Jalinan Kerja Sama Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suka dan Monash University: Merajut Asa di Negeri Kanguru

Dalam semangat kolaborasi global dan semangat untuk terus belajar, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta resmi menjalin kerja sama dengan Monash University, salah satu universitas terkemuka di Australia. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Melbourne ini menandai babak baru dalam perjalanan akademik kedua institusi, Rabu (19/6).

Kerja sama ini bukan sekadar penandatanganan dokumen, melainkan sebuah komitmen untuk saling berbagi ilmu, pengalaman, dan inovasi. Cakupannya pun luas, meliputi kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Hal ini sejalan dengan visi kedua universitas untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Lebih dari Sekadar MoU

Bagi FDK UIN Sunan Kalijaga, kerja sama ini adalah sebuah lompatan besar. “Ini merupakan kelanjutan dari program International Development of Academic Collaboration (IDACON),” ungkap Dr. Pajar Hatma Indra Jaya, Wakil Dekan Bidang III FDK. Beliau menambahkan bahwa kerja sama ini akan membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk belajar dari sistem pendidikan yang lebih maju di Monash University.

Ia mengatakan salah satu kegiatan yang menjadi sorotan adalah seminar bertajuk “Islam and Politics in Contemporary Indonesia”. Pada seminar tersebut, Dr. Pajar Hatma Indra Jaya, dosen dan peneliti dari UIN Sunan Kalijaga, mempresentasikan penelitiannya mengenai " Islamism without commotion: the religious transformation of Tuak Kampong in West Lombok and Yogyakarta," yang menyoroti transformasi sosial di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam penelitiannya yang telah dipublikasikan di IJIMS (Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies).

Dalam artikelnya Dr. Pajar menjelaskan pendekatan kultural, struktural, dan pembangunan masyarakat yang dilakukan di desa-desa dengan mayoritas Muslim dan minoritas Hindu di Lombok. Ia mencontohkan bagaimana komunitas di daerah tersebut tetap menghormati tradisi agama Hindu, termasuk produksi tuak yang hanya diizinkan dalam konteks upacara keagamaan, sedangkan umat Islam setempat dilarang mengonsumsinya.

“Pendekatan ini menitikberatkan pada penghargaan atas tradisi lokal sambil mendorong transformasi yang lebih religius di desa-desa tersebut,” ujar Dr. Pajar dalam pemaparannya. Pendekatan lintas-agama ini diharapkan dapat menjadi model untuk upaya perdamaian dan kerukunan di daerah-daerah multietnis lainnya di Indonesia.

Selain Dr. Pajar, seminar ini juga menghadirkan pembicara lainnya, seperti Prof. Dr. Muhammad Wildan (Islam and Politic in Contemporary Indonesia), Dr. Sriwahyuni (The influence of political dynamics to Islamic law reform in indonesia), Dr. Sofiyullah (NU dan Politics in Contemporary Indonesia?) dan Prof. Julian Millie. Mereka membahas berbagai topik terkait pengembangan Islam dan pendidikan di Indonesia. MoU ini menjadi langkah awal bagi kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam bidang penelitian.

Seminar ini tidak hanya dihadiri oleh para akademisi, tetapi juga mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Monash University. Hal ini menunjukkan antusiasme yang tinggi dari generasi muda untuk mendalami isu-isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inspirasi dari Negeri Kanguru

Kunjungan delegasi UIN Sunan Kalijaga ke Monash University juga memberikan inspirasi yang luar biasa. Fasilitas-fasilitas yang modern dan mendukung kegiatan belajar mengajar, seperti ruang kelas yang interaktif dan pusat kewirausahaan mahasiswa, menjadi bahan perbandingan bagi FDK. “Kami terkesan dengan fasilitas yang dimiliki Monash University. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan di kampus,” ujar salah seorang anggota delegasi.

Selain itu, para dosen FDK juga mempelajari penerapan kurikulum di Monash yang didesain untuk menghasilkan penelitian berbasis mata kuliah. Mereka mencatat bahwa di Monash, perkuliahan tidak hanya mengutamakan teori tetapi juga menggabungkan hasil penelitian terbaru dalam setiap mata kuliah. Ini menjadi poin pembelajaran penting bagi FDK untuk menyesuaikan kurikulum mereka agar lebih aplikatif dan berorientasi pada penelitian.

Penelitian Kolaboratif

Selain pertukaran pelajar dan dosen, kerja sama ini juga akan fokus pada penelitian kolaboratif. Prof. Dra. Siti Syamsiyatun, M.A., Ph.D, seorang peneliti dari FDK yang juga penerima penghargaan Australia Endeavour Executive Awards, akan memimpin tim peneliti untuk melakukan studi di Australia. Penelitian ini akan berfokus pada pengembangan pemahaman lintas budaya dan agama antara Indonesia dan Australia.

“ Kerja sama dengan Monash University akan menjadi pintu untuk membangun koneksi akademik yang lebih erat, khususnya dalam penelitian mengenai masyarakat multikultural.” kata Syamsiatun.

Prof. Wildan, salah satu pimpinan delegasi UIN Sunan Kalijaga, menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kedua institusi. “Kami berharap kerja sama ini akan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di kedua lembaga, khususnya dalam bidang pengembangan studi Islam dan komunikasi,” ujarnya.

Kerja sama antara UIN Sunan Kalijaga dan Monash University ini menjadi bukti bahwa semangat kolaborasi dan inovasi tidak mengenal batas. Bagi generasi muda, kerja sama ini menjadi inspirasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Dengan membuka diri terhadap berbagai pengetahuan dan budaya, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan umat manusia. (Pjr-Kh)