Bau masam yang sesekali tertiup
angin tidak menyurutkan langkah puluhan mahasiswa untuk mendekati deretan mesin
blower besar di Kapanewon Minggir, Sleman, Rabu (3/6/2026). Di bawah naungan
atap hanggar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sendangsari, mereka tidak
sedang sekadar berkunjung, melainkan menyaksikan bagaimana sisa konsumsi warga
Sleman bertransformasi menjadi butiran energi yang bernilai ekonomi,.
Kegiatan bertajuk "Eco Trip
#1" ini diinisiasi oleh Climate Warriors bekerjasama dengan Dewan
Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Menghadirkan suasana fun dan edukatif, para peserta diajak menilik
langsung dapur teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang menjadi tumpuan
Kabupaten Sleman dalam menangani tumpukan sampah yang mencapai 300 ton per
hari,.
Di tengah deru mesin, Pak Budi,
salah satu pengelola TPST, dengan sabar menjelaskan alur kerja dari hulu ke
hilir. Sampah yang masuk ditimbang, lalu dipilah melalui empat jalur conveyor
untuk memisahkan material seperti besi atau botol kaca yang tidak bisa
digiling. "Kadang dari sampah rumah tangga itu masuk benda tak terduga,
seperti tulang sapi atau kambing sisa kurban yang ikut terbawa ke sini,"
ujar Budi sambil menunjukkan proses penggilingan yang menghasilkan keluaran
organik dan anorganik.
Teknologi yang diterapkan di
Sendangsari ini merupakan hasil pencarian panjang. Pak Kris, pengelola TPST lainnya,
menceritakan bahwa timnya sempat berkeliling untuk mencari model pengelolaan
terbaik. "Kami cari referensi sampai ke Bali, Bandung, hingga Surabaya,
sebelum akhirnya menemukan sistem yang cocok di Sidoarjo untuk diaplikasikan di
Sleman," ungkap Kris. Sampah organik yang telah dipilah kemudian
dikeringkan menggunakan mesin drying dengan suhu tinggi agar bisa diolah
menjadi bahan bakar alternatif,.
Pengalaman melihat langsung rantai pemrosesan ini memberikan perspektif baru bagi peserta seperti Hafiz
Izudin, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), perjalanan ini membuka mata
tentang sisi lain pengelolaan limbah. Ia menyoroti bagaimana air limbah hasil
olahan ternyata tidak dibuang percuma. "Saya belajar bagaimana sampah
diolah menjadi bahan bakar untuk dikirim ke Cilacap. Menariknya, air limbahnya
pun bisa digunakan petani sekitar untuk menyuburkan tanah," kata Hafiz.
Meski memberikan wawasan baru, kegiatan
ini juga menjadi catatan bagi penyelenggara. Sumaya Alwafiah, peserta dari
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, mengapresiasi materi yang
didapat namun memberikan masukan terkait teknis pelaksanaan. "Saya senang
bisa mendapatkan ilmu baru tentang pengolahan sampah, meski mungkin ke depannya
acara bisa lebih tepat waktu lagi agar lebih maksimal," tuturnya.
TPST Sendangsari saat ini mampu
mengolah 20 hingga 25 ton sampah per hari, meski kapasitasnya bisa ditingkatkan
hingga 60 ton jika kesadaran warga dalam memilah sampah dari rumah semakin
membaik. Sampah anorganik yang dihasilkan kini rutin dikirim ke pabrik semen di
Cilacap sebagai pengganti batu bara,.
Sebelumya, Ketua DEMA FDK UIN
Sunan Kalijaga, Mawadatul Nuril, mengingatkan bahwa edukasi lapangan ini
hanyalah sebuah permulaan. "Ini adalah titik awal kita untuk menjadi agent
of change. Langkah kita tidak boleh berhenti di sini, tapi harus
berkelanjutan dalam menjaga lingkungan," pungkasnya.
Hal senada di sampaikan oleh
Ketua Climate Warriors FDK UIN Sunan Kalijaga Rafi Rahmad F,
kita sebagai mahasiswa sudah sepatutnya peduli terhadap lingkungan. Akan
tetapi, peduli saja tanpa ada gerakan yang nyata itu terasa kurang. Pada saat
ini, salah satu gerakan nyata yang dapat kita lakukan adalah dengan mencari
ilmu serta memahami regulasi dan teknis terkait pengelolaan sampah.
“Saya berhaarp, setelah pulang
dari kegiatan ini, kita tidak hanya membawa pulang teori, tetapi juga mampu
mengimplementasikan gaya hidup minim sampah (zero waste) di lingkungan kampus
maupun tempat tinggal kita masing-masing, serta menjadi pelopor perubahan bagi
masyarakat luas.” kata Rafi.
Melalui narasi dari balik hanggar Sendangsari, para anak muda ini pulang membawa pesan sederhana: sampah bukan lagi sekadar sisa, melainkan sumber daya yang menunggu untuk dimanfaatkan Kembali.