Desa dan Pergerakan Ekonomi Baru
Oleh Dr. Abdur Rozaki, M.Si
Pegiat Desa dan Akademisi UIN Sunan Kalijaga
Jika ingin melihat pergerakan desa dari sudut pandang optimisme, maka lihatlah desa-desa di Gunungkidul, salah satu kabupaten yang terdapat di Yogyakarta. Dalam setiap minggu di musim liburan, mobilitas warga dari dalam dan luar Yogyakarta begitu padat merayap menyusuri lokasi desa-desa wisata dengan latar belakang setting alam perbukitan, goa, pantai, seni budaya, ragam artefak dan kuliner lainnya yang membuat para wisatawan betah melepas kepenatan akibat rutinitas kerja.
Satu persatu ikon wisata desa yang dulu hanya dikenal di tingkat lokal, kini terus berkembang popularitasnya di tingkat nasional dan internasional, seperti wisata gunung api purba di desa Nglanggeran, gua pindul di desa Bejiharjo, air terjun srigethuk di desa Bleberan, cave tebing Kalisuci, belum lagi wisata pantai di Baron, Krakal, Indarayanti, Watu Kodok dan lainnya. Kesemua lokasi desa baik dengan karakter alam perbukitan dan pantai menawarkan eksotisme yang unik dan menciptakan sensasi tersendiri bari para pengunjungnya.
Hampir semua destinasi wisata desa ini dapat diakses dengan kendaraan roda dua dan empat dengan kondisi jalan beraspal yang baik sehingga cukup memanjakan perjalanan para wisatawan. Dalam satu hari, wisatawan dapat berkunjung ke lokasi wisata satu dengan yang lainnya, baik dengan karakter alam perbukitan sampai karakter alam pantai.
Gunungkidul yang dulu dipotret hanya sebagai daerah miskin, kini secara perlahan mengalami pergeseran lensa potret, yakni dengan adanya pergerakan desa dalam menumbuh kembangkan ekonomi baru melalui destinasi wisata berbasis asset based yang tumbuh di masyarakat. Seiring dengan makin mekarnya pertumbuhan ekonomi desa wisata ini, maka desa ikini menjadi tumpuan baru sumber penghidupan berkelanjutan, sehingga warga desa tak harus pergi mencari nafkah ke kota. Desa kembali menjadi tempat yang hangat berkumpulnya keluarga dan sanak kerabat lainnya.
Pilihan Model Wisata
Pertumbuhan dan pengembangan pilihan model desa-desa wisata di Gunungkidul yang berbasis ada warga masyarakat melalui kolektivitas desa memiliki ciri khas yang menarik untuk diperhatikan. Pilihan model semacam ini tentu menempuh jalur berbeda dengan kebanyak pengembangan desa wisata di daerah lain yang umumnya berbasis pada kekuatan koorporasi (perusahaan) yang membuat sekat-sekat terpisah dan kerapkali sehingga meminggirkan perekonomian warga.
Gunungkidul berupaya terus mengembangkan wisata desa berbasis kolektvitas kewargaan dengan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, memudarnya egosentrisme di kalangan para elite desa beralih pada kekuatan ide, kreativitas, dan kolektivitas di dalam membangun kesejahteraan bersama. Kedua, adanya konsensus yang semakin kuat untuk melakukan pelembagaan ekonomi yang berkelanjutan. Ketiga, kekuatan untuk selalu bersinergi dengan stakeholders untuk menciptakan mutu yang makin berkualitas di dalam pengembangan desa wisata. Keempat,pemerintah daerah yang semakin pedulu pada pertumbuhan kekuatan ekonomi warga desa, baik melalui pengembangan infrastruktur, penguatan SDM desa dan proteksi kebijakan lainnya yang membuat daya dukung desa semakin baik di dalam mengembangkan sumber penghidupan berkelanjutan.
Dengan pilihan model wisata desa semacam ini, maka spirit desa membangun Indonesia dapat terealisasikan. Desa menjadi bagian dari subyek pembangunan ekonomi warganya. Potensi dan aset desa tak harus lepas dan dikendalikan oleh kekuatan pihak luar desa. Hal ini tentu teladan bijak membangun ekonomi mandiri. ***
Sumber:
http://www.eksotismegunungkidul.com/2018/09/desa-dan-pergerakan-ekonomi-baru.html?m=1&fbclid=IwAR3L1hgkhfgcC3dpMHSD_22xHJCp3QFhT4Wd2e_ereq6b9UKSqN6QLyCrfE