Menyikapi Ketidakpastian dalam Pembelajaran

Sudah memasuki hampir dua tahun dunia pembelajaran kita berada dalam situasi pandemi akibat merebaknya Covid-19 yang virusnya terus menerus bermutasi. Selama itu pula kita telah mendapatkan pengalaman bagaimana proses pembelajaran dalam situasi yang berubah-ubah.
Karena itu untuk menjamin kesejahteraan masyarakat, seharusnya kita sudah bisa memastikan bahwa suasana pembelajaran ke depan akan berada dalam ketidakpastian di hadapan Covid-19. Sikap seperti itu akan memberikan kemampuan kepada kita untuk menyusun kebijakan dan manajemen yang baik dalam menghadapinya.

Sikap yang dipastikan tersebut akan membuat kita mampu menyusun suatu kebijakan yang pasti pada saat situasi berubah, misalnya pada saat kasus positif Covid melonjak maupun menurun dengan indikator yang resmi, maka proses pembelajaran otomatis sudah bisa langsung menyesuaikan diri dengan situasi. Sehingga perubahan apapun yang terjad, dunia pendidikan akan segera mampu menyesuaikan diri dengan berpedoman pada aturan dan kebijakan manajemen pembelajaran dalam situasi ketidakpastian tersebut.

Pemerintah dapat merumuskan dan menetapkan sebuah solusi besar skala nasional sehingga setiap ada perubahan status pandemi, maka setiap instansi yang melaksanakan proses pembelajaran tidak akan kebingungan dalam mengambil sikap.

Kepastian itu akan memberikan kemampuan kepada para penyelenggara pendidikan dalam beradaptasi yang tinggi dan cepat saat merespons setiap perubahan situasi. Pola pembelajaran menjadi lebih luwes dengan mengikuti perubahan situasi. Maka kurikulum yang menyesuaikan dengan pandemi, bukan dengan menundukkan pandemi supaya kurikulum bisa dijalankan.

Langkah Nyata

Covid-19 telah mengubah banyak hal di dunia pendidikan, termasuk sistem pembelajaran dan kurikulum; proses pembelajaran berubah menjadi sangat fleksibel dan menjadi lebih alami karena menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dalam lingkungannya. Hal ini menakjubkan, mengingat pendidikan adalah salah satu institusi yang selama ratusan tahun telah mempertahankan sistem konvensional, dan akhirnya Covid-19 telah mengubahnya.

Selama ratusan tahun dalam sejarahnya, sekolah digambarkan hampir selalu dalam sistem monoton di dalam ruangan kelas. Kini berbeda, di masa pandemi Covid-19 ini pembelajaran tidak lagi disekat-sekat oleh dinding kelas, pagar sekolah, atau rutinitas dalam sekolah. Covid-19 menjadi pintu masuk menuju dunia baru pembelajaran sebagai suatu proses pencarian kebenaran.

Perubahan yang dibawa oleh Covid-19 ini terlalu mahal untuk diabaikan begitu saja tanpa ditransformasikan ke dalam sebuah kebijakan sistem pembelajaran baru. Situasi pandemi adalah lahan yang subur untuk menanam ide merdeka belajar yang digagas oleh Menteri Nadiem Makarim, suatu pendidikan yang membebaskan yang menumbuhkan kesadaran kritis para peserta didik.

Sistem pembelajaran seperti ini mungkin tidak akan pernah terjadi jika tidak dibukakan oleh datangnya makhluk revolusioner, mikroba kecil yang bernama resmi Covid-19. Situasi Covid-19 ini telah membuka hikmah yang sangat besar pada dunia pembelajaran kita. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan dunia pendidikan untuk berubah sesungguhnya sudah kuat, tinggal dimatangkan dalam sebuah sistem baru.

Sistem Baru

Semua pihak sebaiknya menyambut perubahan ini dengan terbuka; mau tidak mau kita harus beradaptasi. Dunia baru pembelajaran harus dihadapi dengan kesiapan baru dan strategi baru. Perpaduan antara sistem sekolah konvensional dengan sistem daring menjadi sebuah tuntutan perubahan, sekolah bisa saja hanya dibuka selama tiga hari dalam satu minggu, sisanya peserta didik belajar di rumah, di masyarakat, di lingkungan tempat dia tinggal.

Pendidikan menjadi semakin terintegrasi dengan dunia luar lebih luas lagi. Para peserta didik akan masuk dalam kelas kehidupan mereka, tidak hanya kelas-kelas konvensional. Selanjutnya pertemuan di sekolah diutamakan pada interaksi yang lebih berkualitas pada penekanan budi pekerti, sosialisasi antarsesama teman, penanaman akhlak, serta penguatan interpersonal untuk membekali peserta didik modal utama dalam bergaul di masyarakat maupun di dunia kerja kelak.

Berkurangnya kehadiran di sekolah juga dapat mengurangi kejenuhan anak serta mengurangi potensi negatif seperti perilaku bullying yang muncul seiring dengan pertemuan para murid di sekolah. Kelebihan lainnya adalah peserta didik saat ini menjadi lebih terbuka pada sumber-sumber pembelajaran yang tersebar di luar sekolah.

Mengambil Sikap

Peluang emas ini jangan dilewatkan begitu saja; jangan sampai setelah pandemi berlalu kita kembali ke masa lalu. Ini adalah anugerah, sisi positif datangnya pandemi Covid-19, dia membuka perubahan yang lebih baik pada proses pembelajaran.

Kini saatnya masuk pada level pembenahan manajemen pendidikan nasional yang lebih baik lagi, membuka dunia baru pembelajaran yang lebih sesuai dan lebih adaptif dengan kebutuhan zaman sehingga akan melahirkan generasi andal yang sesuai dengan tantangan zaman.

oleh :Asep Jahidin dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(opini diterbitkan dihttps://news.detik.com tanggal 2 November 2021)

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler