Pagi hari yang cerah di halaman parkir Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebanyak 548 mahasiswa baru mengikuti kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tingkat fakultas pada Kamis (20/8/2026)
Kegiatan PBAK hari kedua ini menjadi jembatan penting bagi para mahasiswa baru untuk memahami hakikat dunia perguruan tinggi
Setelah lantunan merdu Kalam
Ilahi, lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta Hymne UIN Sunan Kalijaga
berkumandang khidmat, rangkaian acara berlanjut pada sesi sambutan. Ketua
Panitia PBAK FDK, Moh. Akmal Saufik, mengingatkan para mahasiswa baru bahwa
menyandang gelar mahasiswa membawa tanggung jawab moral yang nyata.
"Kampus bukan hanya sebagai
pabrik untuk mencetak ijazah. Kampus adalah tempat untuk kita berpikir,
bersuara, dan bertumbuh," ujar Akmal di hadapan ratusan peserta. Mengutip
pemikiran Paulo Freire, ia menekankan pentingnya kepekaan sosial. "Ketika
kalian mulai belajar di kampus, jangan hanya belajar membaca buku, tetapi
belajarlah membaca keadaan. Baca persoalan-persoalan sekitar kita, membaca
kondisi masyarakat, dan membaca perubahan zaman."
Nada kritis dan penuh semangat
juga disuarakan oleh Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FDK, Mawadatul
Nuril Umami. Ia menyoroti tantangan era transformasi sosial, di mana sebuah
video pendek di media sosial kini mampu memengaruhi opini publik secara masif
dalam hitungan detik.
"Jangan pernah takut untuk
menjadi mahasiswa yang kritis karena bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang
hanya hafal untuk menjawab, tetapi generasi ini membutuhkan kalian yang berani
mempertanyakan suatu pertanyaan," tegas Nuril dengan lantang. Ia mendorong
mahasiswa baru agar menjadikan kampus sebagai ruang berdiskusi, berdialog, dan
menentukan keberpihakan berdasarkan dasar ilmiah yang kuat.
Di tengah khidmatnya acara,
suasana hangat dan penuh tawa sesekali mencairkan ketegangan berkat kelakar
jenaka jajaran pimpinan fakultas. Wakil Dekan III FDK, Dr. Muhsin, S.Ag., M.A.,
mengajak mahasiswa baru untuk mengembangkan seluruh potensi diri, baik akademik
maupun non-akademik.
"Apapun potensi dirimu,
kembangkan di Fakultas Dakwah," tutur Muhsin ramah. Menariknya, ia juga
menyelipkan imbauan praktis yang sangat krusial bagi mahasiswa baru agar tidak
terjebak penipuan beasiswa yang marak di dunia maya. "Maka mulai hari ini
yang belum masuk grup WA resmi Fakultas Dakwah mohon semua bisa masuk... karena
saya khawatir... akan banyak WA-WA yang mengaku siapa-siapa."
Pesan mendalam mengenai masa
depan pendidikan kemudian disampaikan oleh Dekan FDK UIN Sunan Kalijaga, Prof.
Dr. Arif Maftuhin, M.Ag., M.A.I.S. Sembari bercanda meminta para mahasiswa
menganggap para dosen sebagai orang tua mereka selama merantau di
Yogyakarta—"kecuali kalau pas waktu bayar UKT"—Arif memaparkan esensi
utama dari peran mahasiswa sebagai iron stock.
Bagi Arif, mendidik generasi muda
di perguruan tinggi adalah investasi terbesar bagi masa depan bangsa. "Menyiapkan
generasi ke depan itu sebenarnya kepentingan siapa? Ya kepentingan negara ini,
kepentingan kita semua," ungkap Arif. Menurutnya, pendidikan harus
diletakkan pada tempatnya yang paling mulia. "Harusnya pendidikan itu
dipikirkan sebagai cara negara untuk menyiapkan SDM negara itu. Nek SDM-nya
bagus, maka negaranya otomatis bagus."
Setelah serangkaian seremoni
seperti pemukulan gong, penyematan tanda peserta secara simbolis, dan foto
bersama dekan, kegiatan tidak lantas berakhir. Sesuai dengan jadwal acara, para
peserta melanjutkan hari dengan sesi materi kelas, Focus Group Discussion (FGD)
kelompok di sore hari untuk melatih nalar kritis secara langsung, hingga
ditutup secara meriah dengan penampilan organisasi kemahasiswaan dan pameran
musik (Expo Band) di halaman parkir belakang