Dilihat 0 Kali

02_446_model kolase (10).png
Kegiatan Eco Trip #1 diinisiasi oleh Climate Warriors bekerjasama dengan DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Rabu, 03 Juni 2026 14:39:00 WIB

Meniti Jejak Sampah Menjadi Energi Terbarukan di Tepian Sleman

Bau masam yang sesekali tertiup angin tidak menyurutkan langkah puluhan mahasiswa untuk mendekati deretan mesin blower besar di Kapanewon Minggir, Sleman, Rabu (3/6/2026). Di bawah naungan atap hanggar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sendangsari, mereka tidak sedang sekadar berkunjung, melainkan menyaksikan bagaimana sisa konsumsi warga Sleman bertransformasi menjadi butiran energi yang bernilai ekonomi,.

Kegiatan bertajuk "Eco Trip #1" ini diinisiasi oleh Climate Warriors bekerjasama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menghadirkan suasana fun dan edukatif, para peserta diajak menilik langsung dapur teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang menjadi tumpuan Kabupaten Sleman dalam menangani tumpukan sampah yang mencapai 300 ton per hari,.

Di tengah deru mesin, Pak Budi, salah satu pengelola TPST, dengan sabar menjelaskan alur kerja dari hulu ke hilir. Sampah yang masuk ditimbang, lalu dipilah melalui empat jalur conveyor untuk memisahkan material seperti besi atau botol kaca yang tidak bisa digiling. "Kadang dari sampah rumah tangga itu masuk benda tak terduga, seperti tulang sapi atau kambing sisa kurban yang ikut terbawa ke sini," ujar Budi sambil menunjukkan proses penggilingan yang menghasilkan keluaran organik dan anorganik.

Teknologi yang diterapkan di Sendangsari ini merupakan hasil pencarian panjang. Pak Kris, pengelola TPST lainnya, menceritakan bahwa timnya sempat berkeliling untuk mencari model pengelolaan terbaik. "Kami cari referensi sampai ke Bali, Bandung, hingga Surabaya, sebelum akhirnya menemukan sistem yang cocok di Sidoarjo untuk diaplikasikan di Sleman," ungkap Kris. Sampah organik yang telah dipilah kemudian dikeringkan menggunakan mesin drying dengan suhu tinggi agar bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif,.

Pengalaman melihat langsung rantai pemrosesan ini memberikan perspektif baru bagi peserta seperti Hafiz Izudin, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), perjalanan ini membuka mata tentang sisi lain pengelolaan limbah. Ia menyoroti bagaimana air limbah hasil olahan ternyata tidak dibuang percuma. "Saya belajar bagaimana sampah diolah menjadi bahan bakar untuk dikirim ke Cilacap. Menariknya, air limbahnya pun bisa digunakan petani sekitar untuk menyuburkan tanah," kata Hafiz.

Meski memberikan wawasan baru, kegiatan ini juga menjadi catatan bagi penyelenggara. Sumaya Alwafiah, peserta dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, mengapresiasi materi yang didapat namun memberikan masukan terkait teknis pelaksanaan. "Saya senang bisa mendapatkan ilmu baru tentang pengolahan sampah, meski mungkin ke depannya acara bisa lebih tepat waktu lagi agar lebih maksimal," tuturnya.

TPST Sendangsari saat ini mampu mengolah 20 hingga 25 ton sampah per hari, meski kapasitasnya bisa ditingkatkan hingga 60 ton jika kesadaran warga dalam memilah sampah dari rumah semakin membaik. Sampah anorganik yang dihasilkan kini rutin dikirim ke pabrik semen di Cilacap sebagai pengganti batu bara,.

Sebelumya, Ketua DEMA FDK UIN Sunan Kalijaga, Mawadatul Nuril, mengingatkan bahwa edukasi lapangan ini hanyalah sebuah permulaan. "Ini adalah titik awal kita untuk menjadi agent of change. Langkah kita tidak boleh berhenti di sini, tapi harus berkelanjutan dalam menjaga lingkungan," pungkasnya.

Hal senada di sampaikan oleh Ketua Climate Warriors FDK UIN Sunan Kalijaga Rafi Rahmad F,
kita sebagai mahasiswa sudah sepatutnya peduli terhadap lingkungan. Akan tetapi, peduli saja tanpa ada gerakan yang nyata itu terasa kurang. Pada saat ini, salah satu gerakan nyata yang dapat kita lakukan adalah dengan mencari ilmu serta memahami regulasi dan teknis terkait pengelolaan sampah.

“Saya berhaarp, setelah pulang dari kegiatan ini, kita tidak hanya membawa pulang teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan gaya hidup minim sampah (zero waste) di lingkungan kampus maupun tempat tinggal kita masing-masing, serta menjadi pelopor perubahan bagi masyarakat luas.” kata Rafi.

Melalui narasi dari balik hanggar Sendangsari, para anak muda ini pulang membawa pesan sederhana: sampah bukan lagi sekadar sisa, melainkan sumber daya yang menunggu untuk dimanfaatkan Kembali.