Dekan FDK, Prof. Arif Maftuhin dalam pengarahannya menegaskan bahwa tahun 2026 adalah momentum perubahan administrasi dan target tahunan. Ia menyoroti perubahan sistem penilaian kinerja (SKP) yang akan kembali ke angka kredit dan pentingnya publikasi ilmiah bagi dosen.
“FDK sedang berupaya membedakan diri dari fakultas lain yang masih menilai prestasi berdasarkan jabatan. Mulai tahun ini, prestasi akan diukur melalui Rencana Hasil Kerja (RHK) yang tertuang dalam SK Dekan. Transformasi dari sistem SKP ke DP3 bukan sekadar perubahan istilah, melainkan pergeseran filosofis menuju meritokrasi.” kata Arif Maftuhin.
Selain itu Prof. Arif Maftuhin, menekankan bahwa tahun ini menjadi tonggak dimulainya International Undergraduate Program (IUP) program sarjana pada prodi Manajemen Dakwah dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Program ini dirancang khusus untuk mencetak profesional di bidang Filantropi Islam dan pekerja sosial bertaraf global, sebuah sektor yang kini tengah berkembang pesat di kancah internasional.
Gagasan terbaru Arif Maftuhin untuk menyokong pendidikan berkualitas tersebut, memerlukan pondasi finansial yang mandiri dan berkelanjutan menempuh strategi yang baru dengan meneruskan cita-cita yayasan Indowment Fund (dana abadi) untuk wakaf pendidikan. Dana abadi ini berbasis wakaf untuk keberlanjutan akademik jangka Panjang.
Menangkap tongkat estafet tersebut, Pimpinan fakultas Bidang Akademik turun tangan membedah halauan operasional. Prof. Pajar Hatma Indra jaya, mencanangkan tahun 2026 untuk implementasi Outcome-Based Education (OBE) agar segera menyentuh garis 100 persen. Baginya, lulusan FDK di era modern tak boleh lagi sekadar menenteng lembar ijazah, melainkan harus menggenggam kompetensi yang terukur.
Prof. Pajar Hatma, meyakini dengan sumber daya dosen yang kompeten kualitas pendidikan FDK akan meningkat. “Dari 86 dosen, terdapat 19 orang yang kini tengah berjuang menyelesaikan studi S3—sebuah angka yang menjanjikan peningkatan mutu di masa depan”, kata Pajar.
Prof. Pajar Hatma, memaparkan refleksi akademik yang cukup tajam. Meski rata-rata IPK lulusan mencapai 3,91, ia memberikan "catatan merah" bagi produktivitas publikasi dosen yang masih belum merata di beberapa prodi. Untuk memacu semangat, fakultas menyiapkan skema reward bagi publikasi mahasiswa dan dosen, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp750 ribu untuk artikel yang menembus jurnal Scopus.
Dari sisi manajerial, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Irsyadunnas, melaporkan kesiapan sarana prasarana yang kini lebih inklusif dengan pembangunan toilet difabel di lantai satu.
“Selain itu renovasi ruang-ruang strategis khususnya Pusat Pengembangan Teknologi Dakwah (PPTD) akan difungsikan sebagai laboratorium Bersama untuk semua prodi dengan diupgradenya peralatan dan teknologi komunikasi terkini.” kata Irsyad. Ia juga mencatat ada 18 dosen yang siap naik pangkat pada periode April 2026, sebuah indikator pertumbuhan kualitas SDM.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Muhsin, memastikan bahwa gairah kompetisi mahasiswa tetap terjaga. Dengan alokasi anggaran lebih dari Rp100 juta untuk pengiriman lomba internasional, FDK menargetkan mahasiswa tidak hanya jago di kandang, tapi juga berprestasi di level global.
Dr. Puspita Rani Pertiwi sebagai pembicara kick off meeting menjelaskan OBE bukan lagi sekadar formalitas administratif untuk akreditasi, melainkan alat ukur untuk menjamin mutu dan akuntabilitas pendidikan tinggi. Menurut Puspita alasan menerapkan OBE
capaian pembelajaran lulusan ditentukan pemangku kepentingan/masyarakat profesional sehingga lulusan mendapatkan pendidikan yang lebih relevan untuk kebutuhan industri.
Puspita menlanjutkan alasan penerapan OBE di perguruan tinggi, lebih mudah mengikuti perkembangan terbaru: paradigma industri dan education 4.0 serta perkembangan kebijakan pendidikan nasional seperti SNDIKRI, KKNI dll. Akuntabilitas penyelenggara pendidikan lebih terjamin karena outcame based lebih terukur, akurat, dan handal dan salah satu instrument dasar pada penilaian akreditasi program studi. (kh)