Joana Mahasiswi FDK Juara 3 Duta Bahasa DIY 2022

Mahasiswi Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Joana Maria Zettira Da Costa me
Menjadi Duta Bahasa, adalah salah satu mimpi saya sejak lama. Bukan untuk juara, melainkan saya sadar, wadah ini adalah salah salah satu cara bagi saya untuk turut andil dalam meningkatkan taraf hidup anak-anak yang masih jauh dari kata mampu secara ekonomi untuk menempuh pendidikan tinggi. Padahal, seperti kata Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.
Demikian kata Joana panggilan akrabnya yang baru saja dinobatkan menjadi juara 3 dalam malam penganugerahan Duta Bahasa Penggerak Literasi DIY 2022 di Pendopo Ageng Grand Rohan Yogyakarta Jum’at (1/7) kemarin.
Menurut Joana tugas besar besar Duta Bahasa berusaha dalam membumikan literasi dan memberi sebaik-baik akses bagi seluruh anak Indonesia untuk meraih pendidikan tinggi. “ Itu PR besar masih ingin saya capai, semoga sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak dapat mewujudkan ikhtiar baik ini” kata Mahasiswi Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga yang memiliki nama lengkap Joana Maria Zettira Da Costa.
“ Meski saya berasal dari keluarga prasejahtera dan dibesarkan oleh ibu tunggal yang luar biasa, saya selalu menempatkan adab dan pendidikan sebagai suatu hal yang sangat krusial di atas segalanya. Karena Ibu saya selalu berpesan, orang miskin tidak boleh bodoh. Pesan itu saya pegang erat-erat, dan menjadi pedoman saya dalam menjalani segala aral yang ada”. Ucap Joana.
Pemilihan Duta Bahasa DIY 2022 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta diawali pendaftaran online dan harus mempersiapkan banyak hal dengan menggali potensi diri. Terdapat rangkaian panjang yang harus dilalui oleh Joana, mulai dari seleksi berkas, seleksi wawancara tahap 2, pembekalan, tes Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI), tes bakat, wawancara tahap 3, gladi tari, barulah sampai di malam grand final.
Pada malam penganugerahan tersebut, ketiga puluh orang finalis yang sebelumnya telah berhasil menyisihkan lebih dari 100 orang pendaftar harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tiga orang dewan juri di hadapan seluruh penonton dan tamu undangan.
Joana menambahkan seorang Duta Bahasa harus memenuhi berbagai macam aspek penilaian. Mulai dari kemampuan wicara publik, kemampuan berbahasa Indonesia, kemampuan berbahasa daerah, kemampuan berbahasa asing, nilai UKBI, riwayat hidup (CV) yang memadai, bakat yang mumpuni, penulisan esai kebahasaan dengan isu literasi terkini, pemahaman budaya lokal, pemahaman isu global, dan berbagai aspek teknis yang dinilai saat pembekalan.
Dalam uji bakat, Joana menampilkan sajian story telling yang dipadu sebuah fragmen tari. Story telling berjudul Banyuwangi yang ia modifikasi, dipenggal pada bagian tertentu untuk memangkas durasi. Dilanjutkan fragmen Tari Golek yang unik, sebab menggunakan kacamata hitam sebagai properti.
Joana berterimakasih kepada semua pihak sampai mendapat prestasi di tingkat provinsi ini.”Kejuaraan ini tidak akan tercapai tanpa doa dukungan dari keluarga, prodi, kaprodi, dosen pembimbing skripsi, fakultas, dan seluruh orang orang baik yang senantiasa mendukung saya”, pungkasnya.
Ketua Program Studi Pengembangan masyarakat Islam Siti Aminah, S.Sos.I., M.Si. mengatakan mengapresiasi dengan prestasi yang diraih oleh Joana Maria Zettira Da Costa. Secara personal Joana memiliki personal yang kuat untuk belajar. Berbagai komunitas dan kegiatan pengembangan diri mulai seni, budaya, pengembangan masyarakat dan komunitas lainnya diikuti untuk pengembangan literasinya. “Selain ia juga memiliki kemampuan bahasa asing yang kuat, komunikatif, public relation yang bagus dan literasinya luas.” Kata Aminah.
Aminah mendorong kepada mahasiswanya untuk mengukir prestasi dengan adanya program out bond bagi mahasiswa baru. Ada waktu khusus bagi mahasiswa yang pernah meraih prestasi untuk sharing ke mahasiswa baru bagaiman cara mencapai prestasi di luar kampus dengan potensi yang dimiliki mahasisa itu sendiri.”Apalagi era Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini, lebih terbuka untuk mahasiswa belajar di luar kampus sesuai minat bakat dan kompetensinya.” Tutur Aminah. (Khabib)