Pesan Dakwah Ramadan
Pesan damai Ramadan adalah bagaikan cahaya yang diharapkan mampu menerangi jalan manusia dari kegelapan. Ramadan juga disebut lebih baik dari seribu bulan, karena bulan ini penuh dengan ampunan, limpahan rahmat dan kemuliaan. Itulah sebabnya setiap Ramadan tiba, umat Islam dengan penuh suka cita menyambutnya dengan ucapan marhaban yaa Ramadan. Sejatinya Ramadan identik dengan pesan damai, bahagia dan suka cita dengan penguatan ukhuwah (persaudaraan). Ramadan diharapkan mampu memperkokoh persaudaraan di tengah berbagai perbedaan. Cahaya Ramadan mampu merubah kebencian menjadi kasih sayang, merubah permusuhan menjadi perdamaian, dan merubah keburukan menjadi kebaikan (M. Quraish Shihab, Lentera Hati, 2017:66)
Kemuliaan Ramadan yang disambut dengan penuh suka cita, akan menghadirkan cahaya kebaikan dalam hati setiap muslim. Ketika setiap muslim membersihkan diri dengan cahaya Ramadan, akan membuat diri mampu mengontrol ucapan dan tindakan dengan penuh kebaikan dan mencegah diri dari kejahatan (kemunkaran). Esensi Ramadan jauh dari aspek kemunkaran (perbuatan jahat) seperti ujaran kebencian, fitnah, permusuhan hingga perbuatan curang. Gema Ramadan muncul bagaikan pancaran cahaya, yang menerangi manusia dari kegelapan dan kesesatan. Kekhusukan umat dalam sholat tarwih, pesan-pesan dakwah di setiap masjid, hingga lantunan ayat-ayat suci al Qur’an, menambah kesyahduan Ramadan yang penuh berkah.
Tidaklah berlebihan kalau M. Quraish Shihab dalam buku “Membumikan Al Qur’an” menyebut bulan suci Ramadan memiliki makna istimewa bagi umat Islam. Salah satu makna istimewa itu tercermin dalam aktualisasi ukhuwah, dengan terjalinnya hubungan yang lebih tulus antara kaum kaya dengan kaum miskin, antara yang kuat dengan yang lemah, dan antara penguasa dengan rakyat jelata. Ketika masyarakat saat ini dilanda berbagai ujian, mulai dari keterpurukan ekonomi, ujaran kebencian karena perbedaan pilihan politik, hingga banyaknya berita bohong (hoaks), diperlukan kejernihan berpikir. Setiap orang diharpakan bisa membersihkan diri dan membersihkan hati agar muncul semangat berbagi dan mencintai antar sesama. Penguasa mencintai rakyatnya, yang kaya mencintai kaum miskin sehingga terwujud kasih sayang yang tulus antar sesama umat manusia.
Pesan Kejujuran
Ketika muncul kritik mahasiswa kepada penguasa tentang kondisi Indonesia yang dinilai semakin gelap (“Indonesia gelap”) karena semakin terpuruknnya kedaulatan rakyat dan semakin kuatnya persekongkolan penguasa dengan oligarki, hendaknya diterima dengan akal sehat. Pemerintah jangan memposisikan diri anti kritik dan tidak peduli dengan kondisi riil masyarakat yang galau dan semakin susah kondisi ekonominya. Bahkan menilai kelompok masyarakat yang memberi kritik sebagi musuh negara. Momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk evalusi diri dalam arti luas terkait dengan menguatan nilai-nilai kejujuran. Karena pesan utama dalam berpuasa ada pada aspek kejujuran. Berpuasa mengandung makna jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain dan yang lebih penting jujur pada Tuhan yang Maha Mengetahui.
Menyambut Ramadan tahun ini, seolah penuh dengan berbagai ujian yang harus dihadapi dengan kebesaran jiwa. Terlebih bagi masyarakat ekonomi lemah menghadapi beban yang cukup berat dengan melambungnya harga kebutuhan pokok. Di sisi lain praktik korupsi yang dilakukan pejabat negara masih terus merajalela, membuat penderitaan rakyat semakin bertambah. Pesan dakwah Ramdan sejatinya mampu mencegah kejahatan yang dilakukan setiap orang, sehingga muncul semangat berbuat baik untuk saling menhasihi. Kesabaran, dan ketabahan menjadi begian penting dalam Ramadan, agar setiap orang bisa tetap bahagia dalam beribadah. Mereka yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang kuat akan mampu menghadapi berbagai cobaan. Disinilah sesungguhnya esensi pesan Ramadan, agar masyarakat bisa lebih arif dan tahan uji dalam menghadapai berbagai cobaan.
Ramadhan tahun ini harus lebih banyak instropeksi diri, berzikir dan mohon ampun kepada Tuhan atas berbagai dosa yang diperbuat selama ini. Tradisi zikir dan istighfar lazim dijalankan kaum sufi dalam mengasah batin untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Bagi kaum Sufi, dosa diibaratkan bagaikan noda hitam yang mengotori udara kehidupan. Ketika manusia sudah begitu banyak berbuat dosa, seolah membuat udara kehidupan penuh dengan virus dan kegelapan yang berbahaya dan mematikan. Dosa dan kejahatan manusialah yang membuat muncul banyak petaka dan prahara yang memilukan dalam kehidupan. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada pilihan lain, selain banyak istighfar, berzikir, dan memohon ampun kepada Tuhan atas berbagai dosa yang terlanjur dilakukan.
Momentum Ramadan bisa menjadi waktu yang tepat bagi setiap orang untuk evaluasi diri. Penguasa hingga rakyat jelata bisa dengan jujur mengevaluasi diri apakah sudah menjalankan perannya masing-masing dengan baik. Apakah penguasa sudah jujur menjalankan amanah kekuasaan yang diberikan rakyat dengan baik untuk mensejahterakan rakyat. Atau apakah penguasa justru mengkhianati amanah yang diberikn rakyat, bersekongkol dengan oligarki untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Semoga cahaya Ramadan bisa menerangi jiwa setiap pemimpin bangsa ini untuk jujur menjalankan amanah, berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara.
Oleh :Dr. Hamdan Daulay, M.Si. M.A. Dosen Program Magister KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dimuat di Kedaulatan Rakyat 3 Maret 2025.