Model kewarganegaraan inklusif
lebih cocok untuk bangsa Indonesia yang memiliki keragaman etnik dan agama
karena mampu merepresentasikan keadilan, dan akses yang setara bagi semua
kelompok sosial di masyarakat. Demikan kata Prof. Abdur Rozaki saat menyampaikan pidato pengukuhan guru
besar, dengan topik “Islam, Etnisitas dan Dinamika Keindonesiaan Kita:
Problema, Tantangan dan Proyeksi Membangun Indonesia Emas” di Gedung
Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Rabu (8/4).
Abdur Rozaki menjelaskan model
ini mampu menghindari konflik sosial di tengah masyarakat dibandingkan model
Malaysia dan Brunei yang memilih etnocratic welfare rezim, yakni negara
memberikan banyak keistimewaan kepada
etnik tertentu, yakni etnik Melayu. Begitu juga dengan Pakistan, dengan
model pemusatan pada ideologi Islam, semua kelompok etnik dipaksa masuk dalam
ideologi negara.
Lebih lanjut alasan Rozaki
memaparkan model kewarganegaraan inklusif jika diterapkan secara konsisten
dapat mengobati luka-luka warga masyarakat yang di masa lalu mengalami
ketidakdilan, baik karena kebijkan yang menciptakan kekerasan ataupun
pengabaian kekerasan akibat kekerasan horizontal di lingkungan masyarakat
sendiri.
“Dengan formula institusi dan
prinsip kenegaraan inklusif, berbagai anasir sektarian, prasangka etnik dan
diskriminasi etnik, sudah semestinya tidak mendapatkan tempat di Indonesia.
Indonesia tidak melihat asal usul etnik, agama, ras dan indentitas apapun
sebagai prioritas. Indonesia melihat dengan cara pandang yang inklusif atas
warga untuk memperoleh akses yang setara di dalam meraih keadilan,
kesejahteraan dan perlindungan hukum lainnya” kata Abdur Rozaki yang dikenal
sebagi aktivis 98 ini.
Abdur Rozaki yang juga Wakil
Rektor Bidang III UIN Sunan Kalijaga mengharapkan ke depan, di mana identitas
keislaman tidak lagi dipertentangkan dengan identitas etnis dan identitas
kebangsaan. Sebaliknya, Islam menjadi kekuatan
resiliensi yang menjaga etnisitas kita dari sapuan arus globalisasi yang
menghancurkan jati diri sebagai komunitas bangsa.
“Seorang muslim Madura, muslim
Bugis, muslim Minang, muslim Melayu atau muslim Aceh dan kekuatan keberagamaan
berbasis etnisitas lainnya sangatlah penting untuk saling membangun jembatan
dialog, saling memahami satu sama lain untuk menumbuhkan budaya multikultur dan
pergaulan inklusif di lingkungan Masyarakat”, ucap Abdur Rozaki. dosen Prodi Magister
Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Sementara Rektor UIN Sunan
Kalijaga, Prof. Noor Haidi dalam sambutannya, menuturkan bahwa sebutan guru
besar bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk
memproduksi pengetahuan demi peradaban. “Mereka dituntut untuk tidak hanya
mengajar, tetapi juga menyiarkan pikiran-pikiran mencerahkan di forum nasional
maupun internasional”,ungkap Noor Haidi pada pidato pengukuhan lima orang guru
besar lainnya.
Noor Haidi menambahkan gelar
profesor bukanlah sekadar deretan huruf di depan nama, melainkan muara dari
ketekunan yang melelahkan dan restu orang tua yang tak putus. Ia menyebutkan
pengukuhan ini menjadi kian relevan karena dilakukan di saat UIN Sunan Kalijaga
tengah melejit di kancah global—menempati posisi ke-30 dunia dalam bidang
Theology and Religious Studies versi QS World University Ranking.
Kita sering kali lupa bahwa Indonesia adalah sebuah eksperimen sosiologis yang harus terus dirawat. Melalui pemikiran Prof. Abdul Rozaki, kita diingatkan bahwa menjadi religius dan tetap memegang teguh identitas lokal adalah dua pilar yang saling memperkuat, bukan saling meniadakan. Inilah modal sosial terkuat kita untuk melangkah menuju 2045 tanpa kehilangan jati diri. (kh)