Memperlakukan Al-Quran sebagai Kitab Hidayah
Oleh: Saptoni, S.Ag, MA.
(Dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi)
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Masih dalam suasana bulan Syawal ini, semoga kita masih bisa mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah limpahkan kepada kita, termasuk nikmat berupa kesempatan menjalani bulan Ramadan yang lalu hingga bulan Syawal ini. Semua orang sudah paham bahwa bulan Ramadan adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik dalam urusan apa pun yang terkait dengan agama kita. Mudah-mudahan dengan kesyukuran kita, kesempatan untuk menjadi lebih baik itu tidak kemudian berkurang apalagi hilang begitu saja sesaat setelah berakhirnya Ramadan. Karena, jika Ramadan sudah berakhir, kemudian kesempatan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik itu tidak ada, jangan-jangan kita salah dalam bersyukur.
ﵟوَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧ﵞ
Kita semua yakin bahwa jika kita mensyukuri nikmat-Nya, nikmat itu akan bertambah dan kita juga yakin bahwa kesempatan menjadi lebih baik di bulan Ramadan kemarin itu adalah bagian dari nikmat Allah. Kalau nikmat berupa kesempatan menjadi lebih baik ini tiba-tiba hilang dalam hidup kita, entah karena kita kembali sibuk dengan kehidupan dunia dengan segala intrik-intriknya, atau karena sebab-sebab yang lainnya, mestinya kita perlu merenung dan bertanya pada sanubari masing-masing, kebaikan-kebaikan apa yang telah kita perbuat dalam setiap kesempatan emas yang Allah telah sediakan untuk kita di bulan kemarin. Jangan-jangan hanya kebaikan menurut ego kita, kebaikan menurut nafsu kita, kebaikan menurut kepentingan pribadi kita.
Hadirin jamaah rahimakumullah
Satu bulan Ramadan kemarin, kita sudah dilatih untuk meraih derajat taqwa, entah dengan cara apa pun yang kita pilih sesuai selera masing-masing, dengan iktikaf, dengan tadarus, dengan sedekah dan sebagainya. Mudah-mudahan usaha itu semua benar-benar membuat kita menjadi muttaqin. Frasa la’allakum tattaqun, di akhir perintah puasa Ramadan itu semoga membekas pada diri kita, sehingga, sebagai orang yang muttaqin, kita berhak untuk merasakan fungsi al-Quran sebagai hudan atau petunjuk untuk hidup kita.
ﵟذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَﵞ
Ayat ini dapat dikatakan sebagai ayat yang membicarakan fungsi pertama dari al-Quran. Setelah pembukaan, berupa surat al-Fatihah, yag secara literal memang berarti “pembuka”, ayat ini meminta keimanan kita sekaligus menunjukkan fungsinya sebagai petunjuk untuk kita, dengan syarat kita termasuk orang yang muttaqin. Zalikal kitab la raiba fih, kitab ini tidak perlu diragukan, berarti harus dipercaya, dengan keimanan dan kepercayaan mutlak akan kebenarannya. Baru kemudian menjadi hudan lil-muttaqin. Dengan kata lain, banyak yang menafsirkan bahwa syarat untuk mendapat hidayah al-Quran adalah dengan mempercayai kebenarannya.
Namun demikian, hadirin rahimakumullah, kita mungkin bisa mundur sedikit ke ayat sebelumnya. Ayat yang sudah kita baca tadi adalah ayat kedua. Ayat pertama hanya berupa tiga huruf yang tidak diketahui pasti makna hakikinya karena hanya berupa rangkaian huruf yang tidak membentuk kata: alif, lam, dan mim. Karena keterbatasan manusia, maka alif-lam-mim ini menjadi teka-teki abadi yang tidak pernah terpecahkan selamanya. Dalam budaya mana pun, dalam bentuk apa pun, teka-teki selalu mengajak orang untuk berpikir. Ayat pertama dalam Al-Quran setelah pembukaan adalah teka-teki yang mestinya mendorong umat Islam untuk berpikir tentang al-Quran yang diyakininya itu, tentang kitab yang dipercaya kesuciannya itu, tentang ajaran-ajaran di dalamnya yang diimani kebenarannya itu.
