Dilihat 0 Kali

02_108_IMG-20260822-WA0019.jpg
Tim Climate Warrior meraih penghargaan Best Collaboration pada ajang final Green Impact Project 2026

Senin, 24 Agustus 2026 11:53:00 WIB

Climate Warrior Mendapat Best Collaboration Di Final Green Impact Project 2026

Di tangan para pemuda yang tergabung dalam tim Climate Warrior Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, sisa minyak goreng bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomis sekaligus ramah lingkungan. Inisiatif pemberdayaan masyarakat berbasis pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cuci piring ini berhasil mengantarkan tim tersebut meraih penghargaan Best Collaboration pada ajang final Green Impact Project 2026 yang digelar di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Sabtu (22/8/2026).

Mengusung tema Green Campus Sadar Lingkungan: "Be There, Witness the Impact", ajang yang digelar Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Solopos Media Group ini mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada tataran gagasan, melainkan terjun langsung menjawab persoalan lingkungan di tengah masyarakat. Melalui proyek bertajuk Eco Cupir, tim Climate Warrior menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan merangkul ibu-ibu rumah tangga dan komunitas lokal, seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Delima dan di Bantul.

Dalam presentasi proyeknya, Nova, salah satu anggota tim pelaksana, memaparkan kegelisahan mendalam di balik lahirnya Eco Cupir. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, pertumbuhan kota pendidikan dan kuliner yang pesat menyisakan ancaman pencemaran air yang nyata. Dari perkiraan 2,7 juta hingga 14 juta kiloliter minyak jelantah rumah tangga yang dihasilkan per tahun, sekitar 80,52 persen diperkirakan terlepas ke alam begitu saja tanpa pengolahan awal. Sungai-sungai vital seperti Code, Winongo, dan Gajah Wong pun turut menanggung beban berat dari limbah ini.

"Intervensi di tingkat sumber dapat memutus jalur pencemaran sebelum limbah mencapai sungai," tutur Nova, merujuk pada prinsip kerja Eco Cupir yang fokus mencegah kerusakan lingkungan dari hulu. Melalui pemurnian menggunakan bleaching earth, tim ini membuktikan bahwa beban limbah dapat dipulihkan menjadi sabun cuci piring yang aman, ekonomis, dan ramah lingkungan.

Dosen pembimbing tim Climate Warrior, Siti Aminah, menyampaikan rasa bangganya atas konsistensi anak-anak asuhannya dalam melakukan pendampingan langsung di lapangan. Bagi Siti, proyek ini tidak hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana menggerakkan roda pemberdayaan perempuan secara nyata.

"Untuk penampilan teman-teman Climate Warrior di UNS ini, mereka mampu menampilkan apa yang mereka lakukan di lapangan dalam pendampingan perempuan atau pemberdayaan perempuan, dengan melihat limbah yang selama ini diabaikan tetapi menjadi nilai yang sangat edukatif. Kemudian menghasilkan (produk) produktif dan juga ramah lingkungan," ujar Siti Aminah.

Aminah menambahkan bahwa kerja sama tim saat presentasi sangat solid, di mana para presenter berbagi tugas dengan matang mulai dari membuka paparan, membagikan sampel produk, hingga menjawab pertanyaan juri dengan taktis. Selain itu dukungan dari Pimpinan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan LPPM melalui Tim SDGs UIN Sunan Kalijaga turut mewarnai keberhasilan prestasi yang dicapai selama ini."Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan kampus UIN Sunan Kalijaga dalam kegiatan ini" tutup Aminah.

Upaya kolaboratif ini terbukti bukan sekadar konsep di atas kertas. Sejak Juli hingga Agustus 2026, tim Climate Warrior aktif mendampingi warga di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Delima dan Paguyuban Kalimaya di Bantul, Yogyakarta. Melalui pendekatan learning by doing, sebanyak 105 partisipan diajak langsung mempraktikkan pengolahan limbah. Dari proses ini, sekitar 40 liter minyak jelantah berhasil diselamatkan dari pembuangan liar dan dikonversi menjadi sekitar 400 wadah sabun siap pakai.


Ketua Climate Warrior, Rafi Rahmad F, mengaku terkesan dengan atmosfer kompetisi dan kualitas ide yang dihadirkan oleh tim finalis lainnya. "Kesannya ternyata acaranya sangat luar biasa ya. Bahkan dihadiri oleh beberapa juri yang luar biasa juga. Di luar ekspektasi saya, kualitas finalis yang ikut sangatlah baik," tutur Rafi usai menerima penghargaan.

Bagi Rafi, penghargaan Best Collaboration ini adalah pemantik untuk melangkah lebih jauh. "Pesan untuk teman-teman Climate Warrior yang lain, impian kita tidak hanya di sini. Kita masih mempunyai banyak impian di luar itu. Kami yakin dengan adanya proses-proses yang lebih lanjut lagi, kita dapat memperbaikinya atau bahkan hingga mempunyai tujuan yang lebih maksimal lagi," ucapnya setelah ikut presentasi di ajang pemuda tingkat nasional tersebut.(prfdk)