Membangun Kampus Hijau : Tim Iklim FDK Inisiasi Gerakan Peduli Linkungan
Rangkaian kegiatan Workshop Gerakan Kolaboratif Penanganan Sampah dan Pelestarian Lingkungan oleh Tim Iklim FDK
Kampus bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi wadah untuk menumbuhkan kesadaran akan lingkungan. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, melalui Tim Iklim Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), tengah gencar mengkampanyekan pengelolaan sampah dengan menggelar Workshop Gerakan Kolaboratif Penanganan Sampah dan Pelestarian Lingkungan untuk Masa Depan Berkelanjutan di hotel gramm, Minggu(17/11).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Endah surwani setyowati pencetus desa wisata Sukunan dan Bayu Saputro dari perusahaan Margo Rosok, yang diikuiti oleh mahasiswa, dosen, staf tata usaha dan cleaning service. selain itu dalam acara ini juga di resmikan Tim Iklim Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan pemakaian rompi sebagai simbol pengukuhan anggota Tim Iklim FDK.
Dalam acara tersebut, Endah Surwani Setyowati, penggagas Desa Wisata Sukunan, berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana dia dan keluarganya memulai gerakan memilah dan mengelola sampah secara mandiri. “Kami mengajarkan kepada warga desa untuk tidak hanya membuang sampah, tetapi mengelolanya dengan bijak,” ujarnya. Melalui sistem sodaqoh, mereka berhasil mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, pengelolaan sampah bukanlah sekadar tugas, melainkan suatu perilaku yang harus dibiasakan agar menjadi gerakan berkelanjutan. “Inovasi dalam pengelolaan sampah sangat penting agar masyarakat tidak merasa jenuh,” tambahnya.
Setelah menjadikan Desa Sukunan sebagai pelopor dalam pengelolaan sampah mandiri sejak tahun 2003, Endah dan keluarganya kini menjalin kerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Dengan dukungan dari Kemenkes RI, upaya ini bertujuan untuk menjadikan Sukunan sebagai desa binaan yang mampu menginspirasi banyak pihak dalam mengelola sampah secara mandiri. “Di Poltekes, kami sudah menerapkan pengelolaan sampah seperti yang kami lakukan di desa,” jelas Endah dengan penuh semangat.
Kunci sukses pengelolaan sampah, menurutnya, terletak pada kesadaran bersama. Setiap individu, terutama mereka yang berada di lingkungan akademis, memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampah yang dihasilkan. “Semakin dekat dengan sumbernya, maka pengelolaan sampah akan semakin efektif,” tegasnya. Sampah yang diolah dengan baik dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat, asalkan dikelola sejak dari sumbernya.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Arif Maftuhin, menambahkan pentingnya kolaborasi dalam pengelolaan sampah. Ia mengutip Lurah Desa Panggungharjo yang mengatakan bahwa pengelolaan sampah tidak seharusnya berorientasi pada ekonomi, tetapi lebih kepada pelayanan masyarakat. “Ketika kami mengelola sampah, niat kami adalah untuk menjaga lingkungan dan melayani masyarakat, bukan semata-mata untuk keuntungan,” ujarnya.
Dari sudut pandang Arif, tidak ada yang namanya sampah, hanya barang yang tercampur. Menurutnya, pemisahan sampah adalah langkah awal yang penting dalam pengelolaan. "Misi kita adalah mendidik masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan," katanya. Dengan adanya tempat sampah yang terpilah di kampus, diharapkan dapat mendorong semua pihak untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola sampah.
Senada dengan Arif, Bayu Saputra dari Perusahaan Margo Rosok, sebuah perusahaan pengelola sampah, menjelaskan bahwa banyak jenis sampah yang memiliki nilai ekonomis. “Kertas, plastik, logam, dan kaca bisa dijual dengan harga yang cukup menguntungkan,” ujarnya. Bayu juga memberikan tips-tips untuk memilah sampah dengan benar, seperti memisahkan kertas koran dari sampul buku atau mencacah arsip bekas untuk menjaga kerahasiaan.
Tim Iklim FDK: Garda Terdepan Kampanye Lingkungan
Salah satu hasil penting dari workshop ini adalah diresmikannya Tim Iklim FDK. Tim ini bertugas untuk mengkoordinasikan berbagai kegiatan terkait pengelolaan sampah di lingkungan fakultas. Siti Aminah, dosen penggagas Tim Iklim, menjelaskan bahwa tim ini akan melibatkan berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga staf tata usaha.
"Tujuan kami adalah untuk mewujudkan kampus yang bebas dari sampah sembarangan dan mampu mengelola sampah secara mandiri," ujar Siti.
Wakil Dekan Bidang III, Muhksin, berharap program ini dapat menjadi contoh bagi fakultas lain di universitas. "Kita harus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini," tegasnya. Muhksin juga menekankan pentingnya dimensi keagamaan dalam pengelolaan sampah. "Kebersihan adalah sebagian dari iman," ujarnya mengutip hadis.
Peserta workshop mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan sampah di sumber, pengolahan sampah organik, hingga pemanfaatan sampah anorganik. Selain itu, peserta juga diajak untuk merumuskan rencana aksi untuk diterapkan di lingkungan masing-masing. Rencana aksi ini mencakup berbagai kegiatan, seperti sosialisasi, pelatihan, dan pembuatan peraturan terkait pengelolaan sampah. (Kh)