Perkembangan Islam di Inggris

Oleh: Faisal Ismail
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Fakultas Ilmu Agama Islam UII Yogyakarta

“Islam Digest” Harian Republika (10 September 2017) menurunkan artikel menarik yang ditulis oleh Ratna Ajeng Tejomukti yang berjudul “Islam Tumbuh Pesat di Inggris.” Artikel tersebut menyajikan banyak data, fakta, berita, dan informsi yang sangat penting tentang fenomena pertumbuhan dan perkembangan Islam yang sangat pesat di Inggris dewasa ini.

Sebenarnya, fenomena pertumbuhan dan perkembangan Islam yang pesat bukan hanya terjadi di Inggris, melainkan juga terjadi di negara-negara Eropa pada umumnya. Memang benar, di Inggrislah terjadi arus pertumbuhan dan perkembangan Islam yang jauh lebih pesat dibandingkan pertumbuhan dan perkembangan Islam di negara-negara Eropa lainnya. Perlu ditelusuri asal mula sejarahnya, mengapa Islam sangat dekat hubungannya dengan kehidupan sarjana, ilmuwan, masyaarakat, dan Pemerintah Inggris dibanding dengan negara-negara Eropa lainnya?

Faktor-faktor historis
Dalam bukunya yang berjudul World of Islam Festival dalam Perspektif Sejarah, Mohammad Natsir (pendiri dan pemimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan tokoh Muslim internasional) menyebut beberapa faktor yang menyebabkan kedekatan Inggris dengan Islam, antara lain: (1) Sebagian besar Islamic Centre dan organisasiorganisasi Islam yang bertebaran di Eropa Barat berpusat di Kota London dalam satu
badan koordinasi yang disebut Islamic Council of Europe. (2) Para orientalis Inggris sudah terlebih duu berkenalan dengan Islam dan kebudayaannya dibandingkan dengan sarjana-sarjana dari negara-negara lain di Eropa. (3) Sarjana yang pertama kali memperkenalkan Alquran kepada Eropa adalah sarjana Inggris, Robert Ketton, dengan menerjemahkan Alquran ke dalam bahassa Latin pada abad ke 12. (4) Sarjana yang pertama kali menerjemahkan Alquran langsung ke dalam bahasa Inggris adalah juga sarjana Inggris yang bernama William Bedwell. (5) Ilmuwan yang memperkenalkan sebagian karya Aristoteles dan bahasa Arab -karena karya-karya aslinya sudah tidak
diketahui lagi- adalah sarjana Inggris bernama Adelard of Bath. (6) Kamus Arab-Inggris pertama disusun oleh sarjana Inggris, EW Lane.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor historis di atas, pada bulan April-Juni 1976 World of Islam Festival digelar di London dengan tujuan “to place in prespective a civilization that is little known and understood by the Western World” (menghidangkan suatu khazanah kebudayaan dalam suatu perspektif yang oleh Dunia Barat dewasa ini sedikit sekali dikenal dan dimengerti) dan “to show the West what a great contribution Islam has made to the cultures of the world” (untuk menunjukkan kepada Dunia Barat betapa besarnya sumbangan yang telah diberikan oleh Islam kepada kebudayaankebudayaan di seluruh dunia). Penggagas penyelenggaraan Festival Dunia Islam ini adalah World of Islam Festival Trust (sebuah badan pecinta kebudayaan ) yang diketuai oleh seorang diplomat dan pakar bahasa Arab, Sir Harold Beeley.

Panitia Festival berhasil mengumpulkan karya-karya kebudayaan Islam dari kira-kira 30 negeri Muslim yang berasal dari kurang lebih 250 museum, perpustakaan, dan koleksi pribadi. Festival akbar ini juga memperkenalkan hasil-hasil pemikiran keagamaa, kesenian, literatur, arsitektur, musik, dan kerajinan tangan yang dihasilkan oleh umat Islam di berbagai kawasan Dunia Islam.

Festival Dunia Islam ini juga menghidangkan folk song dan folk music yang dikumpulkan dengan tape recorder dari negeri-negeri Muslim di Timur Tengah, Afrika, dan Asia (termasuk Indonesia dan Malaysia). Dalam Festival ini dipamerkan pula kekayaan literatur dan arsitektur Dunia Islam dari abad ke abad. Kecuali menampilkan pameran karya-karya budaya dan peradaban Islam, Panitia Festival Dunia Islam juga
mengadakan program akademis berupa kuliah-kuliah umum dan seminar ilmiah tentang Islam dan kebudayaannya yang diselenggarakan di Universitas London, Oxford, Cambridge, Edinburgh, dan kota-kota penting lainnya.

Perkembangan fenomenal
Secara historis, empiris, dan akademis, Inggris memang mempunyai hubungan dekat dengan islam, peradaban dan kebudayaannya. Tidak mengherankan jika diwasa ini, Islam-seperti dicatat oleh Ratna Ajeng Tejomukti- merupakan agama yang berkembang paling pesat di Inggris dan menjadi agama terbesar kedua di negara yang kini dipimpin oleh Ratu Elizabeth II itu.

Pada tahun 2011, populasi Muslim di Inggris mencapai 2.786.635 orang dan data ini menunjukkan 1,55 juta orang lebih banyak dari hasil sensus tahun 2001. Pada tahun 2014, diperkirakan jumlah penduduk Muslim Inggris mencapai 3.114.992 orang dan bagian terbesar mereka adalah imigran dari Pakistan dan Bangladesh.

Terpilihnya Sadiq Khan sebagai wali kota London merupakan bukti bahwa warga Muslim Inggris juga diberi hak untuk mempunyai akses ke jabatan politik dan pemerintahan. Sadiq Khan tercatat sebagai Muslim pertama yang menjawat wali kota London. Ia berasal dari Partai Buruh yang berhasil mengalahkan kandidat dari Partai Konservatif, Zac Goldsmith, dalam pemilihan wali kota London tahun 2016.

Fenomena perkembangan Islam yang sangat menarik dan pesat di Inggris, bahkan di negara-negara lainnya di Eropa, sudah lama diramalkan oleh George Bernard Shaw(1856-1950). Dalam ramalannya itu GB Shaw mengatakan: “If any religiion has the chance of ruling over England, nay Europe within then next hundred years, it can only be Islam. I have always held the religion of Mohammad in high estimation because of its wonderful vitality. It is the only religion which appears to me to possess the assimilating capacity to the changing phase og existence, which can make its appeal to every age.” (Apabila ada agama yang mendapatkan kesempatan untuk memerintah negeri Inggris, bahkan Eropa, pada 100 tahun yang akan datang, maka agama itu tidak lain adalah Islam. Saya selalu menempatkan agama yang dibawa oleh Muhammad ini pada penghargaan yang tinggi karena vitalitasnya yang mengagumkan. Agama ini adalah satu-satunya agama yang, menurut saya, memiliki kapasitas asimilasi terhadap perubahan-perubahan eksistensi ini, yang mampu memberikan daya tariknya pada tiap-tiap masa).

Lebih dari 60 tahun telah berlalu sejak GB Shaw pada tahun 1950-an menorehkan ramalannya tentang eksistensi dan perkembangan Islam di Inggris dan di Eropa pada umumnya. Menggarisbawahi ramalan Shaw yang visioner, 40 atau 50 tahun ke depan, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin akan semakin terang benderang memancar di langit Inggris dan Eropa.

(Dimuat Republika 15 September 2017)

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler