Bahas Radikalisasi Pemuda di Sosial Media, Seri Terakhir Webinar Internasional Prodi KPI dengan The Apex

Sukses digelar ke empat kalinya, webinar internasional besutan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan The Apex Chronicles yang dilaksanakan hari Rabu, 19 Oktober 2022 secara daring ini menjadi seri terakhir dari rangkaian webinar yang sudah diadakan sejak akhir tahun 2021 kemarin.

Dengan mengusung tema "Radicalization of Youth in Social Media" (Radikalisasi Pemuda di Media Sosial), webinar kali ini menghadirkan Keynote Speaker yakni Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Phil. Al-Makin, S.Ag., M. A. dan 3 (tiga) orang narasumber yaitu Ahmad Saiful Rizal (Associate Research Fellow ICPVTR RSIS), Rocky Gonzales (Social Media Specialist), dan Kalis Mardiasih (Influencer jaringan GUSDURian). Meskipun sempat terkendala karena salah satu narasumber berhalangan hadir yaitu Gus Islah Bahrawi, terbukti webinar yang juga dihadiri oleh Dekanat FDK, Kaprodi dan Dosen Prodi KPI, Tenaga Kependidikan, mahasiswa, dan masyarakat umum ini tetap mendapat antusiasme yang baik dan berjalan dengan lancar hingga akhir acara.

Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Al Makin antara lain menyampaikan, berbicara mengenai keberagaman dan moderasi beragama, UIN Sunan Kalijaga memiliki pondasi yang kuat. Pada tahun 1970, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga pada waktu itu, yakni: Prof Mukti Ali telah memulai diskusi antar agama dalam cakupan nasional. Prof Mukti Ali bersama ketiga sahabatnya yang merupakan pendeta, biksu dan guru Hindu terus menerus melakukan dialog akademik mengenai keberagaman agama dan moderasi beragama. Program-program Prof. Mukti Ali terus berlanjut ketiga menjabat sebagai Menteri agama pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Kemudian, dialog antar agama yang digelorakan di Yogyakarta oleh Prof. Mukti Ali dan Prof. Amin Abdullah menjadi landasan dimulainya dialog antaragama bertaraf internasional.

UIN Sunan Kalijaga adalah tempat yang nyaman bagi seluruh masyarakat untuk berkolaborasi serta berdiskusi tanpa membedakan latar belakang budaya, suku, usia, dan perbedaan lainnya. Adanya globalisasi, saat ini diperlukan kesiapan UIN Sunan Kalijaga menuju kancah internasional. Dan seminar pagi ini, merupakan kesempatan yang baik untuk lebih memperdalam pemahaman dan menentukan cara baru, strategi baru, dan pemecahan masalah serta promosi dalam pemahaman moderasi beragama dan radikalisme, demikian harap Prof. Al Makin.

Sementara itu, Dekan FDK, Prof. Dr. Hj. Marhumah, M.Pd. menjelaskan, ada 2 tujuan dari seminar internasional ini. Pertama, untuk memperkaya dan memperluas pengetahuan, tidak hanya tentang Islam tetapi komunikasi dan juga studi media yang berhubungan dengan isu terorisme dan radikalisme. Kedua, untuk memperluas jaringan dan kerja sama dengan para sarjana, peneliti, praktisi dan akademisi di Indonesia dan seluruh dunia. Perkembangan pesat media saat ini telah banyak mengubah cara bagaimana agama dibentuk dan dipraktikkan di masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya penelitian tentang agama dan media. Banyaknya penelitian tersebut menunjukkan bahwa banyak orang diradikalisasi melalui media sosial. "Saya kira topik ini penting dan layak untuk dibahas, mengingat belakangan ini ideologi radikal dan teroris telah menyusup melalui penggunaan media baru," ungkapnya.

Media dapat diartikan sebagai pasar keagamaan, yang berarti umat beragama dapat dengan bebas memilih, mengkonsumsi, berbagi, dan menginternalisasi konten keagamaan yang menarik dan relevan dengan preferensi mereka. Sebagai contoh pendakwah baik dari kelompok moderat maupun kelompok radikal, kini memanfaatkan media sosial untuk menarik banyak pengikut, menyampaikan dakwahnya dan menyebarluaskan ideologinya. Oleh karena itu media juga disebut tempat. UIN Sunan Kalijaga perlu memahami bagaimana membingkai Islam yang progresif, damai dan moderat melalui konten-konten yang baik, yang dapat menarik di kalangan umat muslim, agar tercipta pemahaman keIslaman maju, bersahabat dan rahmat untuk semua umat, dan alam semesta ini, papar Prof. Marhumah.

Sementara itu, Ahmad Saiful Rizal bin Hassan, sebagai pembicara pertama membahas mengenai bagaimana radikalisme berbasis online di Singapura. Rocky Gonzales menyampaikan radikalisme yang dialami pemuda melalui sosial media. Kalis Mardiasih fokus membahas tentang perempuan, pemuda, dan konservatisme di Indonesia. Informasi mengenai webinar ini, bisa disaksikan melalui kanal YouTube KPI UIN SUKA. (Nurul)