TRADISI SILATURAHMI DAN KETERSAMBUNGAN SANAD KEILMUAN HARUS LESTARI DI FDK UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

“Ketersambungan sanad keilmuan harus terus lestari.” Demikian pesan utama yang disampaikan oleh Drs. Afif Rifai. M.Si (mantan Dekan FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) ketika memberikan tausiyah kepada Dekan baru, Prof Dr. Hj. Marhumah M.Pd., ketika silaturahmi ke rumah beliau dalam rangka silaturahmi dan meminta petunjuk dan arahan dalam pengembangan FDK di masa yang akan datang. Dalam arahannya beliau menyambut bahagia dan senang dengan adanya dinamika serta terpilihnya Dekan yang baru yang dituntut untuk melaksanakan kepemimpinan yang adil, mengayomi dan memberikan manfaat yang besar bagi dosen, mahasiswa maupun terhadap tendik.

Pada kesempatan kunjungan terhadap mantan dengan FDK UIN Sunan Kalijaga, bu ema (demikian biasa dipanggil) juga melakukan silaturahmi ke kediaman mantan Dekan Drs. Hasan Baidai, ditengah usianya yang sudah sepuh (82 tahun) beliau berpesan kepada dekan yang baru untuk menjaga amanah dan memberikan ilmu serta mengajarkan dengan penuh kasih kepada mahasiswa, beliau juga berpesan agar dekan yang baru ini tidak melupakan core keilmuan keagamaan walaupun di FDK tidak ada jurusan yang khusus untuk mempelajari seperti penguatan terhadap tafsir, hadis, fiqih dan ilmu dasar yang lain. Pada akhir harapannya, beliau menitipkan agar warga di Fakultas Dakwah selalu mendapatkan perlindungan dari Alloh, SWT, terbebas dari wabah penyakit.

Hal senada juga dikemukakan oleh Mantan Dekan Drs. Sukri AR Fakhruddin, ketika dekan FDK melakukan safari dan silaturahmi ke rumah beliau dan beliau sempat membalas kunjungan dekan dan hadir ke FDK, beliau memberikan pesan yang sangat dalam kepada civitas academika FDK, bahwa fakultas Dakwah harus mengembangkan apa yang selama ini sudah dirintis oleh para pendahulunya seperti pengembangan PPTD, model-model dakwah yang inklusif serta perjumpaan antara NU dan Muhammadiyah dalam membangun tradisi dalam dakwah. Beliau tunjukkan konsern tersebut dengan melakukan kolaborasi pembuatan film monumental antara dua tokoh KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Beliau juga sangat konsern untuk bisa melakukan kolaborasi dengan FDK dalam pembuatan film-film dakwah dan tokoh-tokoh agama dalam mengembangkan masyarakat Islam di Indonesia.