Bagi mahasiswa perantau di Yogyakarta, sakit seringkali dianggap sebagai "beban administratif" yang lebih menakutkan ketimbang rasa nyeri itu sendiri. Di tengah cuaca ekstrem Jogja yang menyengat dan kepadatannya yang rawan kecelakaan, menunda ke dokter dengan dalih "ah, cuma masuk angin" atau takut biaya mahal, sudah menjadi rahasia umum di kalangan penghuni kos dan pesantren.
Menanggapi realita tersebut, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga mengambil langkah taktis. Pada Senin (2/2/2026), mereka mewajibkan ratusan mahasiswa Semester II untuk "melek" kesehatan melalui Sosialisasi BPJS dan Layanan Pindah Fasilitas Kesehatan (Faskes) ke Klinik Pratama UIN Sunan Kalijaga.
Wakil Dekan FDK, Dr. Muhsin, M.A., menegaskan bahwa kesehatan mahasiswa bukan sekadar urusan personal, melainkan tanggung jawab ekosistem kampus. "Kepadatan Jogja bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas, ditambah cuaca panas yang memengaruhi fisik. Kami tak ingin mahasiswa menunda periksa hanya karena merasa jauh dari rumah," ujarnya di Gedung Teatrikal FDK.
Data menunjukkan bahwa fase usia 21 tahun menjadi masa transisi kritis di mana kepesertaan BPJS seringkali non-aktif jika tidak diperbarui secara mandiri. Inilah yang disasar oleh tim BPJS Kesehatan Sleman, Ikha Nur Diniawati dan Kristina Ulfa Sintani Putri, yang hadir memberikan edukasi "jemput bola".
Mengerti karakter Gen Z yang anti-ribet, sosialisasi ini mendorong penggunaan aplikasi Mobile JKN. Kristina Ulfa menekankan bahwa antrean panjang di kantor cabang kini sudah usang. "Sakit tidak ada hari liburnya dalam kalender. Cukup tunjukkan KIS Digital atau KTP di smartphone, layanan sudah bisa diakses," tegasnya.
Bukan sekadar teori, acara ini juga menyediakan layanan pindah faskes dengan memindahkan lokasi pengobatan ke Klinik Pratama UIN agar lebih dekat dengan aktivitas kampus, cek kesehatan gratis meliputi pemeriksaan gula darah, golongan darah, hingga konsultasi dokter di tempat.Skrining riwayat kesehatan dengan upaya preventif untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
dr. Diana Rismajani dari Klinik Pratama UIN Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa risiko medis tidak memandang usia. Dengan menjadikan klinik kampus sebagai Faskes Tingkat Pertama (FKTP), mahasiswa perantau kini memiliki "orang tua asuh" medis yang siap melayani tanpa kendala biaya. Program "Goes to Campus" ini diharapkan mampu memutus rantai ketidaktahuan administratif. Kampus bukan lagi sekadar tempat kuliah, tapi juga menjadi benteng perlindungan bagi kesehatan mental dan fisik mahasiswanya hingga hari kelulusan tiba.
Dalam sosialisasi tersebut, Ikha Nur Diniawati dari Bagian Mutu Layanan Kepesertaan BPJS Kesehatan Sleman, mengingatkan mahasiswa untuk tidak abai terhadap status kepesertaan mereka, terutama bagi yang sudah menginjak usia dewasa. "Seringkali mahasiswa merasa karena masih muda dan tubuh masih sehat, jadi tidak butuh asuransi. Padahal prinsip JKN adalah gotong royong; saat kita sehat, kita membantu yang sakit. Jangan menunggu sakit baru mengurus administrasi. Pastikan status kepesertaan aktif, karena risiko kesehatan bisa datang kapan saja tanpa diduga," tegas Ikha Nur Diniawati.
Ia juga menyoroti masalah administratif yang sering luput dari perhatian mahasiswa perantau. "Banyak mahasiswa yang belum menyadari bahwa status kepesertaan mereka bisa menjadi non-aktif jika tidak diperbarui datanya saat menginjak usia 21 tahun atau setelah lulus kuliah. Inisiatif untuk mengecek status secara berkala sangatlah penting," tambahnya. (kh)