Ketika Identitas Agama Digunakan Sebagai Strategi Politik

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SUNAN KALIJAGA menyelenggarakan Konferensi Dakwah Internasional (International Da'wah Confrence- IDACON) pada Rabu, 23 Oktober 2019. Berikut ini rangkuman per sesi IDACON 2019.

Dr. Abdul Roya Panaemalae

Sesi pertama IDACON (International Dakwah Conference) diisi oleh Dr. Abdul Roya Panaemalae dari Universitas Walailak, Thailand. Sesi ini dibuka dengan satu pertanyaan menarik, "Apakah Islam dan Demokrasi sesuai dan sejalan?".

Dr. Abdul Roya kemudian menjabarkan hasil penelitiannya mengenai alasan-alasan mendasar yang menjadikan sebagian muslim beranggapan bahwa Demokrasi tidak sesuai dengan ideologi Islam. Beberapa alasan klasik sebagaimana dia contohkan adalah pemikiran dari Ayman Al Zawahiri yang menolak demokrasi karena menurutnya Islam adalah satu-satunya ideologi dan nilai yang harus dijadikan pedoman dan bahwa menerapkan hukum Allah SWT sesuai Al Quran adalah mutlak. Selain itu, banyak tokoh Islam yang menolak demokrasi karena tidak melihat substansi melainkan harus berpegang pada teks.

Namun pandangan yang berbeda juga banyak muncul dari pemikiran ulama-ulama dunia. Yusuf Al Qadarawi menyatakan bahwa demokrasi memuat nilai-nilai yang sama dengan Islam. Di dalam demokrasi terdapat Islam. Sejalan dengan Al Qadarawi, Syed Hussein Alatas juga menyatakan bahwa Islam bukan hanya agama namun juga keteraturan sosial (social order) yang mana itu sejalan dengan demokrasi.
Dr. Abdul Roya juga mempresentasikan pemikiran Rachid Gamouchi dari Tunisia. Pemikir Islam dan politisi Tunisia tersebut berpendapat bahwa Islam adalah agama yang pragmatis dan beradab. Oleh karena itu Islam sejalan dengan Demokrasi dimana keduanya memiliki tujuan yaitu masyarakat yang beradab, sejahtera dan terlindungi semua hak azasinya.

Alimatul Qibtiyah, Ph.D

Sesi kedua IDACONmenampilkan pemaparan dari Dr. Alimatul Qibtiyah dari UIN Sunan Kalijaga. Materi yang disampaikan adalah konsep yang masih cukup baru di Indonesia yaitu Kecerdasan Digital (Digital Quotient). Kecerdasan digital adalah kompetensi dalam bidang digital yang berakar dari nilai moral dan individual. Hal ini termasuk bagaimana sesorang memiliki kemampuan menggunakan media digital dan siber dengan cerdas dan bijak. Kecerdasan digital harus dimiliki oleh masyarakat masa kini karena saat ini polarisasi masyarakat, radikalisme di media sosial dan cyber bullying semakin meningkat. Cara memunculkan kecerdasan digital adalah dengan memahami dan menerapkan 6R yaitu Right (menghargai hak hak orang lain), Respect (rasa hormat), Responsibility (bertanggung jawab), Reasoning (memiliki alasan yang jelas) dan Resilience (ketahanan).

Prof. Dr. Ahmad Tarmizi Thalib

Prof. Dr. Ahmad Tarmizi Thalib merupakan pembicara dalam sesi ketiga. Profesor dari Universiti Putra Malaysia tersebut memaparkan secara singkat persoalan agama dan identitas politik. Prof. Ahmad Tarmizi memiliki tesis yang menyatakan bahwa agenda ethno-religious mereduksi keseimbangan masyarakat harmonis dalam konteks demokratisasi. Ethno-religious sendiri didefinisikan sebagai pembentukan identitas suatu kelompok berdasarkan agama. Ketika identitas agama digunakan sebagai strategi politik maka justru hal tersebut menjadi salah satu penyebab disharmonisasi dalam masyarakat demokratis.

Prof. Dr. Madya Sarjit Singh

Prof. Dr. Madya Sarjit Singh dari Universiti Putra Malaysia menjadi pembicara dalam sesi terakhir IDACON. Pemaparannya merupakan hasil riset di kalangan anak muda Malaysia dengan topik Pengaruh Agama terhadap Pemilihan Calon Pemimpin. Hasilnya secara umum adalah bahwa kalangan muda Malaysia lebih memilih calon pemimpin berdasarkan figur ketimbang partai politik. Mereka juga lebih menyukai calon pemimpin yang menghormati agama lain dan berkomitmen terhadap agamanya sendiri. Selain itu, calon pemimpin dengan latar pendidikan agama kurang disukai dibanding calon pemimpin yang menerapkan nilai-nilai agama dengan baik. Dalam sesi ini Prof. Sarjit Singh juga menyatakan kekagumannya terhadap Pancasila yang mampu menyatukan beragam agama, ras, etnis dan suku di Indonesia.