Dilihat 0 Kali

02_824_Gemini_Generated_Image_tmyjrdtmyjrdtmyj.png
Gambar Ilustrasi Mencegah Buta Hurup Al Qur’an

Senin, 09 Maret 2026 09:26:00 WIB

Mencegah Buta Hurup Al Qur’an

Ramadan dikenal sebagai bulan turunnya al Qur’an dan dijadikan sebagai momentum penguatan moral dan cahaya Islam di tengah masyarakat. Berbagai pesan dakwah disampaikan tentang keutamaan al Qur’an, mulai dari menghiasi  rumah dengan bacaan al Qur’an, hingga menguatkan budaya baca al Qur’an di bulan Ramadan. Umat Islam  dengan penuh suka cita menghidupkan kesyahduan Ramadan dengan  tadarus al Qur’an di rumah, di masjid, di musholla, di kantor hingga melalui grup media sosial. Bagi yang rajin membaca al Qur’an di bulan Ramadan ada yang khatam 30 juz beberapa kali. Namun ada juga  sebagian umat Islam menjadikan al Qur’an sebagai “jimat” yang hanya dipajang di rumah tapi jarang dibaca.

Quraish Shihab dalam buku “Membumikan al Qur’an” (2015) menjelaskan ada tiga kelompok budaya masyarakat dalam menyikapi al Qur’an. Pertama, masyarakat yang menjadikan al Qur’an sebagai pedoman hidup (dibaca, dipahami maknanya dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari). Kedua, masyarakat yang baru sebatas membaca al Qur’an, belum memahami maknanya dan belum konsisten mengamalkan isinya. Ketiga, masyarakat yang meyakini al Qur’an itu mulia, tapi jarang dibaca dan hanya dijadikan jimat dan pajangan  di rumah.   

 Sejatinya al Qur’an sebagi kitab suci umat Islam harus dibumikan dalam kehidupan sehari-hari. Membumikan al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari akan membuat umat Islam memiliki akhlak yang luhur, menghargai perbedaan, mencegah kejahatan, mencegah kemiskinan, hingga mewujudkan kerukunan di tengah Masyarakat. Ketika realitas yang terjadi di masyarakat masih banyak praktik kejahatan, mulai dari korupsi, ujaran kebencian, fitnah hingga penindasan yang kuat pada yang lemah, menunjukkan cahaya al Qur’an masih jauh dari kehidupan umat.

Redupnya cahaya al Qur’an dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya karena al Qur’an jarang dibaca, namun karena umat Islam sendiri semakin banyak yang buta hurup al Qur’an.   Dari hasil riset Kementerian Agama tahun 2023, disebutkan  ada 30 % remaja muslim dan 18 % umat Islam yang sudah dewasa di pedesaan Indonesia yang buta hurup al Qur’an.  Data ini menunjukkan  semakin banyak umat Islam yang buta hurup al Qur’an. Karena data Kementerian Agama tahun 2013 tentang buta hurup al Qur’an di pedesaan Indonesia (15 %  remaja muslim dan 10 % umat Islam yang sudah dewasa). Kondisi buta hurup al Qur’an yang menimpa umat Islam di pedesaan   tentu sangat memprihatnkan. Salah satu kebijakan  yang dibuat pemerintah (Kementerian Agama) dalam mencegah buta hurup al Qur’an, dengan membuat gerakan mengaji setelah sholat maghrib.   

Gerakan mengaji setelah sholat maghrib awalnya cukup efktif bagi kaum remaja. Namun dalam perkembangan berikutnya karena kuatnya godaan kenakalan remaja dan juga pengaruh media sosial, membuat remaja semakin sedikit yang aktif mengikuti pengajian.  Potret kenakalan remaja yang terjadi saat ini disebabkan oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah memudarnya nilai-nilai moral akibat kedangkalan pendidikan agama. Internalisasi nilai-nilai agama ditanamkan sejak usia muda baik melalui pendidikan agama dalam keluarga, pendidikan agama di sekolah, hingga melalui budaya membaca Al-Qur'an di masjid/musholla setelah maghrib. Namun, di tengah terpaan media internet yang semakin kuat saat ini, remaja semakin jauh dari budaya religius seperti tradisi membaca al Qur’an. Melihat fenomena tersebut, gerakan dakwah harus hadir dalam upaya penguatan akhlak remaja. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaktifkan kembali kegiatan pengajian al-Qur'an setelah maghrib. Pada gilirannya, remaja tidak terjebak dalam krisis moral yang semakin memprihatinkan.

Memudarnya nilai-nilai budaya, nilai-nilai moral yang dialami oleh remaja, ketika kehadiran media internet tidak terkendali dengan baik. Ada sisi positif dan negatif dari media internet jika digunakan dengan baik oleh pengguna media. Sisi positif dari internet dapat digunakan untuk mengakses berbagai informasi ilmiah. Namun di sisi lain, aspek negatif media internet muncul ketika digunakan untuk mengakses konten negatif seperti situs pornografi dan berbagai konten yang merusak psikologi pengguna.

Fenomena degradasi moral yang dialami oleh remaja membutuhkan teks-teks agama atau dakwah untuk memberikan pencerahan. Pesan dakwah yang efektif kepada remaja tidak hanya dari guru di sekolah atau juru dakwah di masyarakat. Padahal, dalam membina akhlak remaja, lebih efektif dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Ibu dan ayah harus berada di rumah membimbing dan mengawasi anak-anaknya, sehingga anak-anak berkembang dengan moral yang baik dan menjadi bagian penting dari ketahanan keluarga (Daradjat, 1995).

Saat ini, banyak kaum remaja di desa dan di kota yang buta huruf Al-Qur'an karena pengaruh internet. Mereka seolah-olah diperbudak oleh media internet, sehingga membuat tradisi membaca al-Qur'an yang ada selama ini di masjid dan mushalla diabaikan. Sejak hadirnya media internet yang begitu kuat mempengaruhi kehidupan remaja telah menimbulkan  dampak negatif yang memprihatinkan bagi kaum remaja. Media internet seharusnya netral, tetapi sering disalahgunakan oleh kaum remaja dalam aspek negatif, sehingga membuat krisis moral dari waktu ke waktu semakin mengkhawatirkan.

(Oleh Dr. Hamdan Daulay, M.Si. M.A., Dosen Magister KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, artikel ini telah terbit di SKH Kedaulatan Rakyat Sabtu,7 Maret 2026 ).