Perlu Spritualisme dalam Membuat Film
Vedy Santoso, S.Kom.I, M.Sn. saat menyampaikan materi kuliah umum
Vedy Santoso, S.Kom.I, M.Sn. menyampaikan materi berjudul DIGITAL FILMMAKING Strategi Spiritualisme Kritis untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 pada acara kuliah umum semester gasal TA. 2018/2019 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga, 5 November 2018, di teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Vedy yang juga merupakan alumni dari Prodi KPI FDK UIN Suka ini mengatakan perkembangan teknologi digital telah menciptakan revolusi dalam proses produksi dan distribusi film. Kini dengan teknologi digital filmmaking semua orang dapat menggunakanya sebagai ekspresi menyampaikan pendapat, menyatakan sikap, memberikan komentar sosial, bahkan sekadar untuk bersenang-senang. Konsekuensinya, pasokan film melimpah ruah melebihi kemampuan kita dalam mengonsumsinya dan sebagian besar berakhir menjadi “Sampah Digital”.
“Kehidupan sehari-hari kita saat ini telah ditunjang oleh kecanggihan teknologi digital yang memberikan dampak positif dan negatif. Secara positif, kemajuan teknologi digital memang memudahkan proses pertukaran informasi, ide, bahkan trade budaya yang terus mengalami perkembangan dan perubahan secara signifikan. Namun, kemudahan-kemudahan dan ilusi dunia maya juga dapat memenjarakan kreatifitas kita dalam mengalami realitas. Ini berarti bahwa kita secara rutin harus beradaptasi dengan kesadaran kita untuk memahami apa yang tengah terjadi. Sehingga kepekaan kita sebagai manusia tidak terkikis oleh luapan gelombang informasi,” Vedy menambahkan.
Menurut Vedy, Strategi Spiritualisme Kritis adalah spiritual dan kritis yang dipadukan. Karena kreativitas memiliki kesejajaran dengan spiritualitas, dalam arti bahwa mereka menghargai dan mengandalkan pengalaman non-rasional (pengalaman-pengalaman otentik sebelum rumusan-rumusan). Kritis adalah kemampuan menilai dengan nalar yang jernih, lurus, dan konsisten. Secara sederhana, spiritualisme kritis memandang bahwa nalar yang kritis dan hati yang spiritual akan melahirkan jiwa yang utuh dan bebas dalam menghadapi berbagai perubahan secara seimbang. Spiritualisme inilah yang diperlukan saat membuat sebuah karya film.