan kolektif karena membuat manusia semakin individual, namun di sisi lain media digital juga dapat menjadi penggerak dalam gerakan sosial.

Selanjutnya Dr. Donohon Abdugafurova (Wake Forest University, USA) mempresentasikan materi berjudul Cultivating Islam in Uzbekistan: Challenges and Strategies of Uzbek Women Preacher’s. Menurutnya, tantangan da’i perempuan di Uzbekistan cukup kompleks meliputi pengetahuan yang dipertanyakan, aktivitas yang dibatasi aturan ketat, sulitnya bersepakat dengan politik, dan beratnya beban.

Berikutnya Eric Coblentz (kandidat doktor ICRS Yogyakarta asal USA) menyampaikan presentasi berjudul Islam in Indonesia: An Image of Hope for the World. Eric mengemukakan bahwa masyarakat Indonesia tumbuh terikat secara moral bersama alam, dimana mereka percaya bahwa alam memiliki kekuatan dalam mengatur keseimbangan. Dari situlah muncul konsep Islam Nusantara yang menyatukan tradisi, agama, dan ilmu pengetahuan.

Adapun Rev. Dr. Simone Sinn (Lutheran World Federation, Switzerland) menyampaikan sebuah materi berjudul Missiology in the Context of Multireligious, Multiracial, and Multicultural Society. Simone memaparkan bahwa masalah utama misiologi dan dakwah adalah adanya fragmentasi, hegemoni, dan juga kekerasan. Dalam hal ini diperlukan solusi berupa pemberdayaan, keadilan, dan perdamaian.

Last but not least, Msgr. Prof. Dr. Obiora Ike (Okoye University, Nigeria) dalam presentasi berjudul Higher Education as Pillar for Creating Justice and Prosperous Communitymenyampaikan bahwa pendidikan tinggi adalah wahana dalam mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan untuk menanamkan logika dan etika. Dengan logika dan etika, maka ilmu pengetahuan akan menghasilkan manusia yang humble dan berkarakter.

Paparan materi oleh para narasumber lintas negara dan benua tersebut tentu sangat memperkaya perspektif bagi seluruh partisipan. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa hari pertama gelaran iDACON 2020 yang diikuti oleh 853 peserta ini dapat berjalan mulus tanpa hambatan yang berarti.

Berikut ini link videonya:https://www.youtube.com/watch?v=5Chn9xWNNcE