Dilihat 0 Kali

02_889_IMG_9560.JPG
Pimpinan Fakultas berswafoto dengan mahasiswa baru FDK 2026 di acara PBAK

Kamis, 20 Agustus 2026 12:48:00 WIB

Menempa Nalar Kritis Mahasiswa Baru Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga 2026

Pagi hari yang cerah di halaman parkir Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebanyak 548 mahasiswa baru mengikuti kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tingkat fakultas pada Kamis (20/8/2026). Sejak pagi hari, para peserta berkumpul dengan khidmat untuk memulai tahapan awal perjalanan akademis mereka, sebuah ruang belajar baru yang dirancang tidak sekadar seremonial, tetapi penuh dengan pesan pemikiran kritis.

Kegiatan PBAK hari kedua ini menjadi jembatan penting bagi para mahasiswa baru untuk memahami hakikat dunia perguruan tinggi. Kampus ditekankan bukan sekadar wahana berburu gelar akademis, melainkan ruang untuk melatih kepekaan sosial dan menempa nalar kritis guna menegaskan tiga peran utama mahasiswa: sebagai agent of change, social control, dan iron stock dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul bagi masa depan bangsa.

Setelah lantunan merdu Kalam Ilahi, lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta Hymne UIN Sunan Kalijaga berkumandang khidmat, rangkaian acara berlanjut pada sesi sambutan. Ketua Panitia PBAK FDK, Moh. Akmal Saufik, mengingatkan para mahasiswa baru bahwa menyandang gelar mahasiswa membawa tanggung jawab moral yang nyata.

"Kampus bukan hanya sebagai pabrik untuk mencetak ijazah. Kampus adalah tempat untuk kita berpikir, bersuara, dan bertumbuh," ujar Akmal di hadapan ratusan peserta. Mengutip pemikiran Paulo Freire, ia menekankan pentingnya kepekaan sosial. "Ketika kalian mulai belajar di kampus, jangan hanya belajar membaca buku, tetapi belajarlah membaca keadaan. Baca persoalan-persoalan sekitar kita, membaca kondisi masyarakat, dan membaca perubahan zaman."

Nada kritis dan penuh semangat juga disuarakan oleh Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FDK, Mawadatul Nuril Umami. Ia menyoroti tantangan era transformasi sosial, di mana sebuah video pendek di media sosial kini mampu memengaruhi opini publik secara masif dalam hitungan detik.

"Jangan pernah takut untuk menjadi mahasiswa yang kritis karena bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang hanya hafal untuk menjawab, tetapi generasi ini membutuhkan kalian yang berani mempertanyakan suatu pertanyaan," tegas Nuril dengan lantang. Ia mendorong mahasiswa baru agar menjadikan kampus sebagai ruang berdiskusi, berdialog, dan menentukan keberpihakan berdasarkan dasar ilmiah yang kuat.

Di tengah khidmatnya acara, suasana hangat dan penuh tawa sesekali mencairkan ketegangan berkat kelakar jenaka jajaran pimpinan fakultas. Wakil Dekan III FDK, Dr. Muhsin, S.Ag., M.A., mengajak mahasiswa baru untuk mengembangkan seluruh potensi diri, baik akademik maupun non-akademik.

"Apapun potensi dirimu, kembangkan di Fakultas Dakwah," tutur Muhsin ramah. Menariknya, ia juga menyelipkan imbauan praktis yang sangat krusial bagi mahasiswa baru agar tidak terjebak penipuan beasiswa yang marak di dunia maya. "Maka mulai hari ini yang belum masuk grup WA resmi Fakultas Dakwah mohon semua bisa masuk... karena saya khawatir... akan banyak WA-WA yang mengaku siapa-siapa."

Pesan mendalam mengenai masa depan pendidikan kemudian disampaikan oleh Dekan FDK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Arif Maftuhin, M.Ag., M.A.I.S. Sembari bercanda meminta para mahasiswa menganggap para dosen sebagai orang tua mereka selama merantau di Yogyakarta—"kecuali kalau pas waktu bayar UKT"—Arif memaparkan esensi utama dari peran mahasiswa sebagai iron stock.

Bagi Arif, mendidik generasi muda di perguruan tinggi adalah investasi terbesar bagi masa depan bangsa. "Menyiapkan generasi ke depan itu sebenarnya kepentingan siapa? Ya kepentingan negara ini, kepentingan kita semua," ungkap Arif. Menurutnya, pendidikan harus diletakkan pada tempatnya yang paling mulia. "Harusnya pendidikan itu dipikirkan sebagai cara negara untuk menyiapkan SDM negara itu. Nek SDM-nya bagus, maka negaranya otomatis bagus."

Setelah serangkaian seremoni seperti pemukulan gong, penyematan tanda peserta secara simbolis, dan foto bersama dekan, kegiatan tidak lantas berakhir. Sesuai dengan jadwal acara, para peserta melanjutkan hari dengan sesi materi kelas, Focus Group Discussion (FGD) kelompok di sore hari untuk melatih nalar kritis secara langsung, hingga ditutup secara meriah dengan penampilan organisasi kemahasiswaan dan pameran musik (Expo Band) di halaman parkir belakang