Pertanyaannya adalah lebih banyak manakah porsi yang kita berikan kepada al-Quran itu sebagai “kitab mantra” atau sebagai kitab petunjuk, atau sudah proporsionalkah kita memposisikan al-Quran itu sebagai pedoman dalam menjalani hidup ini. Sebagai “kitab mantra”, kita baca al-Quran untuk –maaf-- mengusir jin; kita baca al-Quran untuk menenangkan hati yang galau; termasuk membacanya untuk mendulang pahala dan tiket masuk surga. Mohon maaf, bukan berarti bahwa praktik-praktik itu salah. Sekali lagi, itu semua tidak salah, karena itu semua insya Allah dapat dipertanggungjawabkan dasar hukumnya. Namun demikian, semua itu hanya berhenti pada konsep la raiba fih di ayat tadi, hanya pada konteks kepercayaan dan keimanan kita sebagai orang Islam. Belum menjamah konsep al-Quran sebagai hudan lil-muttaqin dan apalagi alif-lam-mim sebagai teka-teki abadi tadi.
Katakanlah kalau separoh fungsi al-Quran adalah mukjizat dengan segala atribut kesucian, kesakralan, dan pahala yang menyertainya, maka separoh yang lain adalah sebagai pemberi petunjuk. Kalau kemudian kita lebih banyak memfungsikan al-Quran hanya untuk yang pertama saja, sepertinya kita menjadi kurang adil dalam memperlakukan kitab suci kita. Tanpa bermaksud menyalahkan masa lalu, ketertinggalan umat Islam di seluruh dunia saat ini, saya kira tidak terlepas dari pilihan umat dalam memposisikan al-Quran untuk mewarnai kehidupan ini. Al-Quran lebih banyak dibaca dalam rangka mencari pahala, bukan untuk digali makna dan hidayahnya.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Akhir-akhir ini, hampir di seluruh belahan dunia di mana pun, disinyalir Islam mulai bangkit. Sebagai bagian dari agama besar ini, sepatutnya kita ikut bangga, tetapi sekaligus perlu sejenak merenung. Kita bangga dengan semakin maraknya aktivitas keagamaan di masyarakat; kita bangga dengan semakin banyaknya anak-anak muda yang fasih dalam menghafal dan melantunkan ayat-ayat al-Quran; kita bangga dengan semakin banyaknya group-group one day one juz, atau yang semacamnya; kita bangga al-Quran semakin memasyarakat. Kita pantas bangga dan senang dengan itu semua, tetapi kita perlu mengembangkan lebih jauh, perlu menambah satu langkah lagi, yakni memfungsikan al-Quran sebagai kitab petunjuk yang benar-benar mampu membimbing dan mengarahkan gairah ummat ini ke jalan menuju kejayaan Islam, ke jalan yang mampu mengembalikan lagi jayanya peradaban Islam, bukan hanya sekadar nostalgia dengan hafalan-hafalan dan janji-janji akhirat. Hidup kita saat ini adalah juga di dunia ini, bukan hanya di kelak di surga.
Jangan sampai kita termasuk kelompok yang disinyalir oleh Nabi SAW dalam salah satu hadis:
وَيَقْرَؤُوْنَ اْلقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“….dan mereka membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongannya, sehingga mereka keluar dengan cepat dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya.” HR Bukhari.
Kita baca dan dengarkan lantunan al-Quran, tetapi hanya untuk dinikmati seperti notasi-notasi musik. Kita senandungkan ayat-ayat al-Quran, tetapi hanya sebagai obat penenang, hanya untuk meninabobokkan bayi di gendongan. Sekali lagi, ini bukan tidak benar. Tetapi, kalau itu saja yang menjadi fokus kita, tanpa berusaha memposisikan al-Quran dengan cara yang lebih adil, tanpa sengaja kita telah menurunkan derajat dan keagungan al-Quran. Padahal keagungannya digambarkan bahwa bahkan gunung-gunung pun berguncang dan gemetar ketakutan jika diturunkan al-Quran padanya.
Disampaikan pada Khutbah Jum'at 05 Mei 2023 di Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
بارك الله لي ولكم في القران العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا، استغفر الله العظيم لي ولكم، واستغفروه انه هو الغفور الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، اشهد ان لا إله إلا الله واشهد ان محمدا عبده ورسوله الأمين، اللهم صل وسلم على النبى الكريم وعلى أله وصحبه اجمعين،
أيها الحاضرون، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وأنتم مسلمون.
اللهم صل على محمد والحمد لله رب العالمين، اللهم اغفر لنا، ولوالدين، ولجميع المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضى الحاجات
رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ،
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه. اللهم ارزقنا علما نافعا وعملا متقبلا، رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَة وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.
سبحان ربك رب العزة عمّا يصفون، وسلام على المرسلين، وصلى الله على محمد، والحمد لله رب العالمين