Dilihat 0 Kali

02_991_IMG_1716.JPG
Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar memberikan kuliah umum tentang ekoteologi

Jumat, 05 Juni 2026 11:24:00 WIB

Menteri Agama Tekankan Kesakralan Alam dalam Perspektif Ekoteologi Di Depan Sivitas Akademik FDK UIN Sunan Kalijaga

Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian alam sebagai bentuk penghormatan terhadap Sang Pencipta. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum mengenai ekoteologi di hadapan mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga di Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).

Dalam paparannya, Nasaruddin menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan ilmu tentang alam semesta yang dihubungkan dengan ketuhanan. Ia menyebut alam sebagai segala sesuatu selain Allah yang berfungsi sebagai alamah atau tanda keberadaan Sang Pencipta. Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai relasi antara Tuhan dan alam semesta harus menjadi landasan dalam berinteraksi dengan lingkungan hidup.

Nasaruddin menyoroti bahwa setiap entitas di alam semesta, mulai dari partikel terkecil hingga bentang alam yang luas, merupakan manifestasi atau tajali dari kehadiran Ilahi. Oleh karena itu, merusak alam sama halnya dengan tidak menghargai tanda-tanda kebesaran Tuhan. Pendekatan ini diharapkan dapat mengubah cara pandang manusia terhadap lingkungan, dari sekadar objek eksploitasi menjadi subjek yang sakral.

"Apakah sesuatu yang berasal dari Tuhan tidak sakral? Harusnya sakral, kan. Jadi jangan seenaknya membakar, ini ekoteologi. Tapi kita di level atas, level kedua dan level ketiga," ujar Nasaruddin saat memberikan materi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam perspektif tasawuf, alam semesta dipandang sebagai "bayangan" atau pantulan dari Yang Maha Esa. Dengan memahami rahasia hubungan antara substansi (jauhar) dan penampakan fisik (arad), manusia diharapkan memiliki pengetahuan yang luar biasa untuk menghargai setiap ciptaan.

Kuliah umum ini bertujuan untuk mengintegrasikan pemahaman teologis dengan kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi. Nasaruddin mengajak para akademisi untuk tidak hanya mengandalkan olah nalar dalam memahami fenomena alam, tetapi juga menggunakan batin agar mencapai derajat makrifat dalam menjaga keutuhan ekosistem.