Ruang kuliah Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran
Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pagi itu, Kamis (18/6/2026), mendadak
hening ketika sebuah tayangan analisis media diputar. Di era banjir informasi
digital saat ini, pesan yang lalu lalang di layar gawai kerap kali membawa
serta percikan kekerasan simbolik tanpa disadari oleh para penggunanya. Lanskap
ruang siber yang makin riuh mendorong para akademisi untuk melihat kembali
bagaimana sejatinya manusia saling bertukar sapa di dunia maya secara beradab.
Fenomena inilah yang melatarbelakangi kehadiran Prof. Dr.
Hj. Khusnul Khotimah, M.Ag., Guru Besar dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri
Purwokerto, sebagai dosen tamu di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN
Sunan Kalijaga. Melalui kuliah umum bertajuk "Komunikasi Humanis: Membedah
Kekerasan di Media", ruang akademik tersebut diubah menjadi wadah refleksi
kritis bagi mahasiswa pascasarjana untuk mengurai benang kusut etika digital
kontemporer.
Dalam pemaparannya, Prof. Khusnul mengajak audiens membedah
realitas media menggunakan pisau analisis teoretis, mulai dari analisis framing
Robert N. Entman, semiotika, hingga analisis wacana kritis. Langkah ini krusial
agar calon praktisi dan akademisi komunikasi mampu mendeteksi bias serta muatan
kekerasan tersembunyi dalam sebuah produk jurnalistik maupun konten digital.
Menurutnya, benteng utama dalam menghadapi distorsi informasi tersebut adalah
penanaman rasa kemanusiaan yang mendalam di ruang virtual.
"Kita perlu menumbuhkan digital empathy, yakni sikap
memahami dan peka terhadap perasaan diri sendiri serta orang lain di media
sosial. Ini adalah wujud nyata dari akhlak karimah digital, di mana kita
dituntut memperhatikan tata bahasa dengan hati-hati sebelum membagikan sesuatu,
agar tidak menyakiti perasaan orang lain," tutur Prof. Khusnul dengan
tenang di hadapan para peserta.
Semangat untuk membedah etika komunikasi ini disambut baik
oleh pengelola fakultas. Wakil Dekan Bidang I FDK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Pajar Hatma Indra Jaya, menyampaikan bahwa efektivitas pesan di era digital sangat bergantung
pada bagaimana cara komunikator mengemas keunikan serta kejujuran pesan itu
sendiri. Ia mengingatkan mahasiswa mengenai kompleksitas wacana siber yang
kerap kali dimanipulasi oleh kepentingan tertentu melalui strategi
pembingkaian.
"Dunia hari ini penuh dengan pengetahuan yang sengaja
di-framing. Melalui kajian komunikasi humanis seperti ini, kita belajar melihat
bagaimana pesan dikonstruksi agar masyarakat tidak terjebak dalam arus distorsi
informasi yang menyesatkan," ungkap Pak Pajar saat memberikan sambutan
pembuka kegiatan.
Di sisi lain, dimensi akademik ini juga tidak terlepas dari
upaya memperkuat ekosistem kelembagaan. Ketua Program Studi Magister KPI UIN
Sunan Kalijaga, Pak Rozak, menegaskan bahwa kehadiran dosen tamu lintas kampus
merupakan bagian dari komitmen prodi untuk memperluas jejaring ilmiah sekaligus
menjaga mutu berkelanjutan.
"Kami percaya bahwa kerja sama akademik seperti ini
akan selalu mendatangkan manfaat positif bagi kedua belah pihak. Ini adalah
ikhtiar bersama untuk memperkaya khazanah keilmuan mahasiswa sekaligus
mempertahankan predikat unggul program studi dalam ranah akreditasi," kata
Pak Rozak hangat.
Kuliah dosen tamu yang berlangsung interaktif ini ditutup
dengan sesi dialog dan foto bersama seluruh civitas akademika yang hadir. Di
tengah laju teknologi kecerdasan buatan dan dinamika media sosial yang kian
cepat, diskusi hari itu meninggalkan satu pesan moderat yang mendalam: bahwa
secanggih apa pun medium komunikasi berkembang, aspek kemanusiaan dan kepekaan
rasa harus tetap menjadi jangkar utama dalam setiap pesan yang disiarkan ke
ruang publik.