Ruang pertemuan di Balai Rehabilitasi Badan Narkotika
Nasional (BNN) Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, terasa lebih hidup dari
biasanya pada Minggu, 27 Juli 2026. Sebelas orang duduk melingkar — di
antaranya para residen yang tengah menjalani program pemulihan — menggenggam
kartu-kartu berwarna, berdiskusi, dan perlahan mulai berbicara tentang sesuatu
yang sudah lama jarang mereka pikirkan: masa depan.
Itulah suasana yang tercipta dalam kegiatan bimbingan
kelompok menggunakan media Card Career Adventure, yang difasilitasi Muhammad
Satrio Mufid Mafendi, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam
(BKI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bersama Tim KKN 120 UIN Sunan Kalijaga
"Bentang Sintang". Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk layanan
bimbingan karier yang dirancang untuk membantu peserta — termasuk para residen
rehabilitasi — mengenali potensi diri, memahami minat dan kemampuan, serta
mulai menyusun rencana karier yang sesuai dengan kondisi dan tujuan
masing-masing.
Kegiatan dibuka oleh Kepala BNN Kabupaten Sintang, Dedy
Fahruddin Siregar, S.I.P., M.A.P. Ia menyambut baik hadirnya program bimbingan
ini di lingkungan rehabilitasi yang dipimpinnya. "Kami sangat
mengapresiasi kegiatan ini. Kami berharap materi perencanaan karier yang
diberikan dapat menjadi bekal nyata bagi para peserta dalam mempersiapkan diri
menghadapi kehidupan setelah proses rehabilitasi selesai," ujar Dedy dalam
sambutannya.
Media yang Bukan Sekadar Kartu
Card Career Adventure bukanlah alat bimbingan konvensional.
Media ini merupakan hasil pengembangan bersama Zaen Musyrifin, S.Sos.I., M.Pd.,
Ketua Program Studi BKI UIN Sunan Kalijaga — sebuah instrumen bimbingan karier
yang dirancang agar eksplorasi diri terasa ringan, mengalir, dan tidak terasa
seperti sesi konseling formal.
Menurut Muhammad Satrio Mufid Mafendi, mahasiswa BKI UIN
Sunan Kalijaga melalui permainan kartu yang dipadukan dengan diskusi kelompok,
peserta diajak menjelajahi empat dimensi penting: minat pribadi, nilai-nilai
yang diyakini, kemampuan yang dimiliki, serta peluang karier yang terbuka bagi
mereka. Hasilnya kemudian dirangkum ke dalam sebuah Career Map — gambaran
konkret tentang tujuan karier dan langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk
mencapainya.
Empat Eksplorasi dalam Card Career Adventure yaitu minat
pribadi yang selama ini belum disadari, nilai-nilai hidup yang menjadi landasan
pilihan karier, kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki, peluang karier yang
realistis untuk dikembangkan.
Setiap Orang Punya Potensi
Sebelum sesi kartu dimulai, Satrio menyampaikan materi
pengantar tentang pentingnya perencanaan karier. Pesan yang ia tekankan
sederhana namun mengena: bahwa potensi tidak mengenal kondisi — dan bahwa
merancang masa depan adalah hak setiap orang, termasuk mereka yang sedang dalam
proses pemulihan.
"Siapa pun kita, di mana pun posisi kita sekarang, kita
punya potensi. Yang terpenting adalah mulai mengenalinya, lalu mulai melangkah
— satu langkah kecil pun sudah cukup untuk memulai." kata Muhammad Satrio
Mufid Mafendi, mahasiswa BKI UIN Sunan Kalijaga, fasilitator kegiatan
Dalam permainan kartu itu kegiatan meliputi setiap peserta merampungkan Career
Map pribadi: selembar gambaran awal tentang tujuan karier dan langkah konkret
yang akan mereka ambil untuk mencapainya. Bagi sebagian peserta, ini adalah
pertama kalinya mereka menuliskan rencana masa depan secara nyata.
Sesi bimbingan kelompok berjalan aktif dan penuh antusias.
Peserta yang semula tampak ragu perlahan mulai terbuka. Kartu-kartu dalam Card
Career Adventure memang dirancang untuk memancing percakapan lebih dalam —
bukan sekadar memilih jawaban, melainkan menggali refleksi tentang diri
sendiri. Beberapa peserta akhirnya berbagi pengalaman hidup serta harapan
mereka setelah menyelesaikan program rehabilitasi.
Tim KKN 120 UIN Sunan Kalijaga "Bentang Sintang"
turut mendampingi jalannya setiap sesi, memastikan suasana tetap kondusif dan
setiap peserta mendapat ruang untuk bersuara. Diskusi yang hangat itu
menciptakan iklim keterbukaan yang selama ini mungkin sulit tercipta di ruang-ruang
formal.
Di sebuah balai rehabilitasi di tepi Kalimantan, sebuah sesi
bimbingan kelompok yang sederhana membuktikan sesuatu: bahwa percakapan tentang
potensi, karier, dan masa depan bisa dimulai dari mana saja. Termasuk dari
sebuah ruang pemulihan, dengan satu set kartu di tangan, dan harapan yang
perlahan kembali menyala.(prfdk)