Puasa Dan Program Makan Siang Gratis
Di Bulan Ramadan hampir semua masjid di Indonesia menyelenggarakan program buka bersama. Jumlah masjid di Indonesia ada sekitar 740.000 buah. Satu masjid kecil menyediakan sekitar 150 takjil.Masjid yang besar, seperti Masjid Jogokaryan, dalam satu hari sampai menyediakan 3.500 takjil. Program tersebut diselenggarakan selama satu bulan penuh. Jika dirupiahkan tentu biaya untuk menyelenggarakan kegiatan buka puasaselama satu bulan sangat banyak. Menariknya kegiatan pemberian makan tersebut dijalankan oleh umat islam dengan penuh kemandirian dan suka cita.Tidak perlu kehadiran negara, masyarakat secara mandiri mampu memberikan makan gratis.
Buka bersama di masjid ada yang dibiayai satu keluarga, namun ada juga yang disokong oleh beberapa keluarga. Banyak orang sukarela mendaftar sebagai penyumbang program buka bersama. Mereka merasa terpanggil dan merayakan untukmenyediakan buka bersama. Ada saja orang yang tertarik untuk menyumbang takjil, tidak hanya di masjid, di jalan-jalan juga dijumpai pembagian takjil gratis. Hal ini berkorelasi dengan karakter Masyarakat Indonesia yang suka memberi.
Sifat suka memberi masyarakat Indonesia tidak hanya terjadi di Bulan Ramadan. CAF World Giving Index 2023 menempatkan Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya paling dermawan. Di perempatan, para peminta-minta mendapatkan berkah kebaikhatian masyarakat. Di kampung-kampung ketika ada orang sakit solidaritas masyarakat tumbuh untuk meringankan penderitaan. Tidak hanya orang kaya, orang miskinpun melakukan praktik kedermawanan. Ketika Indonesia dilanda Covid-19 karakterkedermawanan itu muncul dalam banyak wujud.
Meskipun Indonesia merupakan negara agraris dan dermawan, nyatanya stunting masih melanda Indonesia. Meskipun demikian angka stunting menunjukan penurunan yang signifikan. Di Yogyakarta angkanyastunting sudah turun dari27,32 persen pada tahun 2013 menjadi 16,4 persen pada tahun 2022. Secara nasional angkanya juga sudah baik, mengalami penurunan dari 37 persen pada tahun 2013 ke angka 21,6 persen pada tahun 2022. Dengan usaha yang dilakukan pemerintah selama ini angkastuntingterus menerus mengalami penurunan. Oleh karena itu menjadi pertanyaan, apakah mperlu penanganan yang ektra dengan membuat program makan siang gratis?
Jika merujuk alasan program makan siang gratis terkaitkasus stunting. Perlu diberi catatan bahwa stunting tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Kurangnya makan anak usia sekolah tidak menjadi faktor tunggal. Penelitian saya yang berjudul,Inovasi Sosial Dalam Mengatasi Masalah Stunting Di Lombok Barat, menunjukan bahwa pernikahan dini, pantangan makan, lingkungan, kebudayaan, penyakit, ukuran lingkar lengan atas calon ibu juga mempengaruhi stunting (Jaya, dkk, 2023).
Apakah perlu negara campur tangan menyediakan makan siang gratis untuk semua siswa?tentu hampir semua orang akan mengatakan perlu. Namun program ini membutuhkan biaya yang banyak, jumlah anak usia sekolah ada53,14 Juta . Jika sekali makan membutuhkan biayaRp20.000,00 maka untuk sekali makan siang seluruh siswa membutuhkan dana1,06 trilyun.Jika hal itu dilakukanuntuk satu tahun maka jumlahnya sangat banyak. Apakah negara mampu? tentu negara mampu melakukannya dengan cara relokasi anggaran atau menaikan pajak.
Saya yakin banyak orang di Indonesia tidak merasa membutuhkan bantuan pemerintah untuk menyediakan makan siang bagi putra-putrinya. Mereka akan sangat senang menyediakan makan siang sendiri.Pemerintah cukup memberikan makan siang gratis untuk keluarga yang tidak mampu. Bahkan jika pemerintah tidak mampu menyediakannya, orang tua siswa yang lain akan bersedia untuk membantu. Jika hal ini dilakukan pemerintah tidak membutuhkan dana yang banyak sehingga tidak perlu menaikan pajak atau menaikan harga minyak. Memberikan makan siang gratis kepada orang yang mampu hanya akan melemahkan kemandirian bangsa.
Oleh Dr. Pajar Hatma Indra Jaya., M.Si.Dosen Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga. (Artikel ini Telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Rubrik Hikmah Ramadan, Kamis 04 April 2024)