Suasana hangat penuh
kekeluargaan menyelimuti ruang Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK)
UIN Sunan Kalijaga pada Kamis, 2 April 2026, tatkala jajaran pimpinan, dosen,
pegawai, hingga para purnatugas berkumpul merayakan Syawalan.
Acara ini menjadi bukan
sekadar rutinitas pasca-Ramadan, melainkan wadah pembinaan spiritual yang
menggugah jiwa. Dekan FDK, Prof. Dr. Arif Maftuhin, dalam sambutannya
menegaskan pentingnya momentum syawalan ini sebagai titik balik penguatan
ikatan kekeluargaan antar-pegawai. “Semoga acara ini bisa bermanfaat untuk kita
semua”, kata Arif.
Pusat perhatian acara syawalan
tertuju pada Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag, sebagai pembicara yang menyampaikan
perspektif filosofis tentang permaafan yang jauh dari sekadar kata
"kosong-kosong". Menurut Fahruddin Faiz mengutip "rumus"
legendaris Kanjeng Sunan Kalijaga: Lebaran, Leburan, Laburan, dan Luberan.
Ia menjelaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar tuntasnya kewajiban (lebaran),
melainkan proses meleburnya dosa (leburan) yang kemudian harus diisi dengan
amal putih (laburan) dan semangat berbagi kebahagiaan kepada sesama (luberan).
“Jadi Idul Fitri itu bukan
babak final. Tapi Idul Fitri itu titik awal kita mulai start melakukan kebaikan
selanjutnya karena sudah bersih. Kenapa sih harus bersih dulu? Yo, karena kalau
kita belum bersih, melakukan kebaikan apapun itu bisa terkontaminasi oleh diri
kita yang belum bersih. Kalau wadahnya kotor diisi dengan air sejernih apapun
yo keluarnya air kotor. Maka Sunan Kalijago menyebut leburan dulu baru laburan.”
Tutur Faiz.
Lebih lanjut menukil perkataan
Gus Dur "Memaafkan itu tidak sama dengan melupakan," ujar Faiz di
hadapan para dosen dan staf. Mengutip pemikiran Hannah Arendt, ia mengingatkan
bahwa memaafkan adalah tindakan jiwa yang kuat—sebuah self-mastery—yang
tidak serta-merta menghapus tuntutan keadilan atau mengharuskan rekonsiliasi
instan more_horiz. Pesan ini menjadi sangat relevan dalam konteks
profesionalisme kerja, di mana kesalahan manusiawi bisa dimaafkan, namun
tanggung jawab dan kualitas kerja tetap harus ditegakkan.
Sisi humanis acara semakin
kental saat memasuki prosesi pelepasan pegawai yang akan menunaikan ibadah
haji. Momen ini menjadi manifestasi nyata dari semangat luberan—berbagi
doa dan dukungan bagi kolega yang akan berangkat ke tanah suci. Keharuan
menyelimuti ruangan saat seluruh hadirin memberikan penghormatan bagi Dr.
Irsyadunnas, M.Ag dan istri mendapat panggilan spiritual tersebut.
Fahrudin Faiz menekankan
pentingnya syawalan karena kita memerlukan orang lain karena kita lemah. Beliau
menyadarkan bahwa ibadah puasa telah membuktikan kerentanan manusia tanpa
pertolongan sesama, sehingga tradisi halalbihalal ini menjadi ruang pelepasan
ego demi menciptakan kolaborasi dan kerja yang lebih produktif.
Puncak keakraban tergambar nyata di penghujung acara, di mana seluruh peserta tanpa sekat hierarki saling berjabat tangan, melebur kesalahan masa lalu, dan mengukir senyum keikhlasan. Perjumpaan emosional antara pegawai aktif dan purnatugas di ruangan tersebut menjadi bukti otentik bahwa dedikasi serta persaudaraan sejati tak pernah lekang oleh batas masa jabatan.(Kh)