Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Tambah Satu Guru Besar Bidang Psikologi Umum
Prof. Casmini menyampaikan pidato pengukuhan di hadapan rapat senat terbuka UIN Sunan Kalijaga
Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga menambah satu Guru Besar di bidang Psikologi Umum yakni Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si. Acara pengukuhan Casmini sebagai Guru Besar dilaksanakan oleh Ketua Senat Universitas di gedung Amin Abdullah,Rabu(10/11) kemarin.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Phil Al Makin mengatakan bidang kajian Prof.Casmini tersebut dapat menjadi wawasan, terutama bagi akademisi dan perguruan tinggi di Indonesia lebih khusus membahas tradisi jawa dan tradisi nusantara. Sebab, mengkaji tentang keluarga dan kebahagiaan yang memang sering muncul dalam diskusi orang Timur, terutama orang Indonesia dan Jawa.
Al Makin menambahkan keluarga merupakan andalan Orde Baru Pak Suharto, yang dulu menganut faham, kurang lebih, ala Konfusionisme. Dalam tradisi konfusionisme China negara harus bertumpu pada unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Keluarga solid, negara kokoh. Keluarga retak, negara gonjang. “Begitu kira-kira logikanya, dan keluarga menjadi andalan banyak program selama Orde Baru seperti keluarga berencana, keluarga mandiri, keluarga sejahtera, dan PKK” kata Al Makin.
Ia menjelaskan perbedaan Timur dan Barat, di Barat mereka sudah realistis, bahwa keluarga bukan segala-galanya. Jika individu merasa gagal dalam berkeluarga, kebahagiaan bisa diraih secara individu. Dan pengorbanan individu atas keluarga dihindari. Di Timur individu sering dalam banyak narasi dikorbankan demi keutuhan keluarga. Barat sering tidak bersikap dan tidak bereaksi atas masyarakat, yaitu sikap dalam filsafat disebut indifference, sedangkan Timur sangat peduli, apalagi orang Jawa, para orang lain. Masyarakat mengatur keluarga dan individu, terutama dalam sistem masyarakat komunal kita. Penilaian orang lain sangat penting, maka orang kita sering didikte oleh komunitas.
Tentu ini mengingatkan kita pada inti dari filsafat itu sendiri, dalam tradisi Stoic Yunani dan Latin, yang akhirnya masuk dalam dunia Arab dan Islam, kebahagiaan adalah tujuan filsafat dalam mencari kebajikan. Dalam hal ini saya perlu menggarisbawahi bahwa saat ini sedikit sekali yang membahas Bahagia di masyarakat kita, apalagi masyarakat ilmiah. Semua nasehat berisi tentang sukses. Semua nasehat tentang pencapaian atau prestasi. Kita sering lupa, tidak memberi perhatian pada arti dan hakekat kebahagiaan
Sementara itu, dalam pidato pengukuhannya, Casmini menyampaikan riset yang berjudul Resiliensi Keluarga Dan Pencarian Kebahagiaan Masyarakat Jawa Di Era Global. Ia mengaitkan hasil risetnya dengan situasi pandemi Covid-19 di Indonesia.
Menurut Casmini dalam proses formasi resiliensi, kebahagiaan adalah kualitas-kualitas hasil belajar bersama antar anggota keluarga. Lebih luas lagi, pengalaman mencari, mengejar dan meramu kebahagiaan tersebut merupakan pijakan psikologis masyarakat kita. Apakah kondisi masyarakat kita berdaya tahan atau repas? Sangat bergantung pada proses kehidupan di tingkat keluarga. Sekarang, ketika masalah-masalah sosial kian mendalam berpengaruh pada keluarga, kita harus melihat relasi tak tererelakkan antara kualitas kehidupan keluarga dan kualitas kehidupan masyarakat kita.
Lebih lanjut Ia menjelaskan titik paling tinggi dari kualitas kehidupan manusia adalah kebahagiaan. Sebab, motivasi terdalam mempertahankan kehidupan bagi manusia adalah menghindari penderitaan. Kita mengenal dua bentuk ekspresi yang membentuk kebahagiaan, yakni material dan immaterial. Ekspresi kebahagiaan material adalah kepemilikan harta benda dan barang. Dalam Islam, ekspresi material ini berada pada ranah duniawiyah yang tidak kekal dan berubah-ubah hakikatnya. Ekspresi kebahagiaan immaterial merupakan keadaan emosi, kognisi dan perilaku yang bersifat adiluhung. Ekspresi kebahagiaan ini tidak bergantung pada kepemilikan material, melainkan pada kepuasan spiritual.
Ketika Casmini memotret realitas kemajemukan masyarakat Indonesia, tak pelak lagi betapa sulitnya kita merumuskan satu formula mengenai psikologi resiliensi dan kebahagiaan. Kemajemukan masyarakat Indonesia mengemuka dalam lapisan identitas, kesejarahan dan keagamaan. Kenyataan demikian mengingatkan kita bahwa tidak ada kesejatian mutlak pada konsep masyarakat Indonesia. Maka, saya sangat sadar, ketika kita berupaya menyajikan suatu gambaran mengenai proses-proses resiliensi di tingkat keluarga dan masyarakat, atau cara mereka memaknai dan mengekspresikan kebahagiaan, kita harus memilih pada suatu bentuk ciri masyarakat tempat kita mencurahkan waktu untuk memahaminya sedikit demi sedikit.
Menurut Ia ada tiga kualitas kematangan kepribadian yang menopang kebahagiaan orang Jawa yakni, sepuh, wutuh dan tangguh. Ketiga indikator kepribadian bahagia dan sehat yaitu sepuh, wutuh dan tangguh secara sinergis berproses pada diri orang Jawa untuk menemukan kabahagiaan sejati. Mana yang lebih untuk orang Jawa dalam menemukan bahagia dari pribadi sepuh, wutuh dan tangguh berjalan beriringan dan terkadang bersamaan dalam kehidupannya. "Misalnya orang Jawa saat dirinya menebar kebaikan kepada orang (pribadi sepuh), dia pula ada rasa empati (pribadi wutuh) yang senyatanya dirinya masih dalam kesusahan karena kehilangan, namun tangguh menghadapinya (pribadi tangguh)." kata Casmini yang juga Wakil Dekan Bidang II Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.
Casmini menambahkan keniscayaan budaya Jawa tetap menjadi ruh dan relevan dengan dinamisasi jaman global tetap optimis dapat diimplementasikan oleh orang Jawa. Bekal pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai budaya Jawa untuk mencapai pribadi sehat sangat diperlukan dalam konteks globalisasi. Komitmen dan motivasi untuk melaksanakan nilai-nilai Jawa dalam kehidupan, menjalani olah lahir dan olah bathin untuk menjaga kesehatan lahir dan kebersihan batin, serta mengambil tindakan yang tepat atas kesadaran dan pemahaman nilai-nilai kepribadian Jawa dan fenomena globalisasi menjadi kunci keberhasilan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Jawa di era globalisasi. Ketika hal itu dilakukan, maka kebahagiaan tetap dapat dicapai dalam kehidupan di era globalisasi.(khabib)