FDK Benchmarking Akreditasi Internasional

Dalam rangka meletakkan landasan yang kokoh dalam akreditasi internasional dan kurikulum MBKM (Merdeka Belajar-Kampus Merdeka), tim LPM (Lembaga Penjaminan Mutu) dan 19 prodi di lingkup UIN Sunan Kalijaga melakukan Benchmarking ke Universitas Andalas Padang pada hari Selasa 2 Maret 2021. Untuk tim Fakultas Dakwah dan Komunikasi diwakili oleh Andayani, S. IP, MSW sebagai ketua International Office FDK dan dari prodi PMI diwakili oleh Kaprodi Siti Aminah, M. Si dan Kaprodi BKI Slamet, M. Psi.
Dalam Benchmarking Akreditasi Internasional di Universitas Andalas Padang, banyak lesson learntyang didapatkan. Pertama, hal yang paling sulit adalah mengubah mind-setpara dosen bagaimana agar bersedia menerapkan Outcome-Based Education(OBE) yang merupakan pendekatan dalam kurikulum standar internasional. Masih banyak dosen yang menganggap bahwa dengan menerapkan OBE yang artinya pendekatan kurikulum diubah, maka mata kuliah mereka akan hilang. Kedua, sulit mengubah mind-setpentingnya akreditasi internasional. Banyak dosen yang menolak, dengan asumsi bahwa selama ini prodi atau kampus sudah maju, sudah memiliki banyak pendaftar, sudah benyak mahasiswa dan alumni sudah tersebar di mana-mana. Lalu akreditasi intenasional untuk apa? Faktanya, akreditasi internasional adalah respon kampus terhadap perkembangan dunia pendidikan dan meningkatkan rekognisi dunia luar (stakeholders). Selain itu, dengan mengikuti akreditasi internasional berarti kita siap meningkatkan standar mutu kita dan meingkatkan daya saing lulusan di tingkat internasional. Kita tidak hanya cukup merasa puas dengan capaian saat ini yang akhirnya menyebabkan daya saing kita akan menurun dibandingkan kampus-kampus lain terus berkompetisi. Ketiga, dalam menyelenggarakan OBE, hal yang fundamental adalah bahwa dosen tidak berfokus pada teaching input, yaitu sekedar memberi nilai. Nilai hanya ‘sekedar’ angka atau huruf yang tidak memiliki makna karena tidak selalu mencerminkan sebarapa jauh capaian pembelajaran seorang mahasiswa. Hal yang lebih penting adalah bagaimana dosen mengetahui dan mengukur apa yang telah dikuasai oleh mahasiswa dalam setiap pertemuan. Keempat, tantangan berat adalah mengajak semua dosen prodi untuk terlibat. Hal yang harus diingat, tidak semua dosen bisa terlibat secara penuh, namun semua punya kontribusi masing-masing. Kelima, pentingnya institutional supportdan leadership. Dalam akreditasi akan digali sejauh mana kampus telah mendukung dosen untuk melakukan peningkatan kualifikasi akademik misalnya menghadiri konferensi, penelitian, dll. Keenam, constructive alignmentantara capaian pembelajaran (CP) dan seluruh kegiatan di kampus.
Pada hari ke-2, Rabu, 3 Maret 2021, tim mengunjungi IAIN Batusangkar untuk berbagi pengalaman, khususnya terkait pengembangan prodi dan implementasi kurikulum MBKM. Tim dari FDK UIN Suka secara khusus berbagi pengalaman kepada kasekprodi dan dosen-dosen di FUAD (Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah) IAIN Batusangkar. Tim mempresentasikan konsep kurikulum merdeka bahwa sesuai dengan Permendikbud No. 3 Tahun 2020, bahwa mahasiswa mempunyai hak selama 3 semester untuk belajar di luar prodi (setara 60 sks) dalam bentuk 8 kegiatan pembelajaran, yakni pertukaran mahasiswa, magang, asistensi mengajar, penelitian, proyek kemanusiaan, wirausaha, studiproyek independen, bangun desa/KKN Tematik.
Hasil dari berbagi pengalaman ini, terjalin kerjasama dan penandatanganan MOA untuk melaksanakan Tri Dharma PT antara Prodi PMI FDK UIN Suka dengan PMI IAIN Batusangkar. Selain itu, tim menjajajki kerjasama pertukaran mahasiswa antara prodi Jurnalistik Islam IAIN Batusangkar dan Prodi KPI UIN Sunan Kalijaga.